Friday, 10 April, 2026

Laju Learning Loss di Bulungan Berhasil Ditekan

TANJUNG SELOR – Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) sejak tahun 2017 silam sudah bermitra dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan, dalam menyelenggarakan literasi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan.

Berdasarkan hasil pengukuran kemampuan membaca yang dilakukan kepada 16.757 siswa SD di Bulungan. Pada tahun ini, angka learning loss menunjukkan tidak lebih buruk dari hasil pengukuran tahun 2017 silam. Bupati Bulungan Syarwani pun memberikan apresiasi terhadap pencapaian tersebut.

Dikatakan Syarwani, keberhasilan menahan laju learning loss merupakan hasil program pemulihan pembelajaran. Hal inipun tertuang dalam Surat Edaran Bupati Bulungan Nomor 422/5087/DISDIKBUD III/XI/2021, semua elemen pendidikan dari mulai PAUD, SD, dan SMP digerakkan untuk melakukan pemulihan pembelajaran.

Pemulihan pembelajaran di Bulungan diimplementasikan dengan melaksanakan pembelajaran tatap muka, penerapan pembelajaran terdiferensiasi. Diantaranya menggunakan kurikulum dalam kondisi khusus atau darurat, melakukan asesmen diagnosis kognitif dan non-kognitif. Kemudian, menggunakan modul literasi-numerasi dari Kemdikbudristek. Termasuk pendampingan belajar dengan pendekatan teaching at the right level, memberikan akses bacaan sebesar-besarnya kepada siswa. Untuk meningkatkan budaya baca.

“Juga peningkatan kapasitas guru melalui sistem komunitas belajar, dan melakukan penjaminan mutu bersama oleh Disdikbud Bulungan, BPMP Kaltara, BGP Kaltara, dan Program INOVASI,” sebut Syarwani.

Dalam mendukung program pemulihan pembelajaran, pemkab akan menggunakan pengalaman dari program literasi kelas awal. Program literasi kelas awal menggunakan asesmen diagnostik, pembelajaran terdiferensiasi, dan fokus untuk meningkatkan keterampilan membaca.

“Ketiga pendekatan program literasi awal ini, sama seperti karakteristik umum kurikulum merdeka. Dengan kesamaan ini, implementasi kurikulum merdeka di Bulungan akan lebih efektif dan efesien,” jelas Syarwani.

Di lain pihak, Manajer Inovasi Kaltara Handoko Didagd menungkapkan, upaya yang dilakukan Disdikbud, pengawas, dan guru memberikan hasil yang luar biasa. Dalam menahan learning loss yang ada.

“Saya berharap upaya ini harus diteruskan. Karena pemulihan pembelajaran, tidak bisa dilaksanakan dengan cepat dalam 2 hingga 3 tahun,” ujar Handoko.

Terakit dengan tenaga konseling, lanjut Handoko, sangat penting. Artinya guru selain bisa mengukur kompetensi akademik. Juga harus bisa mengukur kompetensi non akademik atau kesiapan anak-anak untuk belajar.

“Masalah psikologis, masalah yang dihadapi di rumah, tempat bermain di luar sekolah, itu juga perlu diperhatikan,” imbuhnya. Pasalnya, di kementerian sudah ada anjuran untuk melakukan asesmen non akademik, non kognitif itu juga harus dilakukan. Sehingga guru-guru dapat mengetahui psikologis dari anak-anak. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru