Dari tempat para ”musuh pemerintah” ditahan, Penjara Jing-Mei di Taipei jadi sarana wisata sekaligus edukasi sejarah. Berikut laporan wartawan Jawa Pos BASKORO YUDHO, yang baru balik dari Taiwan.
FRED CHIN HIM-SAN menghabiskan 12 tahun di penjara itu. Penjara tempat mengurung mereka yang berseberangan dengan rezim di Taiwan tempo dulu alias tahanan politik (tapol).
“Saya mendekam di penjara ini secara tidak sah selama 12 tahun,” kata Fred yang kini bertugas sebagai guide tur penjara tersebut, Jing-Mei, kepada delegasi jurnalis internasional yang diundang MOFA (Kementerian Luar Negeri Taiwan), termasuk Jawa Pos, (23/6).
Kala itu, 1967, Kuomintang (KMT) masih jadi partai tunggal di Taiwan. Partai nasionalis tersebut semula berkuasa di Tiongkok Daratan. Kekalahan dalam perang saudara memaksa mereka berelokasi ke Taiwan dan resmi berkuasa sebagai partai tunggal sejak 1949–1987.
Inilah masa-masa yang dikenal dengan ”Teror Putih”. Periode darurat militer terlama di dunia sebelum akhirnya rekor itu dilampaui Syria yang menerapkan sistem serupa dari 1963–2011.
Di masa-masa ini, total 30 ribu orang yang dianggap musuh negara oleh KMT dijebloskan ke Jing-Mei. Mulai politisi, jurnalis, mahasiswa, seniman, hingga warga biasa. Pada masa Taiwan yang seperti itulah Fred yang berasal dari Malaysia datang dengan maksud berkuliah.
Saat itu, dia sudah diterima di Universitas Nasional Chung Kung di Tainan. “Sekitar tahun itu (1967). Karena saya ingat, waktu itu Indonesia sepertinya masih dipimpin Soekarno,” papar Fred ketika mengetahui kalau Jawa Pos berasal dari Indonesia. “Sikit-sikit, saya masih bisa cakap Melayu,” lanjut pria 74 tahun itu, lalu tersenyum.
Tapi, alih-alih bisa pulang ke Malaysia dan membawa gelar akademik, pada 3 Maret 1971, Fred diciduk polisi rahasia KMT. Dia dipaksa untuk mengakui pengeboman yang terjadi di perpustakaan Layanan Informasi Amerika Serikat. “Saya memang sering menghabiskan waktu untuk belajar di sana,” kenang Fred.
Fred bahkan sempat divonis hukuman mati. Belakangan terbukti bahwa Fred memang tidak terlibat dalam pengeboman tersebut. “Tapi, KMT tetap tidak mau melepas saya. Karena mereka takut kehilangan muka,” ujarnya.
Fred akhirnya benar-benar dilepas pada 1983. Namun, tanpa paspor, tanpa identitas, kehidupan setelah keluar dari penjara justru tak lebih baik. Dia sempat balik ke Malaysia pada 1988. Namun, setelah 21 tahun meninggalkan tanah kelahirannya, Fred menyadari bahwa kampung halamannya sudah jauh berubah.
Merasa asing, dia akhirnya memutuskan kembali ke Taiwan dan menetap di sana. Apalagi, sejak 1985 dia sudah memperoleh status kewarganegaraan setempat. Akhirnya, dia ditunjuk sebagai tour guide Penjara Jing-Mei pada 2013, enam tahun setelah tempat tersebut menjadi destinasi wisata.
Karena belasan tahun dikurung di sana, Fred begitu lancar menjelaskan detail ruangan dalam penjara. Apalagi, tak banyak interior yang berubah karena untuk kepentingan sejarah dan edukasi hak asasi manusia.
Ruangan pertama yang dimasuki Fred saat mengajak rombongan jurnalis internasional adalah ruang sidang, tepat di belakang ruang utama. Foto-foto tokoh yang pernah diadili dan mendekam di Jing-Mei terpampang di ruang tersebut.
Misalnya, Tsui Hsiao-ping yang merupakan artis dan ditangkap pada 1968 karena dianggap berseberangan dengan pemerintah. Juga ada Chen Chung-tung, seorang ahli medis yang dipenjara selama 15 tahun karena tuduhan makar.
Fred menjelaskan, penjara itu dipisahkan antara ruang tahanan wanita dan pria. “Lantai pertama untuk ruang tahanan pria dan lantai kedua untuk tahanan wanita,” jelasnya.
Fred lalu mengajak ke sel tempat dirinya mendekam selama bertahun-tahun. Sel berukuran 8 x 6 meter tersebut biasanya diisi 5–6 tahanan. Sebaliknya, ruang tahanan wanita bisa diisi 20 orang per kamar.
Siksaan mental bagi para tahanan memang terlihat saat menengok bagian dalam kamar tahanan. Sebab, di ruang tahanan itu tidak ada pembatas untuk tempat buang hajat, alas tidur, dan tempat untuk makan.
Setiap malam para tahanan juga sering mendengar suara tembakan sebagai pertanda bahwa ada yang sedang dieksekusi mati. “Itu sering memunculkan teror dan ketakutan yang luar biasa bagi para tahanan. Tak heran kalau banyak yang stres dan depresi,” tuturnya.
Fred berharap tak ada lagi teror serupa di Taiwan pada masa-masa mendatang. “Jangan mewariskan ketakutan untuk generasi mendatang,” harapnya. (*/c6/ttg/jpg)


