TARAKAN – Video perkelahian antar siswi SMPN 4 Tarakan viral di media sosial (medsos), Rabu (10/1). Diduga motif perkelahian adanya saling ejek dan cemburu.
Sementara aksi perkelahian terjadi di Kelurahan Selumit, Tarakan Tengah pada Selasa (9/1) lalu. Kepala SMPN 4 Tarakan Supardji mengatakan, siswa yang berkelahi merupakan siswi kelas VIII dan IX terjadi usai pulang sekolah. Motif perkelahian terjadi karena adanya saling ejek dan masalah asmara antar siswi.
Mengetahui hal tersebut, pihaknya memanggil orangtua siswi yang terlibat perkelahian untuk dilakukan mediasi. Alhasil, pihak sekolah bersama orang tua siswi yang bersangkutan sepakat melakukan mediasi.
Selanjutnya orangtua siswi menandatangani berita acara perdamaian. “Setelah kita tahu, korbannya itu tidak apa-apa. Artinya tak ada gejala-gejala lanjutan akibat perkelahian, makanya sepakat mediasi. Kami akan menanggung biaya pengobatan jika ke depan siswi ada yang merasa sakit,” ungkapnya.
Dilanjutkannya, pihak sekolah tidak mengetahui permasalahan ini sebelumnya. Seandainya salah seorang siswa berinisiatif untuk memberitahu pihak sekolah. Maka tidak akan terjadi kejadian perkelahian tersebut.
Namun, pihak sekolah masih akan menerapkan sanksi lanjutan jika permasalahan ini berkelanjutan. Sanksi yang akan diterapkan bagi kelas VII dan VIII berupa penundaan kenaikan kelas. Sedangkan kelas IX tidak akan diluluskan.
“Karena syarat kenaikan kelas dan kelulusan itu akhlak harus bagus. Ya ada beberapa siswa ini kami pro aktif di sekolah,” tuturnya.
Disinggung terkait maraknya perkelahian di tempat tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan ketua RT setempat dan personel Bhabinkamtibmas. Selanjutnya warga sekitar bisa melaporkan pihak sekolah ataupun kepolisian, untuk menertibkan perkelahian.
“Di sekolah kami larang siswa membawa handphone. Jika membawa handphone, handphone-nya ditaruh di meja kepala sekolah. Tapi biasanya ada saja anak-anak yang menyembunyikan handphone,” ungkapnya.
Sementara itu, Kasat Binmas Polres Tarakan AKP Budi Santoso menegaskan, saat itu siswi J yang memulai pemukulan terhadap siswi M. Pemukulan tak langsung dibalas oleh M. Sehingga M menantang kembali J di luar sekolah untuk berkelahi.
“Senin (8 Januari) itu jam 12.00 Wita, J memukul duluan bagian kepala M. Setelah kejadian itu janjian mau berkelahi. Ketemulah hari Selasa pukul 14.00 Wita. Saat kelahi sepakat semuanya membuka hijab,” ujarnya.
Meski begitu, pihaknya turut menginisiasi perdamaian antar kedua pihak yang bertikai. Ia menilai upaya pihak sekolah sangat tepat, untuk mempertemukan para orangtua dan siswi.
“Sudah disepakati juga damai. Karena ini permasalahan perundungan di lingkungan sekolah. Selanjutnya kami meminta kepada masyarakat yang memiliki video perkelahian agar dihapus. Karena permasalahan sudah selesai,” pintanya. (kn-2)


