Monday, 20 April, 2026

Keluarga dan Kesehatan Yang ”Memaksa” Enny Nuraheni Pensiun

Enny Nuraheni memang sudah meninggalkan kariernya sebagai fotografer profesional sembilan tahun silam. Namun, sejatinya eks fotografer kantor berita terbesar asal Inggris Reuters itu belum sepenuhnya bisa melupakan ”dunia” yang sudah 27 tahun dia geluti.

 ENNY menuntaskan kiprahnya di Reuters pada 2013. Selain faktor kesehatan yang mulai menurun dan derasnya desakan keluarga, di usianya yang saat itu telah menginjak 53 tahun, dia merasa cukup. “Itu kayak arahan Tuhan (untuk pensiun, Red),” ujarnya saat ditemui di kediamannya di kawasan Jakarta Selatan, Senin (25/7) pekan lalu.

Keyakinan soal ”arahan Tuhan” itu tumbuh, karena tak lama usai undur diri, Enny disibukkan dengan urusan keluarga. Dari mengurus sang kakak yang menjadi korban dalam pesawat MH17 yang ditembak rudal di Ukraina, suami yang mengalami stroke, hingga ibunda yang sakit. “Jadi, seperti sudah feeling saya harus pensiun lebih dulu,” imbuhnya.

Meski rentetan duka datang, jiwanya sebagai fotografer belum luntur. Di masa pensiunnya, dia masih menyibukkan diri. Meskipun, dengan peran dan intensitas yang tentu berbeda.

Kini Enny tak lagi memanggul banyak kamera. Atau, wira-wiri dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Namun melalui berbagi ilmu, pengalaman, serta semangatnya kepada mereka yang lebih muda.

Di usia pensiunnya, ada berbagai kegiatan edukasi yang dijalani. Di antaranya, Lembaga Pers dr Soetomo yang memintanya sebagai pengajar pada kelas-kelas di berbagai kota. Enny juga kerap mengisi seminar dan pelatihan fotografi di perusahaan atau lembaga.

Kemudian, mengisi kelas di kampus-kampus. Di antaranya, Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka dan Universitas Pancasila. “Mereka minta saya ngajar di kelas, ya saya layani,” ujar wanita berusia 62 tahun tersebut.

Mengedukasi mahasiswa ataupun fotografer muda, bagi Enny, merupakan rutinitas yang menyenangkan. Paling tidak, dia bisa memainkan peran untuk ikut mencetak fotografer-fotografer baru. “Selagi masih bisa, saya lakukan,” ucapnya.

Enny menuturkan, edukasi bagi fotografer di Indonesia masih sangat dibutuhkan. Sebab, dari pengalamannya berinteraksi dengan para fotografer, khususnya di daerah, belum banyak yang memiliki pemahaman yang utuh terkait standar foto berita. Terlebih untuk foto-foto dengan standar dunia.

“Tapi, fotografer di Indonesia mentalnya kuat, blusukan ke mana aja siap,” terangnya. Dia ingin semangat itu bisa diimbangi dengan skill yang lebih baik.

Mengedukasi pemula juga sekaligus melanjutkan tradisi yang sudah lama dilakukannya sejak masih aktif sebagai jurnalis foto. Yakni, saat Enny membangun jaringan responden Reuters di seluruh Indonesia pada tahun ’90-an. Kala itu, dia juga mendidik dan menciptakan banyak fotografer dari berbagai daerah.

“Waktu itu anak-anak saya didik di Jakarta. Harus memproduksi kualitas yang dunia mau. Foto yang harus dijual ke dunia,” kenangnya. Dari proses itu, kemudian melahirkan sosok-sosok seperti Yusuf Ahmad hingga Sigit Pamungkas yang cukup populer.

Sayang, sejak pandemi menerjang, intensitas Enny untuk melakukan pelatihan ke berbagai tempat mulai berkurang. Apalagi, kondisi kesehatannya sempat menurun.

Beberapa waktu lalu, dia harus menjalani operasi akibat tulang torakal di punggungnya mengalami pengeroposan. Kondisi yang salah satu faktornya disebabkan kebiasaan Enny membawa peralatan foto. Di usia muda, dia bisa membawa beragam peralatan fotografi lengkap dengan tangganya. Hal itu bahkan berlangsung hingga mendekati usia 50 tahunan.

Alhasil, kini Enny lebih banyak beraktivitas di rumah. Sesekali, dia menyempatkan berbagi ilmu dan pengalaman ke lingkup yang lebih kecil. Misalnya, di komunitas gereja. “Banyak pemuda gereja datang ke sini untuk belajar motret,” kata alumnus kampus ABA Jakarta itu.

Bagi Enny, sulit untuk ”melepaskan diri” dari dunia fotografi. Bahkan, meski telah vakum cukup lama, hasratnya untuk turun lapangan saat ada peristiwa masih sering muncul. “Tapi, anak selalu mengingatkan, ’udah, Bu’,” tuturnya. Tak pelak, hasratnya untuk memotret disalurkan ke hal-hal yang lebih ringan. Misalnya, memotret cucu.

Enny bersyukur pernah menjalani hidup sebagai fotografer. Sesuatu yang membawanya menuju pengalaman-pengalaman istimewa. Mulai mendatangi berbagai peristiwa penting hingga bertemu tokoh-tokoh berpengaruh di dunia. Meliput lokasi-lokasi berisiko seperti demo, kerusuhan, dan bencana alam sudah pernah dirasakannya. Sampai-sampai, hanyalah kondisi kesehatan yang akhirnya membuatnya berhenti terjun ke lapangan. (far/c12/nor/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru