TINGGINYA harga tiket penerbangan untuk semua tujuan dari dan ke Tarakan, hal itupun dikeluhkan. Meskipun pemerintah sudah melonggarkan syarat penerbangan.
Wali Kota Tarakan Khairul menuturkan, inflasi di Tarakan paling tinggi diakibatkan oleh transportasi. Sedangkan dari supply bahan makanan dan lainnya tidak terlalu berpengaruh. “Selalu yang menjadi problem dari transportasi, khususnya angkutan udara,” katanya, Selasa (5/4).
Saat ini maskapai penerbangan yang ada di Bandara Juwata Tarakan dari Lion Group, yaitu Lion Air dan Batik Air, yang mendominasi ke semua tujuan. Harga tiket, dikutip dari salah satu situs penjualan tiket online berkisar Rp 1,1 juta. Untuk penerbangan Tarakan-Balikpapan dan Rp 1,4 juta penerbangan Tarakan-Makassar maupun sebaliknya pada 5 April.
“Dengan harga ini, tentu akan berpengaruh terhadap inflasi. Supaya menekan harga, harus ada maskapai penerbangan baru masuk, supaya ada kompetisi. Memang ini hukum dagang, lebih banyak supply pasti harga akan naik,” ungkapnya.
Mengantisipasi kenaikan inflasi ini, pihaknya sudah beberapa kali bersurat ke sejumlah maskapai penerbangan. Diantaranya Citilink dan Air Asia, agar bisa masuk ke Tarakan. Namun, kembali lagi kepada hukum dagang. Keduanya masih akan melihat potensi keuntungan, untuk melayani penerbangan dari dan ke Tarakan bisa lebih tinggi dari biaya yang akan dikeluarkan.
“Kan tidak dibawah kewenangan pemerintah. Kami hanya mengusulkan, termasuk Garuda. Mereka ini ada persaingan bisnis. Tapi, harapan kami ke depannya bisa ada tambahan maskapai, supaya kompetisinya bisa lebih baik,” harapnya.
Terpisah, Sekretaris Kota (Sekkot) Tarakan Hamid Amren menambahkan, menjelang Idul Fitri diperkirakan jumlah penumpang akan naik. Ditambah lagi mudik sudah diizinkan. Sehingga kemungkinan besar, jika tidak ada maskapai baru yang masuk. Maka harga tiket akan dijual dengan batas tertinggi.
“Misalnya sudah masuk peak seasons, tetapi transportasi terbatas. Harga relatif mahal, walaupun masih dalam batas yang ditolerir pemerintah. Tapi, kalau ke Balikpapan sampai Rp 1,5 juta itu sudah terbilang mahal. Dulu orang bisa beli dengan harga Rp 300 ribu sampai Rp 600 ribu. Untuk penerbangan ke Jakarta juga hanya satu maskapai penerbangan,” singkatnya.
Sementara itu, Kepala Bandara Juwata Tarakan Agus Priyanto belum lama ini mengatakan, harga tiket pesawat saat ini masih belum melewati ambang batas. Yang diatur dalam Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun 2019, tentang tata cara dan formulasi perhitungan batas atas penumpang pelayanan kelas ekonomi, angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri.
Kementerian Perhubungan juga merilis turunannya dalam bentuk Keputusan Menteri Perhubungan No. 72 Tahun 2019, tentang tarif batas atas penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara berjadwal dalam negeri.
“Sampai sekarang belum ada laporan, berarti tidak ada pelanggaran. Padahal bisa dicabut izin rutenya. Kalau hanya mengeluarkan statement harga mahal tanpa bukti, untuk kelas ekonomi tak bisa ditindaklanjuti. Tapi, kalau kelas bisnis, biasanya mahal. Aturan yang dibuat Kementerian Perhubungan itu kelas ekonomi dengan ambang batas,” bebernya.
Sejumlah maskapai telah disurati Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang. Bahkan, pihak bandara di Kaltara pun menyurati agar bisa mendatangkan sejumlah maskapai. Hal itu dipengaruhi oleh inflasi dan volume penumpang transportasi udara yang bertambah.
Kepala Bidang Pengembangan Transportasi, Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltara Andi Nasuha mengungkapkan, rencananya akan ada beberapa maskapai yang akan membuka rute penerbangan di provinsi termuda ini. Pemprov Kaltara masih melakukan survei, agar armada tersebut segera terbuka.
“Dalam waktu dekat akan dilakukan peninjauan ke lapangan. Kita berharapnya sejumlah maskapai dapat segera membuka rute ke Kaltara, khususnya ke Tarakan dan Tanjung Selor,” terangnya, Selasa (5/4).
Upaya tersebut dilakukan karena melihat sektor perhubungan menjadi salah satu penyumbang inflasi ekonomi di Kaltara. Gubernur Kaltara, kata dia, langsung berinisiasi mengundang sejumlah maskapai, untuk masuk ke wilayah Kaltara. Sehingga dengan lancarnya penerbangan ke Kaltara, inflasi secara perlahan dapat ditekan.
Apalagi, saat ini Kaltara tengah menjadi magnet para investor. Di mana sejumlah proyek nasional bakal digarap di provinsi ke 34 ini. “Ini akan menjadi salah satu faktor harus ada maskapai lain di Kaltara. Sebab adanya Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) serta kesiapan lumbung pangan sebagai daerah penyangga Ibu Kota Negara (IKN),” ujarnya.
Ia menilai, dibukanya rute baru otomatis dapat membantu memudahkan layanan terhadap masyarakat yang akan berurusan di Kaltara. “Jika sejumlah maskapai sudah membuka rute baru, tentunya akan berdampak bagi perekonomian di Kaltara,” ujarnya.
Di sisi lain, masyarakat menginginkan adanya maskapai lain. Agar harga tiket bisa bersaing dan masyarakat memiliki banyak pilihan. (kn-2)


