Sunday, 19 April, 2026

Korban Rudapaksa Merasa Trauma Berat

TARAKAN – Pendampingan terhadap anak korban rudapaksa oleh oknum guru di salah satu SMK swasta di Tarakan, memasuki tahap assessment awal.

Namun belum dilakukan pendampingan secara menyeluruh oleh tim dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3APPKB) Tarakan.

“Karena masih ada beberapa kasus anak yang masih kita tangani psikolog, ini masih antre. Kasus sebelum ini, ada pelecehan juga. Masih ada beberapa anak belum selesai. Pendampingan ini tak cukup sekali kan,” terang Kepala DP3APPKB Tarakan Maryam, Kamis (29/9).

Pendampingan yang diterapkan terhadap anak yang menjadi korban pelecehan seksual, harus dibuat jadwal dan pemulihan khusus yang dikuasai ahli dari psikolog. Mesti begitu, pihaknya sudah bertemu dengan satu pelapor yang merupakan korban rudapaksa. Ia juga sempat melakukan beberapa pendalaman. Saat ini dilihat tampilan luar, korban mengalami trauma.

“Kita sudah ketemu korban di unit PPA Polres Tarakan. Sudah ketemu dengan orang tua dan anak yang menjadi korban. Secara fisik psikis kita lihat kayaknya trauma banget. Ajak bicara juga lebih banyak diam, tatapan matanya tidak fokus. Dari raut wajahnya, perilakunya lebih banyak diam,” urainya.

Sehingga, pihaknya belum bisa menggali lebih lanjut informasi terhadap korban. Ia juga menepis dugaan korban hamil dampak dari rudapaksa yang dilakukan pelaku yang kini ditetapkan tersangka. Namun keterangan dari korban, pelaku dimungkinkan memakai alat kontrasepsi.

“Itu juga kita herankan apakah merencanakan. Karena sepertinya terhadap satu anak yang melapor ini, dua kali mengalami. Kemudian korban lainnya, belum kami temui,” ungkapnya.

Berdasarkan pengamatannya, kemungkinan besar, korban mengalami ketakutan dan rasa tidak percaya diri melaporkan apa yang dialami. Tersangka diduga sudah lebih dari sekali melakukan rudapaksa. Pihaknya juga khawatir, korban mendapat ancaman. Mesti belum mendapat informasi dari pihak kepolisian.

“Karena hampir semua korban anak kan di bawah ancaman pelaku biasanya pada kasus serupa,” imbuhnya.

Kondisi tubuh korban menunjukkan perubahan dan diperhatikan oleh ibu kantin di sekolah. Sehingga aksi tersebut bisa terkuak dan dilaporkan ke polisi. Parahnya lagi, korban tidak mau masuk belajar saat tersangka memberikan materi pelajaran agama. Akhirnya, korban memberanikan diri mengungkapkan kejadian tersebut ke ibu kantin. Selanjutnya disampaikan kepada guru lain di sekolah tersebut.

Ibu kantin bicara ke pihak guru, bahwa ada satu siswi dilecehkan. Dari perilaku anak itu tidak melapor, karena trauma mendalam. “Dia tak berani masuk saat jam pelajaran guru agama itu. Kok berbulan-bulan engga masuk jam pelajaran itu. Orang tuanya hanya sebatas bertanya. Dijawab, ndak mau, malas,” tuturnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru