Monday, 20 April, 2026

Harapan Relawan di Ukraina yang Akhirnya Terwujud di KTT G20

John McGovern diundang ke KTT G20 sebagai pendiri lembaga yang terjun langsung mendistribusikan bantuan, untuk mereka yang terdampak perang di Ukraina. Sehari-hari di arena konferensi, dia menyisipkan pesan tentang Ukraina lewat kemeja tradisional khas negara tersebut

DINDA JUWITABadung

TAK mudah bagi John McGovern untuk bisa hadir di Bali. Dia harus menempuh perjalanan udara hampir 10 ribu kilometer jauhnya.

Sebab, dia datang dari Ukraina, negeri yang tengah dikoyak perang di mana dia menjadi relawan sejak Maret lalu. Dia rela melakukannya karena menaruh harapan besar pada konferensi tingkat tinggi (KTT) yang berlangsung pada 15–16 November lalu di Nusa Dua, Badung, tersebut.

“Misi saya sederhana, berada di sini, menjadi suara dan kepanjangan tangan dari masyarakat Ukraina yang saat ini berada di medan perang,” ujar John McGovern kepada Jawa Pos di BICC, Nusa Dua, Selasa (15/11) lalu.

McGovern yang juga seorang pastor hadir di Pulau Dewata dalam kapasitasnya sebagai pendiri non-government organization (NGO/lembaga swadaya masyarakat) bernama 2TheNations. NGO itu lahir dengan misi menciptakan perdamaian di seluruh penjuru dunia.

Bagi McGovern, menghadiri KTT G20 amat penting. Sebab, dia menaruh harapan besar bahwa ajang tersebut mampu melahirkan kesepakatan penghentian perang.

Dan, harapannya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Dari 52 paragraf isi Deklarasi Bali sebagai buah KTT G20, ada paragraf yang isinya menyesalkan dengan sangat keras agresi Rusia terhadap Ukraina. Juga, tuntutan penarikan penuh dan tanpa syarat pasukan Rusia dari wilayah negara tetangganya itu.

McGovern menyebutkan, menjadi pastor sudah menjadi kehendak pribadinya sejak berusia 18 tahun. Profesinya itu memungkinkannya untuk bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang.

Keteguhan ajaran untuk mengasihi siapa pun juga dipegangnya rapat-rapat. “Tuhan memberikan dua mandat bagi umat manusia, yakni untuk mencintai Tuhan dan mencintai manusia. I love people and I love God,” jelasnya.

Keyakinan itulah yang membuatnya all-out dalam membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Sebagai pastor yang juga pendiri sebuah NGO yang banyak berfokus pada misi kemanusiaan, dia terjun langsung untuk mengulurkan tangan ke berbagai belahan dunia.

Hingga pada Maret lalu, dia memutuskan terbang langsung ke Ukraina. Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 20 Februari 2022, dia mengaku tak bisa tidur nyenyak. Dia galau bukan main.

Tinggal di Arizona, Amerika Serikat, dia tak henti-hentinya waswas setiap kali menonton kabar peperangan di televisi. “Saya tidak terlalu memperhatikan perangnya. Yang saya pikirkan, I want to do something. Lalu, akhirnya saya terbang ke Warsawa, Polandia,” katanya.

Polandia adalah salah satu negara tetangga Ukraina. Polandia juga termasuk yang paling kencang mengecam agresi Rusia dan masih membuka perbatasan mereka dengan Ukraina.

“Sesampai di Warsawa, banyak pengungsi datang dari Ukraina. Saya masih ingat, pada 9–10 Maret itu ada sekitar 100 ribu orang yang melewati batas,” tuturnya.

Dua hari kemudian, jumlah tersebut menjadi 250 ribu orang. Kemudian, menjadi 500 ribu orang sehari berselang. “Seminggu jadi 1 juta orang. Butuh waktu berhari-hari agar para pengungsi itu bisa melewati perbatasan,” katanya.

Hanya perempuan dan anak-anak yang diperbolehkan melintas. Sementara itu, kaum adam harus tetap tinggal di Ukraina dan berjuang di medan perang. “Saya ingat ada para pelajar dari Indonesia juga,” imbuh lulusan Arizona State University itu.

Saat itu, lanjut McGovern, kondisi para pengungsi amat memilukan. Bahkan, dia sempat mendapati seorang ibu yang melahirkan bayi laki-laki di salah satu stasiun kereta.

McGovern dan rekan setimnya pun berupaya membantu dengan maksimal. Namun, si jabang bayi tak tertolong. “Anaknya lahir, lalu meninggal. Ibu itu lantas menangis, dia bilang, ’Aku bukan menangisi diriku, anak ini adalah anakku dan suamiku sedang berjauhan. Barangkali suamiku juga tidak akan melihat anak ini, barangkali ia sudah gugur di medan perang’,” urainya.

Sehari-hari, para pengungsi itu pun dihantui rasa takut. Tak sedikit yang terus merasakan trauma. Meski begitu, warga Polandia amat membantu. Banyak yang memberikan tempat tinggal untuk berteduh.

Hingga kini, misi kemanusiaan 2TheNations terus berjalan di Ukraina. Bantuan pun datang silih berganti. Bantuan-bantuan itu dikirim ke Polandia melalui berbagai jalur. Seluruhnya disalurkan hingga ke desa-desa tempat para pengungsi tinggal.

“Sampai 14 November, kami menerima 31 ton peralatan kebersihan, pasokan barang, bahan pangan, lalu hmmm… sedih saat harus mengatakan ini, ada bantuan persediaan kantong mayat juga,” imbuhnya.

Berada langsung di medan perang dan memberikan bantuan kemanusiaan membuat McGovern sangat berharap agar perang bisa diakhiri. Sebab, dia menyaksikan langsung berbagai kepiluan di lapangan.

Karena itu, dia tak membuang waktu ketika mendapat undangan untuk menghadiri KTT G20 di Bali. Baginya, mendatangi konferensi tersebut memberinya secercah harapan.

Apalagi, dia mengaku amat simpati pada Indonesia ketika tahu bahwa Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Jokowi sempat mengunjungi Ukraina dengan membawa misi perdamaian. “Keduanya (Jokowi dan Iriana) sangat bermartabat, sangat memberikan ’suara’ yang jelas bagi perdamaian,” katanya.

Sebisa mungkin McGovern juga menyisipkan pesan tentang Ukraina selama berada di arena G20. Salah satunya lewat pakaian yang dikenakannya. Dia memakai kemeja tradisional khas Ukraina, yakni vyshyvanka.

Vyshyvanka adalah pakaian yang terinspirasi dari budaya Ukraina. Pengerjaannya pun rumit. Kemeja tradisional itu terbuat dari 100 persen katun dengan dekorasi pola geometris. Ada nilai sejarah dalam pakaian itu.

Misalnya, sulaman atau bordir yang dibuat di tempat-tempat yang rentan di mana roh-roh jahat berpotensi masuk ke tubuh, seperti sepanjang leher, manset, bahu, punggung, dan hem. (*/c18/ttg/jpg)

Artikel SebelumnyaUsul Datangkan Sapi dari NTT
Artikel SelanjutnyaKaltara Turunkan 23 Atlet

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru