Friday, 3 April, 2026

Keluhkan Masih Adanya Bentangan Tali Rumput Laut di Alur Pelayaran

TARAKAN – Permasalahan alur pelayaran Tarakan-Bunyu dan Tarakan-Nunukan, salah satunya berkaitan dengan petani rumput laut. Yang membentangkan tali rumput laut di wilayah alur pelayaran.

Sebenarnya, alur pelayaran Tarakan-Nunukan dianggap sudah selesai terkait rute. Namun untuk persoalan rumput laut ini, dianggap masih perlu dilakukan tindakan lebih lanjut. Termasuk rute Tarakan- Bunyu, hingga saat ini masih dalam rencana pembukaan alur pelayaran.

Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Tarakan Suyanto mengatakan, sebagai perwakilan speedboat reguler dan non regular hanya meminta kejelasan untuk pelaksanaannya.

“Kalau mau dibuka jalurnya, kan harus tahu motoris kami, mana saja batasannya. Sudah di plot masing-masing. Jadi kami butuh ketegasan dari pemerintah,” tegasnya, Kamis (14/7).

Alur pelayaran speedboat saat ini masih digunakan petani rumput laut, untuk membentangkan tali mirip seperti di jalur Tarakan-Nunukan. Dua alur, arah ke Nunukan dan Bunyu ini yang masih dikeluhkan pengusaha speedboat. Terutama posisi pembentangan rumput laut yang semakin melebar. Misalnya sepekan belum melewati rute yang biasanya, pihaknya menemukan ada pembentangan rumput laut yang baru.

“Semakin melebar terus pembentangan rumput laut itu. Apalagi harga rumput laut kan tinggi saat ini. Mungkin ini yang membuat para pembudidaya sedang giat membudidayakan rumput laut. Kami berharap ada ketegasan kapan eksekusi untuk dilaksanakan (pembatasan alur pelayaran dengan petani rumput laut). Apalagi ini sudah beberapa kali rapat, tapi belum ada aksi,” urainya.

Selain keselamatan speedboat saat melintasi di sekitar alur pelayaran. Jika masih ada pembentaran rumput laut, mengakibatkan speedboat harus mengambil jarak tempuh perjalanan semakin jauh. Akibatnya waktu perjalanan semakin lama. Dari normalnya sekitar 2 jam 15 menit, sekarang ini bisa menjadi 2 jam 30 menit hingga lebih. Untuk rute Tarakan-Nunukan dan sebaliknya.

“Permintaan kami tidak juga sampai dibuka semua, tapi senormalnya saja. Tapi ada jalan diantara mereka, seperti diberikan tanda. Jangan sampai semakin mengarah ke laut terus. Jadi, alurnya semakin berubah terus,” keluhnya.

Pemerintah diminta untuk membuat batasan atau tanda wilayah, alur mana saja yang merupakan jalur pelayaran. Sehingga kegiatan budidaya rumput laut tidak semakin menyebar ke tengah laut.

Mesti belum ada kejadian kecelakaan laut yang diakibatkan menabrak pembentangan rumput laut. Namun ia meminta ada ketegasan dari pemerintah. Terlebih lagi setiap pekannya ada saja informasi dari motoris, terkait penambahan bentangan rumput laut.

“Belum ada ketegasan dan eksekusi dari pemerintah. Bahaya kalau kami tidak tahu, bisa menyangkut. Untungnya kami berangkatnya siang,” ujarnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru