Wednesday, 22 April, 2026

Khusnul, Difabel yang Masuk Timnas Sepak Bola Amputasi Piala Dunia

Kecintaan Khusnul Yakin terhadap sepak bola mengantarkannya masuk dalam skuad tim nasional (timnas) sepak bola amputasi yang akan berlaga di Piala Dunia 2022. Dia merupakan satu-satunya atlet penyandang disabilitas penghuni timnas asal Surabaya. Bikin bangga Kota Pahlawan.

UMAR WIRAHADI, Surabaya

DI ruang kerja Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, pagi itu Khusnul Yakin memamerkan kemampuannya mengolah si kulit bundar. Tiga kali dia menendang bola dengan kaki kirinya. Dengan kruk elbow sebagai tumpuan, tendangannya selalu mengenai sasaran secara tepat. “Jos pokok e. Kami doakan jadi juara di Turki,” tutur Eri sambil menepuk pundak Khusnul.

Khusnul Yakin merupakan pemain sepak bola difabel Surabaya. Dia adalah 1 di antara 15 pemain timnas sepak bola amputasi yang bertanding pada Piala Dunia di Turki Oktober nanti. Kedatangannya ke balai kota bertujuan meminta dukungan pemkot. Sebab, dia akan menjalani pemusatan latihan di Jakarta selama dua bulan.

“Saya bangga sekali. Apalagi, ini mewakili Indonesia,” kata Khusnul semringah.

Dia sebelumnya sama sekali tidak pernah membayangkan bisa membela Indonesia di lapangan hijau. Apalagi dengan kondisi fisik yang tidak sempurna. Pria kelahiran 8 Mei 1991 itu lahir dengan kondisi difabel bawaan. Kaki kanannya tumbuh pendek tidak sempurna.

Untuk menendang bola, Khusnul hanya mengandalkan kaki kiri. Dibantu dengan alat berupa kruk siku sebagai tumpuan. “Makanya, karena kondisi begini, sampai saat ini saya masih merasa mimpi. Ternyata saya bisa,” ujarnya, lalu tersenyum.

Keberuntungannya itu bermula ketika Khusnul mendapat posting-an berita WhatsApp tentang klub sepak bola amputasi di Jakarta dari temannya pada 2020. Mereka disatukan nasib yang sama. Yaitu, sama-sama tidak memiliki kaki yang sempurna. Sebagian besar diamputasi. Atau, ada juga yang bawaan sejak lahir. Baik sebelah kiri maupun kanan.

Mengetahui berita tersebut, Khusnul seperti memiliki harapan dan semangat baru. Ternyata korban amputasi atau difabel bisa berkreasi. Mereka tetap dapat menyalurkan hobi bermain bola.

Semangatnya terlecut. Khusnul pun mencari tahu keberadaan komunitas yang sama di sekitar Jawa Timur. Setelah dia mencari, ternyata ada komunitas di Bangkalan, Madura. Di sana ada Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Madura (Persam).

Nah, awal Januari 2022 dia mendapat undangan bertanding di liga sepak bola amputasi se-Jawa dan Bali. Pertandingan berlangsung di Jember. Sepulang dari Jember, dia berpikir untuk mendirikan komunitas sepak bola amputasi di Surabaya.

Sebagai kota besar, Khusnul yakin Surabaya punya potensi. Melalui pesan berantai di grup WhatsApp, akhirnya berkumpul belasan korban amputasi dan difabel di Surabaya. Obrolan membuahkan hasil. Pada 25 Februari 2022, berdirilah Persas (Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Surabaya).

Di timnas Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI), Khusnul Yakin berposisi center back. Dia menjadi tembok penghalang bagi musuh. Selain latihan yang rutin, kesan garang tampak dari penampilan fisik. Rambutnya yang panjang diikat dengan model gimbal dan kaku. Jadi, dia terkesan sangar. (*/c14/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru