TARAKAN – Perekonomian sudah mulai menggeliat, ditambah lagi saat ini Indonesia sedang mempersiapkan endemi Covid-19. Namun ekspor dari Kaltara saat ini masih merangkak secara perlahan.
Belum lama ini, Kementerian Pertanian melalui Balai Karantina Pertanian Tarakan kembali fasilitasi ekspor kakao biji kering tujuan Malaysia. Dengan nilai ekonomi Rp 56 juta. Kepala Balai Karantina Pertanian Tarakan Akhmad Alfaraby mengatakan, di Kaltara, hanya Nunukan yang masih melakukan ekspor hingga beberapa kali sepekan. Sedangkan Tarakan, ekspor hanya plywood dari dua perusahaan besar yang ada di Tarakan.
“Kalau Tarakan masih produk kayu yang ekspor. Tapi, Nunukan yang mendominasi ekspor, karena Nunukan dekat dengan Malaysia. Sebenarnya komoditas dari Malinau juga memiliki potensi, tapi aksesnya susah. Sedangkan Nunukan sudah ada yang langsung. Dari tempat lain belum ada, Tarakan juga belum buka ekspor langsung,” jelasnya, Jumat (8/4).
Salah satunya, di Nunukan sertifikasi ekspor kakao biji kering ke Malaysia sudah menjadi aktivitas rutin ekspor. Selain itu, ada beberapa produk hortikultura juga menjadi produk unggulan ekspor dari Kaltara untuk Malaysia. Diantaranya, buah mangga, alpukat, naga, jeruk nipis, cabai dan tomat menjadi produk yang paling diminati.
Di pekan pertama April, pihaknya sudah melakukan sertifikasi ekspor tujuan Malaysia sebanyak 17,8 ton produk hortikultura. Dengan total nilai Rp 456 juta. “Masih pandemi Covid berpengaruh dengan ekspor. Tapi, nanti ke depan jika ada komoditas yang berpotensi untuk di ekspor, kenapa tidak dari Tarakan. Cuma sekarang ini belum ada akses dari Pelabuhan Malundung ke Tawau. Baru hanya dari Nunukan saja,” tegasnya.
Akhmad menegaskan akan memfasilitasi dan memberikan pendampingan kepada pengguna jasa. Yang ingin melakukan ekspor komoditas pertanian dari Kaltara. Secara nasional, ekspor komoditas pinang biji di tahun 2021 sebanyak 215.260 ton. Dengan nilai ekonomi mencapai Rp 5,11 trilliun. Meningkat hampir dua kali lipat dibanding capaian nilai tahun 2020, yang hanya Rp 2,85 triliun.
“Sebenarnya sarang burung walet di Kaltara bagus dan punya potensi ekspor. Tapi, belum ada pembersihan yang bersertifikasi, itu jadi kendala. Sejauh ini untuk pengiriman masih antar area ke Surabaya dan Jakarta,” tuturnya. (kn-2)


