Omay, Pina, Kiking, Mukidi, dan Jacky seperti menceritakan isi hati lewat karya fotografi mereka. Komunitas Disabilitas Berkarya, tempat mereka berkegiatan, tidak menggunakan sistem anggota. Siapa pun boleh bergabung.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
SETANGKAI bunga berwarna ungu gelap dengan latar dinding bercat oranye terpajang di basement Alun-Alun Surabaya. Di bawahnya tertulis tajuk Rindu Ibu karya Omay.
Tak ada yang tahu saat dia mengambil objek itu. Dalam sebuah perjalanan pulang dari Malang, tiba-tiba saja anak yang mengidap down syndrome tersebut menangis.
“Kangen ibu,” jawabnya seperti yang ditirukan Leo Arif Budiman, salah seorang pendiri Komunitas Disabilitas Berkarya.
Omay yang sekian tahun silam naik kereta sendirian dari Bandung ke Surabaya tidak pernah tahu siapa ibunya. Yang pasti, jepretannya itu menjadi 1 di antara 30 karya yang dipamerkan di Pameran Anak-Anak Disabilitas di basement Alun-Alun Surabaya, kompleks Balai Pemuda, sejak Kamis (27/7) sampai Selasa (1/8).
Itulah pameran tunggal perdana bagi kelima anak Komunitas Disabilitas Berkarya: Omay bersama empat kawannya yang bisu dan tuli, yakni Pina, Kiking, Mukidi, dan Jacky. “Kami di-support sama Kominfo dan Pewarta Foto Indonesia (PFI). Teman-teman PFI support kami karena foto-fotonya tidak sembarangan,” tutur Leo saat ditemui Jawa Pos di lokasi pameran Kamis (27/7) lalu.
Warna-warni Kota Tua karya Kiking menjadi salah satu favorit PFI. Meski terhambat dalam komunikasi, kelimanya seolah memvisualisasikan isi hati terdalam lewat tangkapan lensa.
Misalnya saja, foto siluet bertajuk Masa Depan karya Mukidi tentang seorang ibu yang menggandeng anak kecil di bibir pantai. Sama dengan Omay, Mukidi dan tiga kawannya yang lain tak pernah tahu siapa ibu mereka.
“Mungkin mereka kangen sosok ibu, kangen digandeng. Fotonya deep ya rata-rata,” ujar mentor fotografi kelima anak difabel Liponsos Kalijudan, Surabaya, tersebut.
Suatu ketika, Kiking memotret Rini Indriyani yang menghadiri bakti sosial di Rumah Anak Prestasi, Semolo. Istri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi itu tampak tersenyum semringah. Karya bertajuk Ibu’e Arek-Arek itulah yang membuka jalan terwujudnya pameran anak difabel.
“Bu Wali lihat itu langsung minta supaya anak-anak ini dibikinkan pameran. Jadi, Komunitas Disabilitas Berkarya di sini turut meramaikan rangkaian kegiatan peringatan Hari Anak. Puncaknya 31 Juli nanti,” beber Leo.
Sebanyak 30 karya yang dipamerkan adalah bidikan kamera mereka sejak awal belajar fotografi. Yang kemudian dikurasi tim Komunitas Disabilitas Berkarya bersama PFI dan Kominfo.
Di sana juga terpajang karya Kiking yang membawanya meraih The Best Photographer pada workshop fotografi oleh Unicef di Jepang pada 2019. Foto tentang pedagang di Keputran, Surabaya, itu juga tampil di pameran seni terkemuka di Koln, Jerman.
“Yang Keputran itu, waktu pameran di Jakarta, dilelang laku Rp 5 juta. Jadi, mereka nggak hanya punya karya, tapi juga tabungan dari hasil karyanya,” ungkapnya.
Fotografi menjadi salah satu kegiatan paling menonjol di Komunitas Disabilitas Berkarya. Leo mulanya iseng saja mengajari anak-anak difabel di Liponsos Kalijudan, Surabaya, setelah biasanya mengajari mereka membatik.
Omay dan Pina menjadi yang pertama bergabung. Disusul Kiking dan Mukidi pada 2017. Baru kemudian Jacky.
“Bisa terbang, ya, bisa terbang. Fotonya buat saya ya, Pak,” seru Kiking, Omay, dan Pina takjub saat Leo mencetak jepretan Pina di awal belajar foto levitasi. Levitasi adalah salah satu teknik fotografi yang membuat objeknya terlihat seolah melayang. Saat itu Omay dan Kiking yang masih sesekali bergabung untuk melihat-lihat menjadi modelnya. Tak ada yang instan.
Begitu pun kelima anak ini. Di awal, hasil foto mereka masih amburadul. Namun, mereka cepat belajar. “Saya mengajari mereka, 80 persen foto itu sudah jadi. Jadi, minim edit, mulai komposisi sampai pencahayaan,” ungkap Leo.
Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, pada 1970 itu kerap membawa mereka melihat pameran foto dan karya-karya fotografer terkenal. Mereka mengamati dengan penuh minat.
“Cara bikin kayak gini bagaimana?” Pertanyaan yang kerap terlontar saat melihat karya-karya dengan teknik rumit. Leo kemudian akan mengajari sekaligus mempraktikkannya.
Komunikasi menjadi hambatan tersendiri. Leo tidak memahami bahasa isyarat. Begitu pun mereka yang tidak mengerti ucapan Leo. “Awalnya sulit memang. Kami pakainya bahasa ibu kalau kata mereka atau kesepakatan. Kadang hanya saya dan mereka yang tahu,” ujarnya.
Dulu, sekali dalam sepekan, Leo akan mengajak anak-anak didiknya jalan-jalan ke luar untuk hunting foto. Kini Komunitas Disabilitas Berkarya membuat program memotret bersama yang terbuka umum untuk siapa pun yang ingin bergabung. Baik anak difabel maupun reguler.
Komunitas yang digagas Leo serta tim yang terdiri atas Eko Doto, Robert Xu, dan Mamuk Ismuntoro itu tidak menggunakan sistem anggota. Siapa pun bisa bergabung. Saat ini kegiatannya masih seputar fotografi, membatik shibori, dan melukis. Ke depan tentu terus berkembang.
”Semua rangkaian kegiatan kami bisa dilihat di media sosial Instagram Disabilitas Berkarya,” jelasnya. (*/c14/ttg/jpg)


