Ruang di ruko empat lantai di kompleks ITC Fatmawati, Jakarta, kini tidak lagi sumpek. Pasalnya, di sela-sela alat kerja, terpajang sejumlah karya lukis yang menggoda mata. Karya-karya tersebut merupakan bagian dari pameran bertajuk Mirror Art Show yang diselenggarakan Lurz Arts hingga 22 September mendatang.
PANDEMI Covid-19 seperti menjadi momen perubahan hidup bagi Asmara Wreksono dan Anto Nugroho. Sebelum pandemi, mereka berkarier di radio swasta di ibu kota. Saat pandemi mewabah, mereka ”belok arah” menekuni hobi melukis. “Saya penyiar, dia (Anto, Red) program director. Kami punya hobi yang sama, yakni menggambar,” kata Asmara pada pembukaan pameran Mirror Art di Jakarta dua pekan lalu.
Asmara menyatakan, sejak 2020, dirinya mulai serius di dunia seni lukis. Alumnus ITB itu menyatakan, sejak awal, Anto berkeinginan menjadi seniman. Akhirnya mereka berdua membentuk Lurz Arts, dengan pameran perdananya bertajuk Mirror Art Show itu.
Asmara berkata Mirror Art Show adalah pameran kolaborasi antara seniman yang sudah punya jam terbang tinggi dan seniman yang masih baru. Seniman yang sudah punya jam terbang tinggi diwakili Lala Bohang dan Rukmunal Hakim. “Kemudian, seniman barunya saya, Anto, dan Ferrad Aziz,” ungkap Asmara. Total ada sekitar 50 karya yang dipajang di ruko empat lantai itu.
Asmara menuturkan ingin menghadirkan pameran karya lukis yang benar-benar santai. Termasuk tidak menggunakan kurator seperti pameran pada umumnya. Sebab, bagi dia, setiap seniman memiliki rasa sendiri untuk menentukan karya terbaik mereka.
Alasan Mirror Art Show tidak menggunakan kurator karena untuk menjaga kepercayaan diri seniman pemula. “Sering seniman muda khawatir di awal. Mereka khawatir apakah karyanya lolos kurasi atau tidak,” ujar Asmara.
Nah, penulis dan perupa Lala Bohang menyatakan, dirinya sudah lama tidak berkecimpung di dunia seni visual. Sebab, sejak 2013, dia lebih konsentrasi pada penulisan buku. “Terakhir pameran (lukisan) tunggal di 2013,” kata Lala.
Lala menghadirkan sejumlah koleksi pada pameran itu. Tema besarnya adalah The Middle of Everything. Tema tersebut sesuai dengan judul buku terbarunya yang dirilis beberapa waktu lalu. Lala menyatakan kembali balik di karya visual mulai tahun ini. “Aku memutuskan ingin memfokuskan energi ke visual lagi,” jelas Lala.
Tema tersebut, menurut Lala, merupakan eksplorasi bagaimana seseorang mencoba akrab dengan dirinya sendiri di tengah kehidupan yang penuh kejutan dan ketidakpastian. Kemudian juga upaya seseorang untuk menavigasi dirinya sendiri untuk menghadapi kompleksitas serta kerapuhan relasi sesama manusia.
Lala merasakan semakin dia dewasa dan berelasi dengan banyak orang, masing-masing memberikan dampak dan perubahan pada hidupnya. “Entah itu perubahan menjadi lebih baik atau buruk,” kata Lala, lantas tertawa.
Lala menyatakan, tema karya-karyanya masih berfokus pada refleksi diri atau menemukan dirinya. Kemudian juga gambaran sosok perempuan yang berupaya untuk coming home to herself. “Karena itu adalah my big struggle in my life,” tutur Lala.
Lala mengungkapkan, pembuatan karya visualnya sering diawali dari media kertas. Untuk satu karya, dia bisa membuat sampai 20 gambar di kertas terlebih dulu. Setelah mengalir semuanya, dia baru beralih di media kanvas. Saat menggambar di media kertas, dia kerap menemukan gambar-gambar baru yang lucu atau menarik. (wan/c12/dra/jpg)


