Saturday, 20 June, 2026

Konsep Wisata Ampel di Tangan Arsitektur Muda

Melalui Sayembara Kawasan Penunjang Wisata Ampel, Tim Tolu melahirkan sebuah gagasan perubahan. Tim yang terdiri atas tiga arsitek muda berbakat itu membuat konsep kawasan penunjang wisata yang ramah bagi masyarakat sekitar dan pengunjung. Ingin membangkitkan tuah ing Ampeldenta atau Ampel yang dirahmati.

DIAN WAHYU PRATAMA, Surabaya

SORE itu (14/2), Nashrullah Dahlan Lubis membawa iPad ke lantai 2 kantornya. Di sebuah ruang pertemuan, sambil duduk santai dia mulai membuka iPad-nya. Dengan teliti dicarilah sebuah file masterplan Kawasan Penunjang Wisata Ampel.

“Nah, ini dia yang dicari,” celetuk ketua Tim Tolu itu sambil tersenyum Selasa (14/2) sore di kantornya, Perumahan Grand Royal Regency, Sidoarjo.

Konsep masterplan tersebut merupakan buah karya tiga arsitek muda berbakat. Yaitu, Nashrullah Dahlan Lubis, Adhitya Wira Ekaraga, dan Ima Niantiara Putri. Mereka melebur menjadi satu nama Tim Tolu yang bermakna tiga untuk mengerjakan project tersebut.

Arul, sapaan akrab Nashrullah Dahlan Lubis, mengatakan bahwa sebelum membuat masterplan, Tim Tolu melakukan kajian pustaka sejarah wisata Ampel. Kunjungan lapangan juga dilakukan ke Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian yang menjadi spot dibuatnya masterplan Kawasan Penunjang Wisata Ampel.

“Ini pengalaman pertama kami membuat konsep bangunan kawasan cagar budaya,” terangnya Selasa (14/2).

Tepat minggu ketiga Juli tahun lalu, tiga arsitek muda itu mulai menuangkan kreativitas dalam sebuah gambar. Hanya dua minggu, usai jam pulang kantor perlahan tapi pasti, mereka akhirnya dapat menyelesaikan masterplan tersebut.

Hingga lahirlah sebuah konsep Kawasan Penunjang Wisata Ampel yang ramah bagi masyarakat. Nanti kawasan tersebut diintegrasikan dengan wisata Ampel agar dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar dan pengunjung.

Pria 25 tahun tersebut menjelaskan, dibuatnya konsep itu bukan tanpa alasan. Mengingat minimnya ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan Surabaya Utara. Berdasar data yang diperoleh, hanya ada 17,5 persen RTH di wilayah tersebut. “Jadi membuat kawasan RTH baru di sini (Kawasan Penunjang Wisata Ampel Red),” papar Arul.

Nanti kawasan penunjang dibagi menjadi empat sektor. Mulai dari area Ampel, area komersial, area publik, hingga area warga. Semua area tersebut dapat diakses oleh masyarakat sekitar dan pengunjung. Dengan demikian, manfaatnya bisa dirasakan secara luas. “Ini meninggalkan kesan eksklusif kawasan tersebut. Karena sudah 96 tahun tembok tinggi itu berdiri, jadi perlu diubah,” ungkapnya.

Meski ramah untuk masyarakat, Tim Tolu tetap menonjolkan lima bangunan cagar budaya yang telah ada di RPH. Bangunan-bangunan baru di sekitarnya disusun mengalah atau miring. Tujuannya, lebih menampakkan bangunan cagar budaya supaya menjadi perwajahan kawasan penunjang.

Ketua Tim Tolu itu mengatakan, area komersial seperti co-working space, kafe, food court, dan convention hall disebar di beberapa titik kawasan penunjang. Tujuannya, seluruh bangunan cagar budaya di kawasan tersebut dapat dikunjungi oleh semua kalangan dengan value baru. “Itu yang kami harapkan,” terangnya. (*/c6/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru