Wednesday, 15 April, 2026

Menyaksikan Ketangguhan ”Wanita Tangguh”, Komunitas Driver Online Perempuan di Jatim

Lebih dari seribu mitra ojek online perempuan lintas aplikasi bertarung di jalanan Surabaya dan sejumlah kota lain di Jatim. Di sela menanti ’’panggilan rezeki’’, mereka menyempatkan diri berkumpul, saling menguatkan, dan berbagi untuk sesama.

I’IED RAHMAT RIFADIN, Surabaya

”WANTI-WANTI” langsung disampaikan Yuniawati. “Pokok e Sampean lek melu aku kudu siap kesel (Pokoknya kalau Sampean ikut saya harus siap capek),” kata koordinator Wanita Tangguh wilayah Surabaya tersebut pagi itu.

Dia mengucapkannya saat mengiyakan permintaan Jawa Pos untuk mengikuti aktivitasnya seharian. Dan, benar saja, sepanjang hari pada Kamis pekan lalu itu, perempuan yang biasa dipanggil Mbok Mak tersebut mengajak Jawa Pos berkeliling ke tiga titik yang saling berjauhan.

Wira-wiri menembus kemacetan Jalan Raya Surabaya–Sidoarjo di jam kerja menggunakan motor roda dua. Bersama puluhan teman-temannya yang tergabung dalam komunitas Wanita Tangguh dari wilayah Surabaya dan Sidoarjo.

Pagi-pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, Mbok Mak dkk sudah berada di Dusun Mlaten, Sidokepung, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim).

Di sana mereka membantu aktivitas dapur umum di tenda darurat yang didirikan tim Tagana Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo untuk korban bencana angin puting beliung.

Layaknya para ibu, puluhan perempuan pengemudi online lintas aplikasi tersebut tak canggung. Mereka langsung berbaur di dapur darurat itu dengan para relawan lain, menyiapkan sarapan nasi bungkus untuk warga setempat. “Sudah beberapa hari ini kami bantu-bantu di sini,” ucap Stefani Choestin, koordinator Wanita Tangguh wilayah Sidoarjo.

Di tengah sibuk memasukkan nasi ke wadah satu per satu, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi ponsel. Tati Mujilestari, sang pemilik gawai, langsung melihat layar. Sejurus kemudian, dia langsung bergegas berdiri dan pamit. “Izin geser sebentar, dapat orderan. Lumayan lokasinya nggak jauh dari sini,” ucapnya sambil nyelonong pergi.

Yuniawati yang berbincang dengan Jawa Pos mengungkapkan, hal seperti itu sudah biasa di tengah kegiatan komunitas. Jika ada ”panggilan rezeki”, ya harus pergi. “Namanya juga ojek online, Mas,” ucap perempuan 48 tahun tersebut.

Ani Anggorowati, koordinator Wanita Tangguh Jatim, menambahkan, meski aktif mengadakan berbagai kegiatan sosial dan pelatihan, anggota komunitasnya memang tidak mudah meninggalkan kewajiban utama mereka tersebut. Sebab, sebagian besar dari mereka adalah pencari nafkah tunggal di keluarga masing-masing.

“Sebanyak 90 persen dari kami ini single parent. Kalau ndak tetap ngambil orderan ojek online, dari mana lagi cari uang,” ucap Ani.

Tapi, ada alasan lain juga yang membuat para anggota komunitas ini rela menyisihkan waktu berkumpul di tengah kesibukan masing-masing mencari orderan. Itu karena di komunitas tersebut mereka menemukan keluarga yang saling menguatkan.

Sebagai sesama kaum perempuan yang bertarung setiap hari di jalanan, ikatan mereka terbentuk begitu saja. “Kadang, kami ini masih merasa dianggap sebagai kelas masyarakat yang paling rendah. Padahal, kami ini cari uang halal buat keluarga,” ucap Stefani.

Perempuan 60 tahun itu mengatakan, meski tidak banyak, dia masih menemukan masyarakat yang memandang sebelah mata seorang ojek online seperti dirinya. Pernah dia mengirim sebuah paket. Saat sudah saling berhadapan dan akan memberikan barang langsung ke pelanggan itu, dia malah disuruh mundur menjauh dari pelanggan tersebut dengan nada tinggi.

Dia lantas diminta menaruh paket di teras rumah pelanggan tersebut. “Mungkin dia jijik sama saya. Yo loro nang ati lek ketemu seng koyok ngono (Ya sakit hati kalau ketemu yang seperti itu). Di sini kami bisa saling berbagi pengalaman seperti itu dan saling menguatkan,” jelas Stefani.

Nunik Handini, driver lain, punya cerita berbeda. “Keluarga saya sendiri aja masih nganggap saya pengangguran gak punya gaji. Koen iku kerjo seng genah ngono lo, kerjo kok ngojek (kamu itu kerja yang betulan gitu lo, kerja kok ngojek)’. Padahal kan saya cari duit halal di sini,” ucap Ninuk.

Meski masih harus menghadapi stigma saat persaingan sebagai driver online saat ini semakin ketat, Nunik bersyukur. Sebab, penghasilan dari pekerjaannya sekarang masih cukup untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari.

“Sambil nyambi-nyambi jualan yang lain, Mas. Promosinya ya lewat teman-teman di komunitas ini,” tambah Nunik.

Komunitas Wanita Tangguh terbentuk baru Desember tahun lalu. Awalnya, jelang memperingati Hari Ibu, Asosiasi Driver Online (ADO) Jatim menghadap ke Gubernur Khofifah Indar Parawansa.

ADO Jatim saat itu mengutarakan, ada banyak driver online perempuan di Jatim yang perlu mendapat perhatian pemerintah provinsi. Khofifah langsung bergerak cepat.

Gubernur perempuan pertama Jatim itu menindaklanjuti dengan mengadakan audiensi dengan para driver online perempuan se-Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik di Islamic Center Surabaya pada 30 Desember 2021.

“Sekarang total anggota Wanita Tangguh se-Jatim sudah ada 1.152. Itu terverifikasi sebagai driver online semua,” kata Asmuin, ketua ADO Jatim, kepada Jawa Pos.

Mereka, lanjut Asmuin, berasal dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Malang, Lumajang, dan Pasuruan. Ada beberapa kota lain yang akan menyusul bergabung seperti Banyuwangi. “Masih proses,” ucapnya.

Pria yang akrab dipanggil Cak Muin itu menjelaskan, pendataan dilakukan karena komunitas Wanita Tangguh kini aktif menjalin kerja sama dengan berbagai dinas terkait. Baik itu di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. Di antaranya seperti dinas sosial, dinas tenaga kerja, serta dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Dinas-dinas tersebut kini aktif memberikan bantuan dan mengadakan pelatihan secara rutin untuk para driver online perempuan tersebut. Pelatihan yang diadakan terdiri atas berbagai jenis. Di antaranya kursus menjahit, membuat kue, kerajinan tangan, maupun kiat-kiat memulai bisnis UMKM.

“Harapannya tentu agar anggota komunitas Wanita Tangguh ini juga bisa memiliki penghasilan di luar ojek online. Karena bagaimanapun, potensi kerawanan di jalan setiap hari cukup besar,” ujarnya.

Sekitar pukul 11.00 siang itu, setelah beres menyiapkan sarapan nasi bungkus untuk para korban bencana angin puting beliung di Buduran, Sidoarjo, Mbok Mak dan teman-temannya bergegas geser ke tengah kota Surabaya di kawasan Ngagel.

Surabaya sedang panas-panasnya saat itu. Tapi, ada undangan yang menanti untuk komunitas tersebut dari sebuah organisasi masyarakat.

Setelahnya, saat asar menjelang, mereka geser lagi ke titik ketiga untuk menghadiri sebuah undangan pengajian bersama. Di tengah kesibukan itu, para wanita tangguh tersebut masih tetap mengaktifkan aplikasi masing-masing untuk menanti ”panggilan rezeki”.

“Temenan pegel kan, lek ngetotno aku (betulan capek kan karena ngikutin saya),” ucap Mbok Mak kepada Jawa Pos seraya tertawa sore itu. (*/c17/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru