Agus Windharto melibatkan dosen, mahasiswa, dan alumni ITS dalam merancang desain LRT Jabodebek.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya
SUASANA Studio Creative Center Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, terlihat sibuk pada Senin (28/8) lalu. Di dalamnya, dipenuhi anak muda kreatif yang tengah merancang desain inovasi transportasi publik.
Beberapa prototipe hasil karya inovasi desain mereka pun terpajang rapi di dalam studio tersebut. Mulai dari KRL Palembang, kereta cepat, sepeda motor GESITS keluaran terbaru.
Ya, mereka adalah tim yang bekerja di bawah bimbingan Dr Agus Windharto DEA, dosen Departemen Desain Produk Industri (Despro) ITS. Agus sendiri dipercaya menjadi ketua Design and Engineering Team untuk bagian interior dan eksterior LRT Jabodebek yang baru saja diluncurkan.
Desain LRT Jabodebek adalah salah satu karya terbaik dari tim Studio Creative Center ITS. Sebelumnya, Agus bersama tim juga telah membantu PT INKA merancang desain LRT Palembang pada 2017–2018 melalui program riset dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).
Kemudian, dilanjutkan membuat desain LRT Jabodebek pada 2018–2020. Hingga akhirnya, karya inovasi desain LRT Jabodebek diproduksi oleh PT INKA.
“Saya melibatkan dosen, mahasiswa, dan alumni dalam merancang desain LRT Jabodebek ini,” kata Agus saat ditemui Jawa Pos di Studio Creative Center ITS.
Direktur Pusat Desain ITS itu menuturkan, masalah yang dihadapi Jakarta saat ini sangat kompleks. Setidaknya ada lima permasalahan yang harus diatasi di Jakarta. Di antaranya, traffic congestion, pollution, inefficiency and unproductivity, city layout, dan safety and comfort.
Masalah kemacetan yang belum terurai membuat banyak orang harus menghabiskan waktu 2-3 jam di jalan. Hal itu membuat produktivitas manusia menurun hingga terjadi ketidakefisienan.
“Belum lagi masalah polusi yang saat ini tengah ramai dan transportasi publik, yang selalu padat di saat jam pulang kerja dan tingkat keamanan,” ujarnya.
Itu sebabnya, LRT menjadi solusi dari lima masalah kompleks tersebut. Setidaknya, dengan adanya LRT, orang tidak menggunakan mobil pribadi. Di Jakarta sendiri, sudah ada mass rapid transportation (MRT). Selain itu juga ada KRL Commuter, Trans Jakarta, Minitrans, mikrotrans, JR Connexion dan kemudian ada LRT Jakpro dan LRT Jabodebek.
“Tanpa LRT, transportasi Jakarta kurang support untuk mengatasi kelima masalah tersebut,” kata lulusan doktoral di Universite de Tchnologie De Compiegne (UTC) Prancis itu.
Agus menyebutkan, LRT Jabodebek sendiri memiliki rute existing di tiga jalur baru. Yakni, Dukuh Atas-Cawang 11,05 kilometer, Cawang-Bekasi 18,5 kilometer dan Cawang-Cibubur 17,6 kilometer. Kemudian, rute extension LRT Jabodebek adalah Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, Palmerah-Grogol, dan Bekasi Timur-Cikarang.
“Jalan tersebut merupakan paling macet. Untuk mendesain LRT kami harus mempelajari aspek makro,” kata dia.
LRT menjadi solusi karena sistem LRT hanya membutuhkan tanah 10 meter saja. Jadi, investasinya jauh lebih murah dibanding kereta biasa. Sebab, LRT menggunakan sistem elevated sehingga membutuhkan tanah yang minim. Selain itu, frekuensinya lincah. Jadi, desain kereta api LRT harus dibuat lebih ringan dan lincah.
“Dalam mendesain transportasi massal itu investasi terbesar ada di infrastruktur. Mulai pembebasan lahan, biaya beton, pembuatan stasiun, instalasi listriknya. 70-80 persen untuk infrastruktur dan 20 persen untuk biaya modanya,” jelasnya.
Namun, LRT justru investasi infrastrukturnya lebih rendah dibanding KRL yang jauh lebih berat. Jika KRL satu gerbong bisa mencapai 50 ton, maka LRT hanya 40 ton. Desain LRT juga dibuat lebih langsing dan ringan. Kecepatan maksimal bisa mencapai 80 kilometer per jam dengan kecepatan standar 70 kilometer per jam.
“Tapi, LRT tidak untuk jarak jauh. Desain kereta LRT juga tidak panjang agar bisa untuk berbelok,” ucapnya.
Agus mendesain car body dari LRT dengan menggunakan material alumunium yang sudah spec tinggi. Jadi, meski ringan, tetapi memiliki kekuatan tinggi atau kokoh. Desain tersebut harus memenuhi aspek-aspek yang telah ditentukan. Mulai dari LRT system, mode dan industri infrastruktur, operasional dan keamanan, design engineering dan technology, environment, financial dan economy dan local content strategies.
“Sebagian besar kami menggunakan komponen produk lokal,” imbuh dia.
ITS dalam hal ini bekerja sama dengan PT INKA, BRIN, PT KAI dan pemerintah DKI Jakarta. Mulai dari riset, design engineering, procurement, prototipe, produksi hingga tes dan sertifikasi.
“Kami membuktikan triple helix berjalan dengan baik. Kami membangun ekosistem inovasi di mana riset perguruan tinggi disambut oleh industri dan pemerintah,” ungkapnya. (*/ttg/jpg)


