Tuesday, 28 April, 2026

Meluncur Dua Bulan Lagi, Kereta Cepat Jakarta–Bandung, Sehari Bisa Tempuh 68 Kali Perjalanan

Megaproyek kereta cepat Jakarta–Bandung (KCJB) dibangun pada Januari 2016. Setelah tujuh tahun lebih, layanan KA cepat pertama di Indonesia dan Asia Tenggara itu akhirnya siap dioperasikan.

PEMERINTAH menargetkan kereta api berkecepatan hingga 350 km/jam tersebut beroperasi pada Oktober 2023. Sebelum beroperasi secara komersial, KCJB akan diuji coba pada awal September 2023.

Pada masa tersebut, masyarakat bisa menjajal KA cepat relasi Jakarta–Bandung itu tanpa dikenai biaya. Mekanisme dan ketentuan bagi masyarakat yang ingin mengikuti uji coba gratis akan diumumkan melalui saluran informasi PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC).

Menjelang pengoperasian, pembangunan prasarana KCJB telah menunjukkan progres signifikan. Hingga Juli 2023, proses konstruksi telah mencapai 95,57 persen.

Serangkaian uji coba juga telah dilakukan. Antara lain, uji coba menggunakan kereta inspeksi (CIT) dan kereta penumpang (EMU) yang digandeng. Uji coba tersebut mencapai kecepatan 350 km/jam yang berhasil mengukir rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) sebagai kereta api dengan laju kecepatan tertinggi di Indonesia. Uji coba tersebut sengaja dilakukan untuk menguji kemampuan prasarana KCJB.

“Pada momen-momen tertentu, rangkaian KCJB dapat digabungkan untuk meningkatkan kapasitas angkut. Utamanya untuk mengantisipasi lonjakan penumpang pada high season seperti mudik, Nataru, libur panjang, dan lainnya,” ungkap Manager Corporate Communication KCIC Emir Monti beberapa waktu lalu.

Uji coba tersebut sengaja dilakukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan izin operasi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Kemenhub juga terus melakukan pengawasan secara intensif bersama konsultan dari Eropa sebelum mengeluarkan izin. Dari sisi target waktu, izin operasi diberikan selambatnya 1 Oktober 2023.

Sebagai transportasi berteknologi tinggi, KCJB memerlukan jaringan komunikasi yang andal untuk menciptakan keselamatan perjalanannya. Untuk memastikan sistem persinyalan dan komunikasi berjalan lancar, KCIC menggunakan global system for mobile communication railway atau GSM-R. Teknologi itu juga digunakan pada industri perkeretaapian di Eropa, Arab Saudi, dan Tiongkok.

“Dengan GSM-R, tingkat keamanan yang lebih tinggi dapat dicapai karena komunikasi akan berlangsung setiap saat tanpa terputus. Termasuk area seperti terowongan, di mana komunikasi radio sebelumnya tidak mungkin dilakukan,” ujar Emir.

General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, uji coba dengan penumpang direncanakan awal September. “Nah, mudah-mudahan pertengahan Agustus ini kalau sudah final, bisa kita informasikan,” ucap Eva.

Saat tahap uji coba itu, lanjut Eva, KA cepat akan beroperasi 20 kali perjalanan per hari. Namun, setelah resmi beroperasi (komersial), akan ada 68 perjalanan per hari dengan headway (jeda) sekitar 20 menit.

“Tapi, kalau untuk besaran tarifnya, harus menunggu keputusan final, baru bisa menginformasikan. Pasti sebelum beroperasi, semuanya secara lengkap akan disosialisasikan,” terang Eva.

Khusus akses di Stasiun Karawang yang belum ada, Eva mengatakan saat ini sedang dalam pengerjaan. “Kita pastikan pada saat stasiun tersebut dioperasikan, aksesnya sudah selesai dan tersedia,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi menjelaskan, pihaknya berkomitmen menyiapkan akses menuju area stasiun KA cepat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Penyediaan akses tersebut dapat dilakukan melalui dukungan pemerintah pusat, daerah, BUMN, swasta, dan para operator transportasi.

“Kehadiran integrasi antarmoda diperlukan untuk memudahkan masyarakat. Dengan akses yang mudah dan moda transportasi beragam, diharapkan masyarakat tidak kesulitan untuk menuju Stasiun Halim yang nanti juga dilengkapi berbagai pusat aktivitas seperti perkantoran, hotel, ritel, dan lainnya,” ujar Dwiyana.

Untuk Stasiun Padalarang, misalnya, telah memiliki jalan existing yang diperbaiki dan diperlebar. Nanti ada akses penghubung dengan kawasan Kota Baru Parahyangan yang memiliki area drop-off dan sky bridge yang terhubung langsung dengan bangunan stasiun.

“Stasiun Padalarang akan memiliki layanan intermoda berupa KA Feeder, Commuter Line Bandung Raya, Commuter Line Garut, BRT Trans Metro Pasundan, DAMRI, shuttle, angkutan dalam kota, serta taksi konvensional dan online,” ucap Dwiyana.

Untuk Stasiun Karawang, akan tersedia akses jalan dari kawasan THK dan Deltamas serta exit toll Km 42 tol Jakarta–Cikampek yang seluruhnya sedang dalam tahap persiapan pembangunan. “KCIC juga akan menyediakan DAMRI, BRT JR Connexion, serta taksi konvensional dan online untuk menunjang perjalanan first mile maupun last mile penumpang,” terangnya.

Lalu, Stasiun Tegalluar saat ini telah memiliki akses dari Jembatan Cibiru Hilir yang baru saja dioperasikan.

“Akan tersedia banyak pilihan untuk menuju stasiun KA cepat. Penumpang bisa memilih akses mana yang paling sesuai dengan moda transportasi yang dipakai. Aksesibilitas dan integrasi moda transportasi menjadi salah satu komponen penting dalam menyediakan layanan yang memudahkan masyarakat,” tandasnya. (gih/c7/oni/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru