Tuesday, 28 April, 2026

Hampir Seperempat Abad Menebar Kegembiraan lewat Dongeng

Kota dari Aceh sampai Papua pernah dia datangi untuk mendongeng fabel, legenda, sampai teladan nabi-nabi. Dia memimpikan Kampung Dongeng yang didirikannya bisa berkembang sampai 1.000 titik saat merayakan 25 tahun berkarya.

AGFI SAGITTIANJakarta

 SEPOTONG kertas diambilnya. Dengan segera tangan terampil Awam Prakoso mengubahnya menyerupai ayam.

“Kukuruyuk, aku ayam sudah bangun. Apa kabar kalian hari ini?” ujar Awam ke arah bocah yang sedari tadi rewel menangis di dalam pesawat tujuan Berau–Jakarta itu.

Sontak seluruh penumpang pesawat ikut menoleh. Awam terus mendongeng dengan bantuan si ayam kertas tadi.

“Si anak pun diam dari tangisnya saat melihat saya bercerita. Kemudian tak lama, tangisannya berganti dengan senyum dan tawa,” kenangnya.

Sejak 1999 Awam melakukan itu. Menghibur, menebarkan kegembiraan, membawa anak-anak ke semesta yang menyenangkan sembari menyelipkan pesan kebaikan di sana-sini.

Semuanya melalui dongeng, dunia yang membuatnya jatuh cinta dan rela meninggalkan kenyamanan pekerjaan di sebuah bank dan sebagai praktisi teknologi informasi.

*

”Panggilan” itu datang setelah Awam menyaksikan penampilan dua karakter yang sangat dekat dengan dunia anak, Pak Raden dan Kak Seto Mulyadi, mendongeng di suatu acara. Pria yang terlahir dengan nama lengkap Mochammad Awam Prakoso itu begitu terpesona sampai pada titik dia meyakinkan diri untuk menjadi pendongeng profesional.

“Akhirnya aktivitas saya, pekerjaan utama saya di salah satu bank, saya tinggalkan dan memilih untuk fokus mendongeng,” beber pria 49 tahun tersebut.

Keputusan yang diambil pada 1999 itu tentu saja sangat besar. Tapi, Awam beruntung istri dan anak-anaknya mendukung penuh. Sebab, mereka sangat tahu Awam sangat suka dan mahir bercerita. Anak-anaknya maupun anak-anak di lingkungan tempat dia tinggal sudah sering menyaksikan sendiri.

“Mungkin karena saya dulu ikut kegiatan teater di kampus,” kata Awam tentang muasal keterampilannya mendongeng.

Petualangan pun dimulai. Dia bergerak sendiri secara individu. Ke berbagai tempat, dari satu kota ke kota lain, dari satu kampung ke kampung lain, bahkan dari satu pintu rumah ke pintu rumah yang lain.

Menemui anak-anak kecil di setiap tempat yang dikunjungi dan mengajak mereka berkumpul untuk diceritai dongeng. Entah tentang Si Kancil, Bawang Putih Bawang Merah, Sangkuriang, atau kisah Nabi Nuh.

Tak sebentar waktu yang dia butuhkan untuk akhirnya mendapat rekognisi yang lebih luas. Delapan tahun setelah fokus sebagai pendongeng, baru dukungan mulai menghampiri. Baik dari pemerintah maupun swasta.

“Sejak 2007 saya sering mendapat permintaan untuk mengisi dongeng kepada anak. Misalnya, di posko bencana dan acara-acara gathering murid. Hampir seluruh kota, dari Aceh sampai Papua, barangkali sudah pernah saya sambangi,” urai pria yang tinggal di Tangerang Selatan tersebut.

Dua tahun dibuat sibuk dengan jadwal mendongeng seorang diri, pada 2009 Awam pun berpikiran untuk mendirikan komunitas yang darinya dia berharap bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki semangat dan antusiasme yang sama.

Sebagai percobaan, dia memulai organisasi tersebut di rumah dan wilayahnya sendiri. Ternyata sambutan yang dia dapatkan sangat positif.

“Meskipun tidak semua bisa dan berminat menjadi pendongeng, saya senang mereka ikut hadir untuk sekadar bantu sarana. Atau, bantu angkat-angkat sound system dan segala kebutuhan yang diperlukan jika saya hendak tampil,” kenang Awam.

Kampung Dongeng pun akhirnya resmi berdiri pada 18 Mei 2009. Awam terus mengembangkan berbagai program di dalam Kampung Dongeng. Di antaranya, Workshop Dongeng dan Kemah Dongeng.

Dari sana nama Kampung Dongeng kian dikenal. Satu per satu pegiat bermunculan dan bergabung. Total dari kali pertama berdiri hingga saat ini, Kampung Dongeng sudah memiliki lebih dari 550 pendongeng di dalamnya. “Biasanya setelah mengikuti workshop, peserta punya keinginan untuk membuat Kampung Dongeng sendiri di wilayahnya. Saya tentu menyambut baik,” beber Awam.

Hingga saat ini, Kampung Dongeng sudah ada di 200 titik di 27 provinsi di Indonesia. Menurut Awam, dongeng masih menjadi daya tarik yang kuat untuk menghibur sekaligus mengedukasi anak.

Dongeng biasanya menceritakan kisah-kisah yang sarat nilai kebaikan dan pesan positif. “Mulai cerita legenda seperti Timun Mas, kemudian cerita-cerita nabi, dan salah satu juga yang paling disukai adalah cerita fabel,” ujar Awam.

Cerita-cerita itu bisa disampaikan dengan beragam cara. Awam menunjukkan kepada Jawa Pos bagaimana dirinya menirukan berbagai suara hewan seperti ayam, burung, kuda, hingga suara robot dan helikopter sebagai kiat mengantarkan cerita ke audiens yang terdiri atas para buyung dan upik.

“Gimmick seperti ini yang tidak pernah gagal memukau anak-anak. Olah suara juga menjadi salah satu fokus yang saya latih secara serius agar mendongeng menjadi lebih menarik,” urai pria yang pernah meraih rekor Muri mendongeng selama 8 jam nonstop pada 2013 tersebut.

*

Cita-cita Awam kini bisa melihat 1.000 Kampung Dongeng di seluruh Indonesia pada 2024. “Kenapa di tahun 2024? Karena pada tahun itu saya ingin memperingati 25 tahun perjalanan saya mendongeng sejak 1999,” katanya.

Semakin banyak Kampung Dongeng, tentu semakin banyak pula kegembiraan dan edukasi yang bisa ditebarkan. Termasuk menghibur dan menyemangati para bocah yang tengah didera berbagai penyakit kronis di rumah sakit.

Awam pernah melakukannya di RSCM Jakarta, salah satu momen yang tak akan pernah dilupakannya. “Seorang kawan dokter mengundang saya. Seperti biasa, saya pun berusaha semaksimal mungkin mendongeng di hadapan anak-anak yang mengalami penyakit kronis,” tuturnya.

Sekitar seminggu Awam ditelepon sang kawan dokter tadi. “Dia bilang ada salah satu anak yang setiap hari menanyakan kapan saya akan kembali. Dia sangat antusias dan bahkan hafal semua cerita yang saya sampaikan. Saya pun dengan antusias bilang siap ke sana lagi,” katanya.

Tapi, ternyata bukan itu maksud sang kawan. “Dia memberi tahu saya bahwa anak itu baru saja meninggal dunia. Saya sedih tentu saja, tapi setidaknya di saat-saat terakhir hidupnya dia bisa mendapatkan pengalaman menyenangkan lewat dongeng,” katanya. (*/c7/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru