Nama Surabaya kembali dicatat dalam daftar penerima rekor Muri, Minggu (18/12) lalu. Itu terjadi setelah puluhan ribu siswa menari secara bersama-sama. Ada pesan penuh makna yang diusung.
DIMAS NUR APRIYANTO, Surabaya
CAHAYA matahari pagi menembus konstruksi Jembatan Suroboyo Minggu (18/12) lalu. Maklum, masih pukul 05.12 WIB. Meski demikian, peserta tari remo massal satu per satu mulai berdatangan. Lengkap dengan riasan wajah bak penari remo profesional.
Alis melirit. Pipi merah karena sapuan blush on. Kemudian, Jembatan Suroboyo mulai dipadati para peserta tari massal.
Pagi itu, di beberapa titik jembatan, ada peserta yang masih sibuk berlatih. Ada juga yang memastikan riasan di wajahnya tidak rusak. Jembatan Suroboyo menjadi lokasi pusat (sentral) dari tari remo massal. Ada 9 tempat lain untuk pergelaran tari massal itu. Para penarinya datang dari 340 sekolah (SD dan SMP) di Surabaya.
Pada pukul 08.47 WIB, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang didampingi Wakil Wali Kota Surabaya Armudji memencet tombol sirene sebagai penanda remo dimulai. Setelah beberapa detik suara sirene menghilang, suara musik tari remo menyahut. Diiringi suara tepuk tangan dari para tamu undangan.
Gosing di kaki peserta yang dientakkan menimbulkan suara khas, gemerincing. Pagi itu, tari remo sukses dipertontonkan. Bagaimana peserta di luar Jembatan Suroboyo? Sama saja.
Begitu sirene dibunyikan, para siswa mulai menggerakkan tangan dan kakinya. Kompak sekali. Pagi itu seakan menjadi saksi tarian khas Surabaya tersebut menjadi pentas massal. Aktivitas menari di tempat lain itu juga dipantau di layar besar. Layar dipasang di belakang peserta di Jembatan Suroboyo yang tersambung secara online.
Monika, salah seorang peserta tari massal, mengaku bangga bisa terlibat dalam pemecahan rekor Muri. Siswi SMP Negeri 48 itu mengungkapkan, dirinya hanya berlatih menari remo selama lima hari. Dia dipandu oleh guru seni dan budayanya di sekolah.
“Perlengkapan menari ini enggak beli kok. Dipinjami, kecuali hasduk punya sendiri,” katanya.
Peserta lain, Riski Pratama, mengungkapkan, dirinya sempat ragu dan grogi ketika menari remo. Sebab, dia tak pernah menari sebelumnya. Kendati demikian, siswa SMP Negeri 12 itu tak ingin mengecewakan guru yang telah menunjuknya. “Saya enggak pakai gosing. Enggak punya. Selendang ini dipinjami dari sekolah,” tuturnya.
Tak mudah mengondisikan 65 ribu peserta tari massal agar serempak menari bersama. Dibutuhkan komunikasi yang baik. Hal itu diungkapkan Herry atau yang akrab disapa Cak Cin. Perwakilan dari dinas kebudayaan, kepemudaan, olahraga, dan pariwisata (DKKORP) itu mengatakan, seluruh perangkat daerah terlibat.
“Bukan hanya DKKORP, tapi ada dinas pendidikan hingga dinas perhubungan. Ada juga para guru, banyak pokoknya,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, target utamanya bukan menari dengan jumlah orang terbanyak. Tapi, lanjut dia, ada pesan yang dibawa ketika menari. Yakni, mengenalkan dan mengingatkan kepada masyarakat tentang nilai budaya di tempat-tempat menari yang dipilih. Misal, Jembatan Merah dan kawasan Kya-Kya.
Herry mengaku bersyukur pemecahan rekor Muri berlangsung mulus. Dia berharap, ada rekor lain yang akan diukir pada 2023. Sebelum ngeremo di hari H, pihaknya tak pernah berhenti mengingatkan para guru dan siswa untuk berlatih. “Bersyukur sekali, komunikasi di kami gampang,” tambah.
Sementara itu, Eri menuturkan, tari remo digelar secara massal untuk melestarikan budaya asli Surabaya yang di dalamnya mempunyai makna kepahlawanan. Dia menilai, dengan menari remo massal, secara tidak langsung jiwa kepahlawanan itu akan tertanam di dalam diri para pelajar Kota Pahlawan.
Direktur Operasional Museum Rekor Dunia Indonesia Yusuf Ngadri mengapresiasi Surabaya yang telah berpartisipasi dalam pemecahan rekor Muri. Piagam rekor Muri yang didapatkan dikategorikan superlatif dengan nomor 10762/R.MURI/XII/ 2022. (*/c6/git/jpg)


