Kalimas dikenal sebagai pusat perdagangan pada akhir abad ke-13. Adanya Menara Pandang berusia ratusan tahun jadi bukti kejayaan sungai pada masa lampau. Sempat didatangi Laskar Rempah dari seluruh Indonesia, bangunan lawas itu kini ditinggali masyarakat.
EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya
PINTU gerbang lorong Menara Pandang terbuka pelan-pelan. Seorang perempuan berambut pendek muncul dari dalam ruangan. Dia lantas tersenyum dan mempersilakan seluruh tamu untuk masuk.
Ada sekitar 50 orang yang berjubel di luar bangunan sambil menunggu giliran. Karena lebar ruangan hanya 2 meter, para tamu harus bergantian untuk masuk. Mereka harus mengatur barisan agar tidak pengap saat berada di dalam ruangan. “Sebenarnya, sudah sering dibersihkan. Namun karena usianya sudah tua, debu cepat masuk,” ungkap Fransisca.
Perempuan berusia 50 tahun itu merupakan penghuni Menara Pandang. Dia tinggal bersama lima anggota keluarganya.
“Sudah tak ingat lagi. Saya lahir di sini (Menara Pandang, Red),” jelas Fransisca saat ditanya terkait berapa lama tinggal di Menara Pandang.
Menurut dia, bangunan sebelumnya dihuni orang tuanya. Termasuk ayahnya yang sudah berpindah tempat. Menara Pandang sebenarnya memiliki dua lantai. Namun, yang bagian atas sudah tak difungsikan lagi. Selain kotor, lantainya yang terbuat dari kayu lawas juga rawan ambrol.
Praktis hanya lantai 1 yang dipakai untuk tempat tinggal. Keluarga Fransisca beristirahat di beberapa kamar dalam bangunan tua. Mereka mengaku nyaman tinggal di gedung lawas peninggalan zaman kolonial tersebut.
Meski ditinggali, Menara Pandang di kompleks Kampung Bangilan sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) oleh Pemkot Surabaya. Ada plakatnya. Penghuni tak bisa seenaknya mengutak-atik bangunan.
Karena BCB, kondisi bangunan masih tampak utuh. Arsitekturnya khas kolonial. Itu bisa dilihat dari bentuk jendela dan pintu bagian luar yang menarik jadi objek foto.
Ada yang unik dari jendela dan pintunya yang berwarna kuning. Salah satunya, gambar suro dan boyo yang menandakan simbol kota. Selain itu, ada pula lambang Kota Batavia dan ornamen khas Belanda.
Keunikan lainnya bisa dilihat di bagian dalam ruangan. Kusen jendela dan pintunya juga artistik. Hanya, ukurannya lebih besar dibandingkan bagian luar.
“Kami selalu menjaganya. Meskipun, sering kali kesulitan biaya perawatan,” kata Fransisca.
Menurut dia, kebutuhan perawatan bukan hanya pengecatan. Melainkan juga pembersihan ornamen-ornamen besi yang tersebar di beberapa titik.
Keunikan Menara Pandang membuat penasaran Laskar Rempah yang akan melakukan perjalanan keliling Nusantara. Mereka tertarik mempelajari bangunan. BCB jadi sasaran bidikan kamera peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah.
“Alangkah megahnya bangunan di masa lampau,” kata Samuel, Laskar Rempah dari Sulawesi. Dia menjelaskan bahwa arsitektur bangunan berbeda dibandingkan di daerahnya. Meski sama-sama peninggalan kolonial, nilai seni bangunan di Surabaya lebih kuat.
Penggiat sejarah Nanang Purwono menjelaskan bahwa ada alasan peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah diajak ke Menara Pandang sebelum berlayar. Hal itu disebabkan vitalnya bangunan tersebut di masa lampau. “Menara Pandang jadi alat pengawasan kapal datang dan kegiatan bongkar muat,” kata Nanang.
Menara Pandang, kata dia, jadi bukti kuat kejayaan Kalimas pada masa lampau. Itu menunjukkan bahwa kawasan Kalimas Timur merupakan pusat perdagangan pada masa lampau. “Tidak hanya menara. Ada banyak lagi bangunan bersejarah di timur sungai,” tambah Nanang. (*/c6/git/jpg)


