Monday, 25 May, 2026

Intermediasi Perbankan Cukup Tinggi

TARAKAN – Intermediasi perbankan di Kaltara cukup tinggi. Hal ini terlihat pada Rasio Kredit dibandingkan Pembiayaan terhadap Dana Pihak Ketiga atau Loan to Deposit Ratio (LDR) di Provinsi Kaltara yang pada Mei 2022 yang tercatat sebesar 91,15 persen.

Selain itu, didukung oleh pertumbuhan positif pada pengumpulan Dana Pihak Ketiga (DPK) maupun penyaluran kredit di Kaltata. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara Tedy Arief Budiman mengatakan, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Kaltara pada Mei 2022 meningkat sebesar 13,96 persen yoy, dari sebelumnya 11,37 persen yoy. Dengan total DPK Rp15,25 triliun.

Peningkatan pertumbuhan DPK tersebut didorong oleh peningkatan signifikan pada komponen giro. Di tengah perlambatan pertumbuhan tabungan, dan deposito.

“Pertumbuhan giro meningkat signifikan dari sebelumnya kontraksi 4,29 persen yoy menjadi tumbuh positif 13,37 persen. Sejalan dengan dibukanya kembali Ekspor CPO setelah pada April lalu, dilarang untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Adapun tabungan dan deposito pada Mei melambat masing-masing 16,17 persen yoy, dan 10,24 persen yoy,” terang Tedy, Senin lalu (11/7).

Adapun pertumbuhan tabungan dan deposito tersebut, lebih rendah dari capaian April 2022 yang masing-masing tercatat 17,92 persen yoy dan 10,40 persen yoy. Kondisi ini sejalan dengan pola konsumsi yang meningkat pada HBKN Idul Fitri. Sehingga masyarakat menggunakan simpanannya di bank.

Sementara itu, pertumbuhan kredit atau pembiayaan yang disalurkan oleh bank di Kaltara pada Mei 2022 tercatat meningkat 27,34 persen yoy. Lebih tinggi dari periode sebelumnya sebesar 26,86 persen  yoy. Secara nominal total outstanding juga meningkat. Dari Rp13,84 Triliun pada April 2022 menjadi Rp13,89 triliun pada Mei 2022.

Peningkatan pertumbuhan kredit ini didukung oleh peningkatan kredit modal kerja, pertumbuhan kredit konsumsi dan investasi. “Pertumbuhan kredit yang tinggi ini didukung dengan kualitas kredit yang terjaga. Dengan NPL Gross di level 1,19 persen, lebih rendah daripada ambang batas aman yaitu 5 persen,” sebutnya.

Lebih lanjut, kata Tedy, kredit modal kerja dengan pangsa 32,47 persen mengalami peningkatan pertumbuhan 19,75 persen. Lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 17,70 persen yoy. Dengan total outstanding kredit sebesar Rp 4,51 triliun. Peningkatan ini sejalan dengan naiknya permintaan masyarakat pada Idul Fitri 1443 H, pelonggaran mobilitas dan turunnya kasus Covid-19.

“Kredit konsumsi dan investasi dengan pangsa masing-masing 36,26 persen dan 31,28 persen. Melanjutkan tren pertumbuhan positif 5,99 persen  yoy dan 81,69 persen yoy. Meski sedikit mengalami perlambatan dibanding bulan sebelumnya sebesar 6,33 persen yoy dan 82,41 persen yoy. Total Kredit/Pembiayaan Konsumsi dan Investasi  mencapai masing-masing sebesar Rp5,04 triliun dan Rp4,35 triliun,” urainya.

Tetap tingginya pertumbuhan kredit konsumsi dan invetasi di dorong oleh optimisme masyarakat. Tercermin dari tingginya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia. Selain itu, harga komoditas global yang masih melanjutkan tren supercycle terutama untuk komoditas unggulan Kaltara. Seperti batubara dan kelapa sawit yang terus menunjukkan tren peningkatan harga sejak awal tahun 2022.

Secara sektoral pada Mei 2022, tiga sektor Lapangan Usaha (LU) yang memiliki andil terbesar pertumbuhan kredit secara tahunan. Yaitu LU Pertanian dan Kehutanan, Rumah Tangga, serta Perdagangan Besar dan Eceran.

Adapun tiga sektor LU mengalami peningkatan pertumbuhan kredit secara tahunan terbesar, LU Admisnistrasi Pemerintah sebesar 634,71 persen, Transportasi Gudang dan Komunikasi 136,82 persen dan Pertanian dan Kehutanan 111,28 persen dengan outstanding masing-masing sebesar Rp 1,05 miliar, Rp 221,77 miliar, dan Rp 4.032,41 miliar. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru