Sunday, 26 April, 2026

Gibran Rakabuming Raka Main Bola Bersama Empat Kepala Daerah di Surabaya 729 Game

Tampil satu babak, Gibran Rakabuming Raka lima kali mendapat sodoran bola dan salah satu umpannya nyaris membuahkan gol. Wali kota Solo itu menyebut Gelora Bung Tomo dan Stadion Manahan sama-sama siap jadi venue Piala Dunia U-20.

 FARID S. MAULANASurabaya

SETELAH berjalan keluar dari lorong Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Gibran Rakabuming Raka langsung berlari-lari kecil. Wali kota Solo yang mengenakan sepatu warna merah itu lalu melakukan pemanasan, bersiap memulai pertandingan ekshibisi melawan Bonek Squad.

Begitu juga ketika anak sulung Presiden Joko Widodo tersebut berkeliling menyapa suporter Persebaya Surabaya dan Persis Solo yang memadati 75 persen kapasitas Stadion GBT Minggu lalu (22/5). Sesekali pemakai nomor punggung 7 itu berlari-lari kecil. Melakukan peregangan.

Ketika berkumpul dengan rekan-rekan setimnya di Tim Pemkot Eksekutif, dia begitu serius mendengarkan apa yang dikatakan sang kapten, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Mantuk-mantuk (mengangguk-angguk). Sesekali ikut berbicara, membantu menyemangati.

Di tim tersebut, selain Gibran dan Eri, ada tiga kepala daerah lainnya yang ikut bermain. Mereka adalah Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Bupati Bangkalan R. Abdul Latif Amin Imron, dan Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin.

Ketika wasit meniup peluit tanda dimulainya laga Legend Game, yang dihelat sebelum uji coba Persebaya versus Persis bertajuk Surabaya 729 Game, Gibran tampak paling antusias. Dia langsung berlari, mencari tempat kosong di sebelah kanan pertahanan lawan. Minta diberi bola dengan mengangkat tangan.

Karena tidak ada umpan jatuh ke daerahnya, layaknya penyerang yang punya naluri gol tajam, Gibran berpindah posisi menjadi penyerang lubang. Di posisi itulah Gibran akhirnya mendapat bola.

Tercatat lima kali dirinya mendapatkan bola. Pergerakannya juga cukup membahayakan tim lawan yang dipimpin oleh Mat Halil. Malah dia sempat dilanggar cukup keras pada menit ke-9.

Pria 35 tahun itu pun sempat membuat satu assist yang hampir membuahkan gol. Tapi, setelah itu, dia banyak lari-lari kecil. Membuka lini pertahanan lawan melalui pergerakan tanpa bola.

Mungkin karena kelelahan, dia pun tidak ”segarang” di awal-awal pertandingan. Tapi, tim yang dia bela akhirnya menang 3-0. Dua dari tiga gol kemenangan tersebut diborong Eri Cahyadi. Satu pembobol gawang lainnya adalah Plt Kepala BPBD Surabaya Ridwan Mubarun.

Saking lelahnya, ketika peluit akhir babak pertama yang berlangsung 15 menit dibunyikan, Gibran langsung tergeletak di tengah lapangan. Ngos-ngosan. “Woh capek,” katanya sambil keluar dari lapangan.

Dia pun langsung disambut Presiden Persebaya Azrul Ananda. Gibran juga mengajak Azrul menuju gate 1-2, tempat suporter Persis berada di Stadion GBT. Sambil menyapa, Gibran pun melemparkan jersey warna merah, jersey pramusim milik Persebaya, ke suporter Persis.

Pria yang sebelumnya lebih dikenal sebagai pengusaha katering tersebut mengaku senang bisa bermain bola di GBT. Apalagi, ditonton puluhan ribu suporter, baik Bonek ataupun suporter Persis. Surabaya 729 Game yang dihelat dalam rangka merayakan ulang tahun ke-729 Surabaya, juga friendly match Arema FC versus PSIS Semarang di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, kemarin memang menandai kembalinya suporter ke stadion untuk kali pertama sejak pandemi Covid-19 mendera Indonesia dua tahun lalu.

“Ini pertama kalinya suporter boleh nribun (sejak pandemi Covid-19). Jadi, euforianya luar biasa,” ungkapnya.

Beberapa kali terlihat terjatuh ketika menggiring bola, Gibran menyebut bukan karena faktor rumput. Tapi, memang fisiknya sedang lelah. “Bagus semua (rumputnya). Bung Tomo dan Manahan saya rasa siap jadi tuan rumah Piala Dunia,” jelasnya.

GBT dan Stadion Manahan, Solo, memang calon venue Piala Dunia U-20 tahun depan. Gibran pun memuji setinggi langit atmosfer yang ada di GBT kemarin. Secara kapasitas penonton, GBT lebih besar dibandingkan Manahan. “Tapi, kalau soal antusiasme sepak bola, ya sama-sama besarnya dengan Solo,” tuturnya.

Gibran juga salut atas kerukunan yang ditunjukkan para Bonek –sebutan untuk pendukung Persebaya– dan suporter Persis. Sesuatu yang sangat positif untuk sepak bola Indonesia. “Yang penting tertib. Semoga pulang ke rumah juga tetap tertib,” katanya. (*/c17/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru