Keahlian mengutakatik motor menjadi modal utama bagi Fajar Syamsudin memulai bisnis jual beli motor klasik. Berseang tiga tahun, sekitar 100 unit motor lawas sudah berhasil dia jual.
LUDRY PRAYOGA, Gresik
DI showroom motor klasik yang berlokasi di Jalan Banjarsari–Suci, Manyar, Honda Astra 90 menjadi primadonanya. Sepeda motor keluaran 1969 itu terlihat kinclong dan masih sangat terawat.
Pada eranya, motor 4 tak tersebut merupakan kuda besi pertama buatan Jepang. Saat berkunjung ke Indonesia pada 2017, pembalap Moto GP Marc Marquez sempat berfoto dengan motor Honda Astra 90. Saat ini, di tengah gempuran motor matik, sudah sangat jarang menemui pengguna motor itu.
Kecuali para penghobi motor klasik yang masih setia memakainya. Bintang kedua yang ada di showroom itu adalah Suzuki FR 80. Dibuat pada 1973. Mesinnya 2 tak. Pada masanya, motor bebek tersebut bersaing ketat dengan Yamaha V80 dan Honda Super Cup C70.
“Banyak yang hendak membeli, namun harganya masih belum cocok,’’ ucap Fajar Syamsudin, pemilik diler Gresik Motor Jadul.
Fajar telah menjual ratusan motor lawas ke berbagai daerah. Bisnis itu baru dimulai sejak tiga tahun terakhir, terhitung sejak 2020. Dulu dia karyawan kafe yang di-PHK karena pandemi Covid-19. “Omzet kafe turun. Akhirnya, saya diberhentikan,’’ kenangnya.
Awalnya memang berat. Sebab, Fajar harus membiayai istri dan tiga anaknya. Uang tabungan kian menipis. Namun, dapur harus tetap mengepul. Pada saat kepepet, Fajar mendapatkan ide setelah melihat motor Honda Astrea Legenda milik mertuanya. Motor itu tidak terawat karena jarang dipakai.
“Saya izin mertua merestorasi motor lama, niatnya untuk dijual lagi. Alhamdulillah dapat izin,’’ paparnya.
Berbekal hobi utak-atik motor saat masih sekolah dulu, perlahan sepeda motor itu direstorasi. Bodi yang sudah rapuh diganti sesuai aslinya. Mesin diservis. Berselang satu bulan, motor Honda Astrea Legenda milik mertuanya kembali baru. “Ternyata, ada yang nawar. Harganya lumayan,’’ ujarnya, disusul tawa.
Sejak saat itulah tekadnya untuk berbisnis motor jadul kian kuat. Pelan namun pasti, Fajar mulai membeli motor tua, membenahinya, dan mendapatkan untung dari penjualan motor tersebut. Hingga dia memberanikan diri mendirikan showroom. Saat ini motor yang laku terjual diperkirakan mencapai 100 unit lebih.
“Mayoritas peminat justru dari wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Alhamdulillah, pesanan terus naik,’’ bebernya.
Banyaknya pembeli itu tidak terlepas dari pelayanan yang diberikan Fajar. Setiap hendak menjual motor, dia selalu memastikan kondisi kendaraan tersebut berfungsi dengan baik. “Paling sering trouble justru kelistrikan. Maklum, kabel-kabelnya sudah lapuk termakan usia,’’ jelasnya.
Perawatan, lanjut dia, tidak jauh berbeda dengan motor lainnya. Yakni, rutin melakukan servis berkala dan mengganti oli mesin. (*/c6/aph/jpg)


