TARAKAN – Peternak sapi di Tarakan mengeluhkan harga sapi yang didatangkan dari luar daerah terlalu murah. Sehingga beberapa pengusaha tidak mampu bersaing soal harga sapi lokal dan sapi dari luar daerah.
“Sapi luar masuk membuat sapi lokal dinilai lebih mahal. Kalau sapi lokal memiliki cost yang tinggi dalam perawatannya. Ada yang saya pelihara setahun. Ada juga yang dari kecil. Kalau layak kurban kan dua tahun,” keluh salah seorang peternak sapi, Makmur, Selasa (27/6).
Ia berharap, Pemkot Tatakan melakukan pendataan jumlah sapi lokal di Tarakan.
Ia mengakui, ada beberapa kali pengiriman sapi dari luar Tarakan. Hal ini membuat peternak sapi lokal khawatir penjualan ikut sepi.
“Peternak lain juga keluhannya sama. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena rezeki tidak akan tertukar. Tetapi harus diusahakan juga,” ungkapnya.
Ia juga mempertanyakan saat menjelang hari raya Idulfitri, sapi sangat sulit untuk masuk ke Tarakan. Tetapi menjelang Iduladha, sapi yang masuk ke Tarakan sangat banyak. Ia menyayangkan pengusaha yang membeli sapi dari luar Tarakan kemudian dijual kepada konsumen dengan harga murah.
“Setahun lalu saya beli sapi juga dari luar. Itu kan untuk proses penggemukan. Tapi, ternyata mereka menjual sapi tersebut ke pembeli sama dengan harga petani. Sama saja peternak lokal di kadalin. Ini merugikan sekali petani lokal,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Tanaman Pangan (Disnaktan) Tarakan, Elang Buana mengaku, beberapa pelaku usaha yang mendatangkan sapi menjelang Iduladha. Biasanya pengiriman sapi dari luar daerah harus dilakukan 6 bulan sebelum lebaran Iduladha.
“Biasanya digemukkan selama 6 bulan. Sekarang waktunya sudah mepet,” ungkapnya.
Ia menegaskan, harga sapi yang kian tinggi ini tak hanya terjadi di Indonesia. Kenaikan harga berkisar antara Rp 1 juta-Rp 2 juta. Harga tersebut sudah termasuk biaya kesehatan vaksinasi dan PCR. Harga sapi saat ini masih menyesuaikan dengan bobot sapi, minimum harga kisaran Rp 23 juta.
“Itu memerlukan biaya. Kemudian kami survei dulu ke beberapa lokasi yang belum bebas dari PMK. Kami survei ke tempat penampungannya, kemudian transportasi yang disertai disinfektan,” tuturnya. (kn-2)


