Saturday, 11 April, 2026

Pemilih Muda Berpotensi Golput

TARAKAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalimantan Utara (Kaltara) melakukan penguatan pada basis pemilih pemula, guna berpartisipasi aktif pada Pemilu 2024. Penguatan dilakukan berupa sosialisasi ke kalangan muda. Alasannya karena pemilih muda dikhawatirkan akan golput.

Komisioner Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Kaltara Teguh Dwi Subagyo menyebut, angka pemilih muda pada Pemilu 2024 di Kaltara sebanyak 504.252 orang. Dari jumlah tersebut terdapat 107.974 pemilih yang berusia 17-24 tahun. Pemilih perdana di tahun depan ditabulasi juga menyentuh angka 40.000.

Terdapat sekitar 8 persen yang merupakan pemilih pemula, untuk berpartisipasi pada politik 2024. Sementara untuk generasi milenial usia 17- 24 tahun dikalkulasikan sebesar 21 persen.

“Pemilih muda atau generasi milenial itu berusia 25-39 jumlahnya 175.293. Secara presentase 34,7 persen. Kalau kami gabungkan antara pemilih pemula, milenial dan pemilih muda totalnya sekitar 56 persen. Artinya sangat potensial,” ungkapnya, Selasa (26/9).

Namun ia menegaskan, jika pemilih muda memiliki tekad berpatisipasi langsung, maka Pemilu tahun 2024 akan berjalan lebih baik dibandingkan tahun 2019 lalu. Golput dikalangan pemilih pemuda juga sulit diukur. Diperlukan riset khusus dari analis-analis politik. Sebab KPU tidak pernah melakukan konfirmasi langsung alasan seseorang tidak memilih.

“Kalau ada kendala misal sakit, itu kan bukan golput. Kami hanya mengetahui bahwa itu suara tidak sah saja. Ya ini tantangan bagi penelitian untuk mengungkap data-datanya,” ujarnya.

Terpisah, Analis Politik, London School Public Relation (LSPR), Arif Susanto mengatakan, peluang pemilih muda dalam golput dikarenakan rezim Pemilu di Indonesia mengenal hak memilih bukan kewajiban pemilih. Namun keterlibatan politik tidak hanya di dalam dan diluar Pemilu. Hal itu pun banyak berkontribusi pada perbaikan sistem politik.

“Banyak orang memberi kritik bahwa politik kita kualitas buruk. Tapi kalau orang yang dianggap baik, tidak terlibat dalam politik artinya akan tetap sama atau bahkan mengalami kemunduran,” katanya.

Pihaknya mendorong bagi pemilih muda untuk dapat terlibat politik. Sekaligus mengawasi penyelenggaraan Pemilu dan memilih dengan pilihan yang cerdas. Ia berharap, terlibatnya kaum-kaum muda dapat mengubah anggapan politik di mata masyarakat.

Salah satunya pada Pemilu 2019 lalu, pemilih pemula sangat berpeluang untuk tidak memilih. Terdapat beberapa hal yang mendasari golput, di antaranya kesulitan teknis terutama pengenalan cara pemilihan baru, seseorang tidak memiliki pilihan yang memadai, dan apatisme politik.

“Tentu tak mudah melakukan verifikasi terhadap orang yang golput. Tetapi KPU dapat melakukan verifikasi dari suara tidak sah. Pada 2019 lalu suara tidak sah juga banyak,” tuturnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru