Thursday, 23 April, 2026

Para Pelaku Wisata Menautkan Harapan pada Realisasi Penataan Borobudur

Rencana penataan Borobudur disambut baik. Tapi, diharapkan bisa dilakukan menyeluruh, termasuk ke kawasan sekitar dan berbagai fasilitas pendukung.

ROFIK SYARIF G., Magelang

APOLLO memang menyambut baik rencana penataan Borobudur oleh pemerintah. Tapi, sederet pertanyaan masih menggelayut di benak salah seorang pelaku wisata di sekitaran candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, itu: bagaimana cetak birunya? Bagaimana penataan investasi, pertanian, dan sosialnya? Dan, yang terpenting kapan realisasinya?

“Akan ada satu titik di mana pemerintah dikejar dengan pola pikir dari para investor. Kalau investor itu kan di mana ada prospek perkembangan, di situ pasti melihat peluang bisnisnya,” kata pengelola VW Tour tersebut kepada Jawa Pos Radar Magelang Minggu (30/7).

Borobudur merupakan bagian dari Kawasan Super Prioritas Nasional (KSPN) atau yang biasa dikenal sebagai ”10 Bali Baru.”

Di antara 10 kawasan pariwisata itu, 5 di antaranya kategori prioritas, termasuk Borobudur. Penataan Borobudur ditujukan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata. Sebelumnya, penataan tahap I telah dilakukan mulai Oktober 2020 dan selesai pada Desember 2021.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo setelah mengikuti Rapat Koordinasi Nasional Pengembangan 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas 2023 di Plataran Heritage Borobudur (21/7) menyebut, pihaknya siap mengakselerasi penyelesaian sejumlah pekerjaan rumah. Beberapa hal menjadi perhatian, antara lain terkait event dan kendaraan listrik.

“Ini mau kami genjot dan sampai akhir tahun 2024 mesti tuntas semua. Tidak boleh ada yang mangkrak,” kata Ganjar ketika itu.

Ganjar mengatakan, dalam rapat tersebut, menteri agama juga menyampaikan potensi pertumbuhan ekonomi lewat event keagamaan. Dalam satu tahun, ada enam kali hari besar Buddha. Oleh sebab itu, ini perlu dimanfaatkan dan terus digenjot.

Dia menambahkan, pekerjaan ini tidak bisa selesai tanpa dukungan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat dapat langsung merasakan manfaat dari penataan kawasan Candi Borobudur.

Menurut Apollo, hingga saat ini dirinya dan para pelaku wisata di sekitar Borobudur belum mengetahui secara pasti cetak biru penataan tersebut. Di sisi lain, dia meyakini para pebisnis besar pasti sudah punya banyak rencana terkait menyiapkan blue print itu seperti apa.

Inilah yang dia khawatirkan bisa memicu masalah. Karena itu, dia berharap sekali ada regulasi yang jelas terkait pertanahan, investasi, serta sosial ekonomi. Sebab, tidak semua warga di sekitar Borobudur menggantungkan hidup dari wisata.

Dia mencontohkan, dulu seorang petani yang tiga kali panen sudah cukup untuk digunakan hidup satu tahun. Namun, sekarang dengan berkembangnya pariwisata di sekitarnya, pastinya akan memengaruhi percepatan biaya hidup.

“Untuk warga lokal ini bagaimana karena penghasilan mereka pastinya masih tetap di situ-situ aja,” ujarnya.

Ini, lanjut dia, bisa menimbulkan problem sosial. Begitu pula soal pajak tanah. Semisal yang satu menjadi hotel dan sampingnya masih sawah produktif.

“Jika ini tidak diperhatikan, nantinya yang seharusnya menjadi jalur hijau kemudian menjadi full bangunan,” jelasnya.

Sementara itu, pengelola Balkondes Borobudur Dedy Setiawan berharap berbagai fasilitas pendukung bisa lebih ditingkatkan. “Jadi, diharapkan penataan ini tidak hanya berfokus di lingkup kawasan Candi Borobudur (di dalam Taman Wisata Candi Borobudur). Namun, harus mencakup di sekitarnya dan keseluruhan atau penunjangnya,” ujarnya.

Contohnya, proses pengembangan jalan yang indah. Indah ini tidak hanya bagus atau baik, namun jalan yang indah ini artinya, dengan jalan saja sudah menjadi sesuatu yang menarik.

Seperti di daerah Sumatera Barat ada kelok seribunya, kemudian dengan view jalan indah seperti di lereng Merbabu atau Sumbing, itu juga keren.

Menparekraf Sandiaga Uno meyakini penataan Candi Borobudur akan lebih membuka peluang usaha bagi masyarakat di sekitar. Tak terbatas pada pelaku UMKM.

“Ini akan menjadi sebuah terobosan untuk membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat Magelang dan juga bagi Jogjakarta dan Jawa Tengah secara keseluruhan,” ujarnya. (*/c6/ttg/jpg/uno) 

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru