TARAKAN – Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) di Indonesia, membuat harga hewan ternak, khususnya sapi naik hingga 30 persen. Hal ini dikarenakan biaya kirim dari daerah asal mengalami kenaikan.
Belum lagi sampai di Tarakan, harus menjalani karantina hingga 14 hari. Untuk memastikan kesehatan hewan ternak. “Harga sapi paling murah sekitar Rp 22 juta per ekor. Kalau tahun lalu masih ada yang harga Rp 19 juta per ekor,” ucap Sholeh salah seorang pedagang sapi di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Karang Anyar, Jumat (3/6).
Ia menyebut, harga sapi yang dibeli dalam beberapa bulan terakhir biasanya dikisaran Rp 24 juta per ekor. Namun belakangan ini sudah mencapai Rp 35 juta per ekor.
“Kalau stok baru sudah mahal. Kami belinya sudah Rp 35 juta dan dijual Rp 37 juta. Harganya naik banyak, karena susah datangkan sapi. Kalau saya biasanya datangkan dari Gorontalo,” jelasnya.
Menjelang Idul Adha biasanya ada ratusan ekor yang didatangkan. Namun saat ini hanya 60 ekor sapi. Namun harus dikarantina selama 2 minggu, maka dari itu mengganggu waktu pengiriman sapi. Belum lama ini telah datang 100 ekor, tetapi dibagi-bagi dengan pedagang lain, untuk persiapan Idul Adha.
“Tadi ada pembeli dari KTT harga paling murah tinggal yang kisaran Rp 37 juta, tidak jadi beli. Karena cari yang ukuran kecil, sedangkan stok kecil sudah habis diboking. Nanti tanggal 12 Juni ada 30 ekor datang, tetapi ukuran kecil,” tuturnya.
Ia mengakui, masih ada minat masyarakat untuk membeli sapi. Sebab berkurban saat Idul Adha juga merupakan ibadah bagi umat muslim.
“Alhamdulillah masih ada, karena mereka untuk ibadah juga. Masih banyak yang tanya-tanya soal harga. Kalau standar masjid harga Rp 20 juta- Rp 21 juta per ekor. Kalau yang beli secara pribadi biasanya yang besar,” ungkapnya.
Pembelian hewan kurban biasanya akan meningkat 1 minggu menjelang hari raya Idul Adha. Dengan adanya batas waktu sebulan ke depan, calon pembeli masih sebatas bertanya soal harga. (kn-2)


