Thursday, 7 May, 2026

Mengunjungi Cup of Hope di Surabaya, Kafe Berkonsep Harapan Positif

Di Cup of Hope, pengunjung akan mendapatkan sebuah kartu berisi kata-kata penuh harapan. Terkadang, kata-kata yang dibacakan oleh pelayan tersebut sama dengan kondisi yang dihadapi pengunjung saat itu.

RAMADHONI CAHYA C., Surabaya

NGAFE ditemani teman-teman dan kudapan yang lezat sudah biasa. Di Cup of Hope, setiap pengunjung akan mendapatkan sebuah kartu dari pelayan. Kartu itu bertulisan harapan. Sebelum memberikan kartu tersebut, pelayan membacakannya.

Salah satu kalimat yang tertera dalam kartu tersebut adalah pray more, worry less atau perbanyak ibadah, kurangi kekhawatiran. Meski pendek, pesan yang disampaikan itu punya arti yang dalam.

Kafe di Jalan Tenggilis Mejoyo itu membawa misi memberi harapan bagi setiap orang. Setiap pengunjung bakal mendapatkan sebuah kartu saat memesan.

Setidaknya, ada 50 kartu dengan tulisan berbeda setiap bulan dan selalu berganti. Pengunjung yang baru pertama datang pasti kaget. Responsnya juga beragam.

Terlebih, kalimat positif pada kartu tersebut sesuai dengan isi hati pengunjung saat itu. Representative Cup of Hope Yudianto Prabowo menceritakan, pernah ada pengunjung yang mendapat kartu untuk menanyakan kabar orang tuanya.

“Ternyata, dia baru saja bertengkar dengan ibunya dan bilang ke pegawai kalau ini nyambung,” tuturnya, Minggu (29/10) lalu.

Untuk membuat pesan positif itu, Yudi bekerja sama dengan lima penulis khusus. Pihak kafe juga sempat berkolaborasi dengan artist lokal dalam mendesain kartu bergambar. Ide kampanye tersebut berawal saat pandemi.

Banyak orang yang putus asa. Mereka ingin memberikan harapan bagi masyarakat agar tetap bertahan pada kondisi apa pun. “Tidak ada tema khusus, asalkan kalimatnya tetap positif,” katanya.

Hasilnya bisa terbilang sukses. Banyak pelanggan yang mengaku mendapat semangat baru hingga tenang menghadapi masalah. Lalu, apakah masih relate meski pandemi telah usai? Menurut Yudi, ternyata masih banyak yang penasaran dengan metode penyampaian itu sampai saat ini.

“Tetap ada kurasi agar isinya pas, misal tidak terlalu sendu atau grammar kurang tepat,” papar Yudi.

Konsep itu memang terbilang simpel. Penyampaian pelayan kepada pemesan tak lebih dari lima menit. Tapi, membawa dampak luar biasa bagi para pengunjung. Yang pasti, Cup of Hope ingin membawa harapan bagi siapa pun.

Tak terkecuali bagi para pegawainya. Yang ternyata, banyak yang sempat memiliki masalah hilang harapan. “Anaknya ngomong aku enggak bisa apa-apa, tetap kami latih sampai bisa,” tutur Yudi.

Kafe tersebut ingin menciptakan lingkungan yang nyaman bukan hanya untuk bekerja. Namun, juga sebagai rumah bagi pegawai yang memiliki latar belakang broken home. Bahkan, ada yang jauh datang dari luar kota tanpa sanak famili tetap diterima bekerja.

“Kami melihat kekuatan kata-kata bisa membawa dampak lebih bagi lingkungan,” ujar dia. (*/c6/aph/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru