Sembari menunggu lahan untuk mereka bercocok tanam direalisasikan, para penyintas Semeru memilih memanfaatkan semua tanah kosong untuk ditanami. Kerap pusing karena tercerabut dari aktivitas bertani.
EDI SUSILO, Lumajang
HALAMAN rumah Raudah sudah mirip kebun sayur mini. Cabai, seledri, dan 60 pot bawang prei ditata rapi mengelilingi rumah perempuan 63 tahun itu di hunian tetap (huntap) Bumi Semeru Damai, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Sudah empat bulan ini Raudah yang termasuk korban terdampak erupsi Gunung Semeru pada 4 Desember tahun lalu berkebun. “Seminggu lagi bawang prei bisa dipanen,” ucap nenek sepuluh cucu itu kepada Jawa Pos, Selasa (6/12) lalu.
Raudah menjual sayuran miliknya ke pedagang sayur keliling yang biasa mengitari kompleks huntap di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, tersebut. Satu kilogram bawang prei dijual delapan ribu rupiah.
Bercocok tanam adalah obat bagi Raudah. Dulu semasa tinggal di kampung asalnya, Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, yang berjarak 12 kilometer dari puncak Semeru, dia petani tulen.
Saban hari berangkat ke sawah. Selama di huntap, kebiasaan itu telah hilang. Dia tak bisa lagi berpeluh keringat dipanggang sinar matahari pagi. Tak ada sawah, tak ada ajakan menjadi buruh tani pula.
Pusing mendengar token listrik bunyi dan gas habis berbarengan. Sementara penghasilan Teman, sang suami, pas-pasan. Sejak menjadi buruh dan kehilangan sawah akibat erupsi Semeru pada 4 Desember 2021, suaminya lebih sering menganggur ketimbang bekerja.
Diganggu pikiran macam-macam soal hari depan ditambah sering menganggur di huntap membuat Raudah kembali bergerak melepas penat. Diambilnya cetok dan pisau yang telah berkarat milik sang suami.
Dari alat seadanya, dia mulai bercocok tanam. “Karena lahannya sempit, saya pakai polybag,” paparnya.
Hasilnya, petik sayur di kebun miliknya memang belum bisa menambal kebutuhan harian. Baru cukup untuk uang saku Khusnul, cucu ragilnya yang ikut bersamanya tinggal di huntap. Dan kalau tak laku, sayur bakal dimasaknya untuk mengganjal perut.
”Kalau ada lahan yang cukup luas, tentu bisa jadi pemasukan keluarga,” celetuknya. Harapan Raudah kini memang satu. Ingin bertani lagi. Karena itu, seandainya disediakan lahan di sekitar huntap, dia dan para tetangga akan sangat bersyukur.
Sebab, memang bukan hanya dia yang merindukan berpeluh untuk bercocok tanam. Banyak tetangganya, baik dari Kajar Kuning maupun Curah Kobokan, dua kawasan yang paling terdampak parah erupsi tahun lalu, yang telah kehilangan sawah.
Awan panas guguran (APG) yang disemburkan gunung tertinggi di Jawa itu pada Minggu (4/12) lalu juga telah mengubur sebagian sawah yang sebelumnya masih bisa ditanami. Banyak warga Kajar Kuning yang bahkan kapok balik ke kampung asal karena khawatir dengan APG.
Padahal, bertani adalah urat nadi bagi Raudah dan para tetangga. Dulu mereka merupakan petani padi, tebu, jagung, dan sayur-mayur.
Bahkan, kalaupun tak ada lahan untuk digarap, Raudah berharap ada ajakan untuk menjadi buruh tani. Dengan hasil berapa pun. Sebab, sekali lagi, dia ingin memulai hidup baru di huntap yang diterimanya.
Dia memang termasuk satu di antara warga Kajar Kuning yang enggan dan trauma balik ke kampung. “Mati urip aku ning kene (mati hidup aku di sini, huntap),” katanya.
Menjajal kembali menjadi petani juga dilakukan Adi Salam dan Suarti. Pasutri asal Curah Kobokan itu memanfaatkan lahan di samping rumahnya yang berada di tikungan untuk menanam kacang panjang, terong, dan tomat.
“Nggak boleh ta Pak tanam sayur di sini,” ucap Suarti kepada Jawa Pos. Kekhawatiran itu lantaran dia tahu lahan kosong yang berada di samping rumahnya merupakan taman. Dia mengaku hanya memanfaatkan lahan kosong itu untuk tanaman yang bisa dipetik dan diolah. Ketimbang hanya ditumbuhi rumput dan belukar.
Sudah dua bulan ini dia memperluas peluang mencari nafkah di huntap. Sebelumnya, Suarti dan Adi menjajal berjualan snack dan makanan di depan rumah. Dirasa kurang cukup untuk menghidupi keluarga, mereka memanfaatkan lahan kosong.
Seperti tampak, keduanya serius mengelola lahan kosong samping rumah untuk berkebun. Untuk kacang panjang, dia memasang bilah bambu agar saat tumbuh kacang panjang bisa merambat ke atas. Di antara tanaman, Adi membuat cekungan air untuk irigasi.
“Kalau ada lahan nganggur dan cukup luas, kami siap mengolahnya,” paparnya.
Koordinator Bidang Huntara dan Sarpras Satgas Transisi Darurat Penanganan Bencana Erupsi Gunung Semeru Nugroho D. Atmoko mengatakan, lahan pertanian untuk pengembangan ekonomi warga huntap saat ini sedang dibahas. Dalam masterplan huntap Bumi Semeru Damai, memang ada rencana pembukaan lahan untuk para penyintas erupsi Semeru itu.
Rencananya, area perluasan ekonomi itu sekitar 81 hektare. Untuk area pertanian dan pembangunan kandang kambing. Rencananya, di sekitar huntap disiapkan lahan pertanian palawija dan sayuran. “Konsepnya dikelola secara komunal oleh warga huntap,” paparnya.
Adi tentu bungah mendengar rencana pembukaan lahan itu. Dia berharap segera terwujud. “Sebab, kalau harus menyewa lahan, saya tidak sanggup,” katanya. (*//c19/ttg/jpg)


