Ai Dewi Putri Ningsih dan Ai Putri Anugrah tak terpisahkan. Dua bocah 9 tahun asal Garut, Jawa Barat, itu dempet pada bagian perut. Di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, kini Annaya Rizka Ramadhani dan Innaya Rizka Ramadhani menjalani hidup sebagai individu terpisah. Tumbuh kembang mereka sebagai kanak-kanak amat menggembirakan.
DEWI dan Putri tidak pernah menyerah pada keadaan. Semangat yang Jawa Pos lihat saat kali terakhir berjumpa mereka pada akhir 2021 masih menyala-nyala Kamis (29/12) lalu.
Keduanya masih tetap ceria dan optimistis menghadapi masa depan. Saat ini buah hati Iwan Kurniawan itu duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar Negeri 1 Tegal Panjang, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Libur semester gasal tahun ini dimanfaatkan Dewi dan Putri untuk kontrol ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. “Karena masih mengeluh sakit di bagian pinggang,” ungkap Iwan.
Sejak dua tahun lalu, dia menjadi orang tua tunggal. Yani, sang istri sekaligus ibu si kembar, berpulang untuk selamanya.
Sehari-hari Iwan adalah ayah sekaligus ibu bagi Dewi dan Putri. Selain bekerja, dia juga merawat anak kembarnya. Mulai memandikan sampai mengantar dan menjemput sekolah. Iwan pulalah yang menjadi teman bermain sekaligus teman belajar bagi Dewi dan Putri.
Iwan sadar betul bahwa Dewi dan Putri tidak sama dengan anak-anak yang lain. Namun, mereka melewati proses tumbuh kembang laiknya anak-anak yang normal. Karena itu, sejak dini Iwan dan mendiang istrinya menyiapkan mental anak-anaknya agar tidak rendah diri. Maka, sejak kecil, Dewi dan Putri diajarkan untuk membaur dengan teman-temannya. Baik di lingkungan rumah maupun sekolah.
Saat ini Dewi dan Putri sedang sangat suka menyanyi. Sebagai orang tua, Iwan berupaya sebaik-baiknya mencukupi kebutuhan mereka. “Sekarang saya lagi cari-cari tempat kursus nyanyi. Saya ingin mengembangkan bakat mereka,” ungkapnya.
Menurut dia, minat Dewi dan Putri pada musik jauh lebih menonjol ketimbang ketertarikan mereka pada hal-hal lain.
Berkat Iwan, Dewi dan Putri menjadi anak-anak yang memiliki rasa percaya diri tinggi. Selain pandai bergaul, mereka juga tidak canggung berada di tengah lingkungan baru. Sebab, Iwan sering mengajak mereka mengunjungi tempat umum seperti tempat wisata sejak kecil.
Itu membuat Dewi dan Putri mampu berinteraksi dengan banyak orang dalam berbagai suasana. Dewi dan Putri adalah anak-anak yang gemar bercerita. Karena rasa ingin tahu mereka yang tinggi, keduanya sangat suka bertanya dan menggali pengetahuan.
Sebagai orang tua modern, Iwan pun mulai mengenalkan anak-anaknya pada gawai. Mereka diajarkan untuk mencari tahu tentang banyak hal lewat internet.
Pandemi Covid-19 memang membuat Dewi dan Putri yang lahir pada 29 Oktober 2013 akrab dengan gawai. Seperti anak-anak Indonesia yang lain, mereka pun sempat menikmati sekolah daring karena pembatasan mobilitas.
Bagi Dewi dan Putri yang banyak bergantung pada kursi roda khusus untuk beraktivitas, sekolah tatap muka sedikit lebih merepotkan. Tapi, mereka menyukainya karena bisa bertemu lagi dengan teman-teman sebaya.
Iwan menduga sakit pinggang yang dirasakan Dewi dan Putri sehingga mereka harus memeriksakan kesehatan ke RSHS itu dipicu sekolah tatap muka. Tepatnya, akibat terlalu lama duduk di dalam kelas. Karena itu, mumpung libur sekolah, Iwan mengajak Dewi dan Putri kontrol untuk memastikan kondisi kesehatan mereka.
“Kalau bisa, ya langsung pulang pergi. Tapi, kalau harus inap, ya menginap di Bandung,” jelasnya.
Psikolog klinis anak dan remaja Evryanti Putri menyebut pola asuh yang Iwan terapkan terhadap Dewi dan Putri sangat baik. Sebagai ayah dari anak-anak yang terlahir dengan kondisi khusus, dia bisa menerima keadaan.
Psikolog yang akrab dipanggil Puput tersebut mengatakan bahwa penerimaan itulah hal yang paling penting bagi para orang tua dengan anak-anak istimewa seperti kembar siam.
“Memang yang paling penting adalah menerima,” ujar Evryanti Putri saat berbincang dengan Jawa Pos pada Kamis (29/12). Penerimaan orang tua akan sangat memengaruhi perlakuan dan dukungan mereka terhadap anak-anak.
“Jadi, orang tua memang butuh untuk menerima dan mencerna apa yang terjadi,” imbuh Evryanti Putri.
Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan anak-anak untuk berbaur dengan lingkungan. Pilihan Iwan untuk membiasakan Dewi dan Putri berinteraksi dengan lingkungan sekitar membawa dampak positif.
Demikian pula keputusan untuk menyekolahkan Dewi dan Putri di sekolah umum. Dia yakin berbagai pertimbangan sudah dipikirkan secara matang oleh Iwan sebelum mengambil keputusan.
“Asal anaknya ceria, bahagia, dan orang sekitar bisa menerima. Itu sudah baik,” kata Puput.
Sebagai orang tua tunggal, Iwan telah melakukan ikhtiar terbaiknya. Dia mengurus, merawat, menjaga, menemani, dan mendidik kedua putrinya dengan cara-cara yang tepat. Termasuk ketika melihat ketertarikan Dewi dan Putri terhadap musik. “Karena pada dasarnya, setiap anak memiliki potensi yang bisa dikembangkan, apa pun kondisi mereka,” jelas Puput.
Yang perlu dilakukan Iwan, lanjut dia, adalah terus jujur dan terbuka kepada Dewi dan Putri. Ketika mereka bertanya tentang apa saja, Iwan harus menjawab dan menjelaskan tanpa ditutup-tutupi. Tujuannya, mereka semakin paham dan mengerti.
Lantas, bagaimana ketika mereka dewasa kelak? Itu juga harus dipersiapkan oleh Iwan. “Agar setidaknya mereka nanti bisa hidup mandiri ketika orang tua sudah tidak ada,” tegas Puput.
Itu bisa bermula dari upaya untuk mewadahi bakat dan minat anak-anak. Selanjutnya, bakat dan minat tersebut bisa diolah menjadi keterampilan yang di masa depan berpotensi menghasilkan keuntungan ekonomi. (syn/c6/hep/jpg)


