Wednesday, 29 April, 2026

Menyongsong IKN yang Hijau, Canggih, dan Bekebudayaan: 25 Persen Bangunan, 75 Persen Hutan Hujan Tropis  

Perayaan 17 Agustus di Istana Negara tahun ini hampir pasti bakal jadi seremoni hari kemerdekaan terakhir Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta. Sebab, di perayaan yang sama tahun depan, sekaligus jelang akhir masa kepemimpinannya yang kedua, ditargetkan untuk dihelat di pengganti Jakarta: Ibu Kota Nusantara (IKN)

UNTUK itu, pembangunan di ibu kota baru tersebut terus digeber: dari fisik sampai nonfisik. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, misalnya, tengah mempercepat pembangunan jalan tol dari Balikpapan ke kawasan inti pemerintahan IKN.

Pembangunan jembatan duplikasi bentang pendek Pulau Balang di Kalimantan Timur yang tersambung dengan jalan tol akses IKN segmen 5A Simpang Tempadung–Jembatan Pulau Balang juga sudah mencapai 25,3 persen penyelesaian.

Adapun untuk Jalan Lingkar Sepaku dan Jalan Sumbu Kebangsaan sisi barat ditargetkan selesai April 2024. Sedangkan Jalan Sumbu Kebangsaan sisi timur diproyeksikan selesai sebulan lebih awal.

Pemerintah juga akan membangun bandara very very important person (VVIP) yang berlokasi di Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, untuk kepentingan kegiatan pemerintahan. “Saya harapkan apa yang kita bangun ini akan dapat digunakan pada saat 17 Agustus 2024,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pekan lalu.

Untuk nonfisik, Kaltim Post melaporkan, Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) dan enam perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka Indonesia bersepakat membentuk konsorsium. Enam PTN itu adalah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, dan Universitas Mulawarman.

“Nusantara tidak hanya dibangun secara fisik, namun juga nonfisik. Keduanya sama pentingnya, seperti yang selalu disampaikan Bapak Presiden (Joko Widodo),” ungkap Kepala OIKN Bambang Susantono di Samboja Lodge, Borneo Orangutan Survival, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara (4/8).

Nusantara, lanjut Bambang, harus menjadi pusat keilmuan dan penelitian. Dengan tujuan IKN yang futuristis di 2045 yang memiliki kekayaan intelektual di berbagai bidang ilmu pengetahuan serta teknologi.

IKN memang dibangun dengan semangat mengedepankan kecanggihan teknologi, kelengkapan fasilitas, dengan tetap memuliakan lingkungan. Bambang menjelaskan, kawasan IKN dikembangkan dengan basis sustainable forest city (kota hutan berkelanjutan). Yang dicita-citakan, 25 persen bangunan dan 75 persen hutan hujan tropis.

Untuk konsep kelistrikan pun, PT PLN (Persero) menyiapkan konsep state of the art of technology dengan berbasis pada pasokan listrik ramah lingkungan, indah, serta didukung oleh teknologi pintar.

“Revitalisasi kelistrikan Istana ini ibaratnya adalah prototipe bagi kami untuk membangun sistem kelistrikan yang lebih besar lagi, yaitu sistem kelistrikan di IKN,” jelas Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo.

Keseriusan untuk membangun ibu kota yang ramah lingkungan juga ditunjukkan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) dengan meneken nota kesepahaman bersama Asian Development Bank (ADB). Ini dalam upaya untuk membangun IKN sebagai kota hutan netral karbon.

Agar kota baru ini hidup, pemerintah tidak hanya mementingkan infrastruktur dan teknologi saja. Seni dan budaya pun turut dibangun. Pada 3 Agustus lalu, misalnya, Bambang mendengarkan masukan seniman dan budayawan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. “Saya ingin membangun taman yang bisa dipakai untuk mengaktualisasi seni dan budaya. Bakal ada teater-teater seperti di sini (Jakarta),” katanya.

Pada kesempatan itu, Bambang juga menyebut Indonesia telah mampu memikat investor untuk berinvestasi di IKN. Sudah lebih 250 letter of intent yang diterima. Sebagian besar investor berasal dari Singapura, Korea Selatan, Uni Eropa, Amerika, hingga Tiongkok. Energi terbarukan, properti, dan teknologi menjadi minat utama oleh para investor.

“Untuk jumlah negara, terakhir saya lihat 17 negara, mungkin sekarang sudah 19 ya,” ungkap Bambang.

Di mata Rektor Universitas Brawijaya Widodo, IKN akan menjadi laboratorium besar berskala internasional yang harus mampu menyelaraskan interaksi antara masyarakat dan alam. Untuk itu, pihaknya fokus untuk bisa membantu menyeimbangkan.

“Bagaimana orang bisa mengapresiasi local wisdom dan nature, diselaraskan pula dengan dunia digital,” ucap Widodo.

Adapun bagi Rektor UI Ari Kuncoro, kolaborasi yang sedang dibangun dalam pembangunan IKN menjadi bagian penting agar tidak mengulangi kesalahan yang terjadi di dunia dalam membangun sebuah kota.

“Konsorsium ini menjadi keunikan karena mengamati yang sedang berlangsung. Bagaimana IKN menjadi sebuah hal yang mencari keseimbangan baru,” katanya. (jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru