Perjuangan bertahan di tengah pandemi akhirnya membuahkan hasil. Dua tahun berlatih melalui online, tim paduan suara SMAK St Louis 1 Surabaya berhasil menyabet medali emas di Korea Selatan akhir Juli lalu.
WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya
DUA tahun bertahan di tengah pandemi tidak mudah. Cara latihan paduan suara pun harus diubah total. Semuanya melalui online. Gara-gara itu, tidak sedikit grup paduan suara yang bubar. Tapi, hal tersebut tidak terjadi di tim paduan suara SMAK St Louis 1 Surabaya. Mereka tetap kompak dan eksis.
Setidaknya dibutuhkan waktu lima bulan untuk persiapan. Prosesnya juga tidak mudah. Januari lalu, pembelajaran tatap muka belum diterapkan.
Semua kegiatan belajar dilangsungkan secara daring. Termasuk latihan persiapan lomba. Berbagai kendala pun mereka alami. Maklum, situasi seperti itu kali pertama dilalui. Prosesnya memang sangat berat. Bayangkan, melatih satu suara saja butuh waktu hingga dua jam.
Mengingat, semua dilakukan secara online. Suara yang masuk tentunya tidak bisa optimal. Berbeda halnya dengan latihan yang dilakukan secara offline. “Dua jam ini hanya berlatih untuk selembar partitur,” kata music director paduan suara SMAK St Louis 1 Surabaya Onny Prihantoro.
Padahal, kata Onny, sapaan akrabnya, dalam satu lagu ada lima lembar partitur. Apalagi, sejak Desember tahun lalu dia dan para siswa sudah niat mengikuti lomba Word Choralympic in Pocheon 2022.
Kebetulan event paduan suara yang diselenggarakan pemerintah Pocheon itu memang berbeda. Yakni, diselenggarakan secara online. Peserta wajib mengirimkan video tanpa editing sama sekali. Memang terkesan mudah. Tapi, persiapannya sangat ribet dan butuh waktu lama.
Onny menuturkan, latihan secara langsung baru dilakukan pada Mei. Itu pun hanya melakukan geladi bersih sebelum proses perekaman. Geladi bersih juga tidak mudah. Selain wajib rapid test antigen, peserta juga menjalani isolasi mandiri. Tujuannya, kondisi mereka tetap sehat.
Kendala lain juga terjadi. Latihan secara online yang dianggap sudah bagus akhirnya terlihat. Rupanya, suara yang keluar tidak sesuai dengan saat bertemu langsung. Faktornya berbagai macam. Salah satunya, penggunaan mikrofon saat daring dengan bernyanyi secara langsung itu berbeda. “Makanya geladi bersih kami lakukan sampai dua hari,” ucap Onny.
Beruntung, kata dia, para siswa sangat semangat. Hambatan bukan hanya soal persiapan. Tapi, juga terkait hal teknis. Sebab, proses rekaman dilakukan di sebuah hall sekolah. Tempat itu bukan ruang studio. Hasilnya juga menyesuaikan situasi.
Jika ada hujan atau petir, otomatis rekaman harus berhenti. Begitu juga kalau ada suara kendaraan yang bising. Sebab, hal tersebut mengganggu hasil rekaman. Apalagi, video yang dikirim tidak boleh dipotong atau diedit sama sekali.
Ada tiga lagu yang dibawakan tim paduan suara SMAK St Louis 1 Surabaya. Yakni, lagu berjudul Sleep dari Eric Whitacre, Leron Sinta (sebuah lagu daerah dari Filipina), dan Tanduk Majeng (lagu daerah dari Madura). Masing-masing lagu berdurasi sekitar lima menit.
Menurut Onny, secara teknis, hasil rekaman yang diserahkan hanya berdurasi 15 menit. Namun, proses pembuatannya hingga dua hari. Setiap hari dibutuhkan waktu hingga enam jam. Penyebabnya, mereka menganggap hasilnya masih kurang layak. Karena itu, proses perekaman dilakukan berkali-kali.
Apalagi, lagu Tanduk Majeng dibawakan dengan tampilan koreografi. Nada dan notasi yang keluar harus dipastikan sesuai dengan yang masuk ke mikrofon. Terlebih, jumlah tim paduan suara SMAK St Louis 1 Surabaya sangat banyak. Yakni, 48 siswa dengan tambahan dua konduktor musik.
Keberhasilan tim paduan suara SMAK St Louis 1 Surabaya meraih medali emas sebetulnya di luar dugaan. Onny mengungkapkan, mimpi anak-anak sangat besar. Mereka tidak melihat saingan peserta dari negara unggulan. Misalnya, Rusia, Tiongkok, atau tuan rumah Korea Selatan sendiri. Ditambah lagi, selama ini latihannya hanya melalui online. “Untungnya, anak-anak punya impian dan semangat,” ucapnya.
Lomba yang diumumkan akhir Juli lalu itu tidak hanya membuat peserta gembira, tetapi juga kaget. Sebab, mereka meraih medali emas dengan total poin 93,9 dari nilai maksimal 100. Mendapat angka tersebut tentu tidak gampang, apalagi dari event internasional.
Ketua Paduan Suara SMAK St Louis 1 Surabaya John Matthew mengatakan bahwa dari tiga lagu tersebut, yang paling susah membawakan lagu Madura. Selain ada gerakannya, nada dan intonasinya juga khas. Tapi, semua itu tantangan. Lagu daerah Madura dipilih sekaligus untuk mengenalkan budaya lokal ke dunia internasional.
Sejak 2014 hingga kemarin, total ada 21 juara yang diraih tim paduan suara SMAK St Louis 1 Surabaya. Baik di tingkat nasional maupun internasional. (*/c6/git/jpg)


