Pandangan Vicky Hermansyah tertuju ke lantai. Tatapan matanya terlihat kosong. Mulutnya mengunyah makanan yang disuapkan sang ibu dengan telaten. Meski fisiknya jauh menurun dibanding kala sehat, sang ibunda tetap bersyukur karena anak bungsunya itu sempat dirawat sebulan di RS Kanjuruhan, Malang.
—
VICKY adalah salah seorang korban dalam tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 korban awal Oktober lalu. Pria 20 tahun itu mengalami cedera di kepala sehingga saraf di otaknya terganggu.
Saking parahnya, Vicky sempat harus menggunakan ventilator selama sepekan dan dirawat di intensive care unit (ICU) selama dua pekan. Total, dia menghabiskan waktu sebulan untuk perawatan medis dan baru pulang Rabu (2/11) lalu.
Kemarin, pria asal Porong, Sidoarjo, itu dikunjungi tim Rumah Sakit Pusdik Sabhara Lemdiklat Polri Porong. Saat rombongan datang, Vicky duduk di kursi roda. Tubuhnya masih kaku sehingga dia tak bisa bersandar di kursi.
“Alhamdulillah sudah mau duduk di kursi roda, walau masih harus dibantu dua orang,” kata Sumartiningsih, ibunda Vicky, sambil menyuapi anaknya itu.
Walau sudah mampu duduk, fisik Vicky masih kaku dan belum bisa bicara sama sekali. Jari tangan dan kakinya belum bisa bergerak banyak. “Daya ingatnya sedikit menurun kayak bingung gitu, tangan kakinya masih kaku. Kalau ada omnya atau orang yang diingat, Vicky baru bisa senyum,” ujar perempuan 63 tahun itu.
Sumarti, sapaan akrabnya, sangat bersyukur anaknya bisa kembali pulang ke Sidoarjo. “Dia pasien terakhir yang pulang dari rumah sakit itu,” ungkap ibu tiga anak tersebut.
Meski begitu, dia tak menampik fakta bahwa kondisi Vicky membuat hidupnya berubah drastis. Dia dan sang suami harus kembali bekerja meski usia mereka tak lagi muda. “Ini anak tulang punggung yang bayar kos. Mbak masnya sudah pindah lama ke Surabaya dan biasanya Vicky yang kerja buat kebutuhan kontrakan dan makan,” katanya.
Karumkit Pusdik Sabhara Lemdiklat Polri di Porong AKBP dr Eko Yunianto langsung memeriksa tanda vital dan motoriknya. Berdasar hasil rekam medis sebelumnya, Eko menjelaskan ada pembengkakan di otak dan butuh waktu penyembuhan yang cukup lama.
Tanda vital suporter asal Sidoarjo itu baik. Akan tetapi, memori dan refleks atau respons beberapa bagian seperti kaki dan tangan masih kurang.
Karena itu, dalam kunjungan berikutnya, dokter saraf dan rehab medis akan didatangkan untuk memberikan perawatan untuk Vicky. Bila nanti memungkinkan, Vicky juga dipersilakan datang ke RS Pusdik Sabhara Lemdiklat Polri. “Semua biaya akan digratiskan untuk Adik Vicky,” ujarnya.
Untuk mengembalikan ingatan Vicky, perwira polisi berpangkat melati dua itu menyarankan agar ibunya mengajak Vicky berjalan-jalan sesekali dengan menggunakan kursi roda.
Menurut Eko, butuh waktu setidaknya lima hingga enam bulan untuk daya ingatnya bisa pulih. “Selain jalan-jalan dengan kursi roda, bisa juga didatangkan temannya atau kerabatnya agar daya ingatnya bisa pulih,” tuturnya.
Selama masa pemulihan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo akan membantu memeriksa kondisi Vicky tiap hari. Kadinkes Sidoarjo Fenny Apridawati mengatakan, ada dua puskesmas yang ditugasi mengawasi Vicky setelah pulang dari RS Kanjuruhan. “Puskesmas Porong dan Puskesmas Kedungsolo nantinya gantian tiga hari, tiga hari,” katanya.
Sementara itu, untuk fisioterapi dan psikologi, dinkes akan berkoordinasi dengan RSUD Sidoarjo. “Kami minta tolong karena memang tidak ada tenaga ahli itu di puskesmas,” ujarnya.
Obat-obatan juga akan dibantu dinkes jika sudah habis. “Insya Allah akan kami berikan bantuan sebaik mungkin untuk kesembuhan korban,” tuturnya. (eza/c17/any/jpg)


