Monday, 20 April, 2026

Kisah Surtini Merantau ke Jakarta 3 Dasawarsa

Jakarta masih menjadi kota yang molek bagi para kaum urban sebagai jalan pintas untuk mengubah nasibnya. Setelah satu tahun lamanya merantau di Jakarta, tiba saatnya mereka mudik ke kampung halaman untuk mengobati rasa rindunya dengan sanak famili dan handai tolan.

Tazkia Royyan Hikmatiar, Jakarta

SOROT mata Surtini, 51, tajam bak burung Elang menatap deretan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang berdiri kokoh di hadapannya menunggu penumpang. Tak ada kata yang dia ucapkan dan tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan paruh baya itu pada Minggu (16/4) sore.

Sore itu, hujan baru mereda setelah beberapa saat jalanan Kota Jakarta diguyur hujan. Bau tanah yang terguyur air hujan masih terasa. Namun tak menyurutkan para pemudik bergegas ke Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur. Tak terkecuali dengan Surtini dan keluarganya.

Dengan posisi duduk di kursi besi tempat menunggu penumpang, sesekali pandangannya teralihkan oleh aksi cucunya yang masih berusia lima tahun.

Surtini sudah tak tahu persisnya ia menginjakkan kaki di Kota Megapolitan Jakarta. Yang pasti, sejak tahun 90-an, saat masih gadis, ia memutuskan untuk menjejak wilayah baru dari tanah kelahirannya di Wonosobo, Jawa Tengah. Tujuannya satu, yaitu mencari hidup yang lebih baik lagi.

“Nyari duit susah di Wonosobo. Apalagi dulu. Kalau sekarang Dieng udah rame ya. Dulu mah susah, makanya merantau aja. Udah keenakan merantau,” ujarnya saat berbincang dengan JawaPos.com.

Kerudung putihnya ikut bergetar karena tawanya saat mengatakan itu. Baginya, tempat asing bernama Jakarta sudah menjadi topik yang menyenangkan untuk ditertawakan. Berbagai kerjaan mulai dari pembantu hingga usaha kecil-kecilan sudah pernah dilakoninnya.

Kini, ia kembali ke posisi awal, menjadi Asisten Rumah Tangga (ART). Tepatnya, ia memasak makanan untuk majikannya yang kini mengalami stroke.

“Masakin orang stroke. ART. Sementara saya mudik, catering itu. Jadi saya pamitan dulu, terus pesan catering,” ungkapnya.

Meski dengan penghasilan yang tak seberapa, ia mengaku sudah betah di Jakarta. Sebagai buktinya, di sinilah ia menemukan cintanya, suaminya. Padahal, suaminya pun orang perantauan juga. Asli Solo.

“Dulu dari gadis, terus nikah ya tetap Jakarta. Ampe punya anak, anaknya nikah masih di Jakarta. Suami asli orang Jawa, orang solo. Ketemu di Jakarta,” tutur Surtini lagi-lagi dengan tawanya.

Jakarta merupakan kota yang sangat berkesan baginya. Namun begitu, darah Wonosobo-nya tak dapat raib. Itu sebabnya hingga kini ia sekeluarga masih juga mengontrak di Pulo Gebang, Jakarta Timur. Uang yang dikumpulkannya justru malah untuk membangun rumah di kampung halamannya yang dikunjungi setahun sekali.

“Tapi anak saya satu lagi kan sekolah di sana. Pesantren,” kata perempuan berumur setengah abad itu.

Buah hatinya itulah yang menjadi satu dari sekian alasan betapa pun nyamannya Surtini tinggal di Jakarta, Wonosobo tetap tempat pulangnya.

“Mbah, mbah! Bukain,” kata cucu Surtini memecah obrolan dengan suara cemprengnya.

Dengan lembut, tangannya membukakan plastik permen untuk cucu semata wayangnya itu. Memang sedekat itu Surtini dengan cucunya. Bahkan meski ibu dari anak itu tak ikut mudik ke kampung halaman ibunya, si bocah kecil itu tetap ingin ikut dengan Surtini.

“Malah dia yang heboh banget mau ikut mudik. Ya emang sering ikut, kemarin juga ikut. Sering nginep di rumah juga,” jelasnya.

Soal anak, untuk Surtini memang selalu nomor satu. Suatu hari di tahun 2020, ia bahkan tak peduli dengan ancaman Covid-19. Anaknya yang saat itu di pesantren diminta untuk pulang oleh para pengurus pesantren, karena pandemi mulai merebak.

Anak itu hanya dapat pulang jika dijemput oleh orang tuanya. Oleh karena itu, meski dengan segala risiko dan aturan persyaratan perjalanan yang susah saat angkat Covid-19 mengalami kenaikan tinggi di Jakarta, Surtini tetap penuhi semua itu.

Minta surat keterangan dari RT-RW, kemudian mesti ke kelurahan, surat sehat dari dokter, bahkan hingga mesti melakukan tes Swab. Belum lagi, tiket bus yang menaik tajam hingga Rp 800 ribu dari yang biasa hanya Rp 200 ribu. Surtini tak mempermasalahkannya. Harga itu, bagi Surtini tak seberapa dibanding anaknya.

“Saya nekat pulang itu. Harus nyari surat-surat dulu dari RT-RW, surat dokter, pakai bus. Persyaratan banyak, tapi ya demi anak,” ucapnya sambil tersenyum.

Bagi Surtini, pulang ke Wonosobo adalah keharusan, wajib. Itu kenapa setidak-tidaknya setahun sekali ia pasti akan pulang, apapun pekerjaannya. Di tahun ini, ia bahkan meminta cuti selama sebulan untuk habiskan masa liburan di kampung halaman.

“Saya minta cuti sebulan. Pengin di kampung kan setahun saya gak pulang,” katanya.

Memang Jakarta sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Namun, memilih untuk tetap diam di sini di masa liburan mudik, apalagi lebaran baginya adalah siksaan.

“Tiap tahun pasti pulang. Lebaran di sini sepi. Sodara, keluarga, semua kan ada di Jawa semua. Jadinya pulang ke Wonosobo,” urainya.

Setelah itu, pasca tiga hari lebaran di Wonosobo, Surtini juga berencana akan mengunjungi kampung halaman suaminya di Solo. Sekaligus bertemu mertua. (jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru