Mengalami jarak pandang terbatas sejak taman kanak-kanak, dukungan penuh keluarga membuat Maulana Rifky termotivasi untuk berprestasi. Memilih renang mengikuti jejak sang kakak.
GALIH WICAKSONO, Gresik
DI hadapan Maulana Rifky Yavianda, semua tampak buram. Gambar, wajah, segalanya. Nyaris sepanjang hidup dia harus berdamai dengan low vision atau jarak pandang terbatas itu.
Berdamai, tapi tidak berarti takluk. Gangguan indra penglihatan tersebut tak sekali pun menyurutkan semangatnya untuk memburu prestasi. Dia memilih renang sebagai medium pembuktian. Dan, hasil perjuangan sejak belia itu terus dipetik pemuda kelahiran Gresik, Jawa Timur, 21 tahun lalu tersebut sekarang.
Di Asian Para Games 2022 yang dihelat di Hangzhou, Tiongkok, pada 22–28 Oktober lalu, Rifky merebut 2 emas dan 1 perak. Perinciannya, 1 medali emas kategori 100 meter gaya punggung kelas S12, 1 medali emas kategori 100 meter gaya bebas kelas S12, serta 1 medali perak kategori 100 meter gaya kupu-kupu kelas S12.
Raihan itu melengkapi tujuh medali yang dia rebut pada ASEAN Para Games tahun ini di Phnom Penh, Kamboja. Dan lima medali di Solo tahun lalu dari ajang yang sama. Di dua ajang tersebut dia masing-masing memecahkan tiga dan dua rekor Asia Tenggara.
Kesuksesan Rifky itu berjalan beriringan dengan kesuksesan kontingen Indonesia di Asian Para Games 2023. Indonesia meraih 29 emas, 30 perak, 36 perunggu, dan menduduki peringkat ke-6. Jauh melampaui target 19 emas dan posisi 10 besar.
“Tiap berangkat ke turnamen apa pun, saya memang selalu berusaha optimistis bisa merebut medali,” katanya kepada Jawa Pos, Selasa (31/10).
Putra pasangan Bagus dan Pipit Novita itu mengalami low vision sejak duduk di bangku taman kanak-kanak. Untung, keluarga selalu mendukung dan menyemangati. Kalau kemudian renang yang dipilih anak kedua dari tiga bersaudara tersebut, itu karena dia mengikuti jejak sang kakak.
Dengan suntikan motivasi dari orang tua, Rifky gigih berlatih pagi dan sore. Juga rajin mengikuti ajang demi ajang. Satu demi satu medali pun mulai dia raih. Bakat serta raihannya itu akhirnya membuatnya dilirik National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) atau Komite Paralimpiade Nasional Indonesia pada 2019.
Di bawah gemblengan komite yang berkantor pusat di Solo tersebut, bakat dan kemampuan Rifky makin terasah. Termasuk ketiga medali Asian Para Games, Rifky sudah mengoleksi 23 medali sejak bergabung NPCI. Semua medali itu diraih dari berbagai ajang, regional sampai internasional.
Kunci keberhasilannya, kata Rifky, tak lain adalah kegigihan berlatih. Dia disiplin menjalaninya, pagi dan sore, dan di sela-selanya dia memanfaatkannya untuk menuntut ilmu di Universitas Tunas Pembangunan Solo.
Kunci sukses lainnya? Pamit dan memohon doa orang tua. “Saya selalu menyempatkan diri pulang tiap akan berangkat ke turnamen. Kalau terpaksa tak sempat, saya telepon orang tua yang di Gresik,” ungkapnya.
Kini, setelah sukses di level Asia Tenggara dan Asia, Rifky membidik prestasi yang lebih tinggi: Paralimpik. Ajang kelas dunia tersebut bakal dihelat di Paris, Prancis, tahun depan. “Saya tidak pernah berpuas diri, berusaha terus mengharumkan nama Indonesia. Mudah-mudahan dari Paralimpik nanti saya bisa bawa pulang medali,” harapnya. (*/c9/ttg/jpg)


