Tuesday, 21 April, 2026

Ingin Segera Berjualan di Tempat yang Layak

Nasib pedagang Pasar Turi terkatung-katung sejak pasar legendaris itu terbakar hebat pada 2007. Sejak saat itu, mereka menempati tempat penampungan sementara (TPS). Kini setelah lebih dari satu dekade berlalu, kondisi bangunan dari tripleks tersebut sudah tak layak lagi. Pedagang ingin segera pindah. Ada impitan.

 UMAR WIRAHADI, Surabaya

HARI masih siang, tapi lorong di TPS yang ditempati para pedagang Pasar Turi untuk berjualan begitu gelap. Sebab, sebagian besar kios yang berbentuk kotak sedang tutup. Lampu penerangan hanya ada di beberapa kios yang sedang dibuka oleh pemiliknya.

Di sebuah stan yang menjual aneka topi, dua orang duduk berhadap-hadapan. Mereka sedang bermain catur. “Ini cara kami untuk membuang rasa stres,” kata Abdul Rosyid sambil mempersilakan Jawa Pos masuk.

Pria 62 tahun itu adalah salah seorang pedagang lama di Pasar Turi. Dia berjualan sejak 1968. Kala itu, dia masih bantu-bantu orang tuanya. “Saya punya lima stan di sini (TPS, Red),” tuturnya.

Meski mengelola cukup banyak stan, dia mengaku pendapatan sangat minim. Dalam sehari, tutur Rosyid, belum tentu satu barang bisa laku. “Jangankan sehari. Bahkan, pernah sepuluh hari tidak ada satu pun yang laku,” tuturnya.

Bagaimana tidak. Kondisi TPS yang kini sudah berusia 12 tahun itu sangat memprihatinkan. Dari luar tampak sangat kumuh. Bahkan, sudah banyak yang ambrol.

Jika hujan, air menggenang hingga membasahi barang jualan pedagang. Akibatnya, pengunjung enggan masuk. Meski sekadar untuk melihat-lihat. “Untuk makan besok saja, cari sekarang. Inilah kondisi pedagang di TPS ini,” tutur Rosyid yang dipercaya menjadi ketua majelis pedagang Pasar Turi.

Nah, terkait rencana relokasi ke dalam Pasar Turi Baru, pihaknya menyambut dengan positif. Para pedagang, lanjut dia, ingin segera berjualan di tempat yang layak. Hanya, pedagang meminta manajemen Pasar Turi Baru tidak mempersulit pedagang. “Ambil kunci stan saja dipersulit. Padahal, waktu launching segera tiba,” ujar pria berkacamata itu.

Dia menilai, pedagang terlalu banyak dibebani oleh investor. Belum lagi pembayaran service charge yang dikenakan per bulan.

Seperti diketahui, grand opening operasional Pasar Turi Baru direncanakan berlangsung pada 22 Maret. Tinggal enam hari lagi. PT Gala Bumi Perkasa sebagai investor terus melakukan berbagai persiapan. Terutama kesiapan infrastruktur dan sarana-prasarana.

Syafi’i, pedagang lainnya, juga mengaku ingin segera masuk ke stan anyar. Hanya, masih ada kendala. Tiga stan yang di-booking masih perlu renovasi. Misalnya, banyak lantai keramik di dalam stan yang rusak. Rolling door juga tampak rapuh. Sangat mudah dibobol oleh orang yang punya niat jahat. Kondisi itu, kata Syafi’i, mengancam keamanan barang-barang jualan yang disimpan di dalam. “Kalau saya taruh barang, keamanan tidak terjamin,” tutur kakek 10 cucu itu.

Kondisi itu sudah dilaporkan kepada pihak manajemen. Syafi’i berharap bisa segera diperbaiki. Sebab untuk bisa membeli stan, dia melakukannya dengan susah payah.

Ayah empat anak tersebut sampai menjual rumahnya. Dia membayar Rp 600 juta untuk tiga stan. Itu dilunasi pada 2014. Ketika itu, gedung Pasar Turi masih proses pembangunan. “Saya jual rumah demi bisa beli stan. Saya sampai habis-habisan demi Pasar Turi,” tutur pria 68 tahun itu dengan nada tinggi.

Kini dia berharap stan baru bisa ditempati. Tapi di sisi lain, dia merasa dilematis. Dengan modal cekak, dia tidak mungkin mengisi stan dengan barang-barang dagangan. Sementara itu, barang berupa topi yang dijualnya di TPS terkesan seadanya. “Entah bagaimana caranya stan bisa diisi barang. Kami minta Pemkot Surabaya untuk bantu pedagang,” pinta Syafi’i. (*/c6/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru