Thursday, 30 April, 2026

PT KHE Bantah Tak Ada Pengerjaan

TANJUNG SELOR – Tidak adanya progres pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Kayan, Kecamatan Peso, dipertanyakan pemerintah daerah maupun masyarakat. Mengingat, tidak mendapatkan informasi mengenai progres pembangunan tersebut.

Namun, hal itupun dibantah pihak PT KHE (Kayan Hydro Energy). Menurut Direktur Operasional PT KHE Khaerony, progres terus berjalan. Saat ini progres yang dimaksud dengan menjalankan realisasi investasi pembangunan PLTA. Tidak ada progres yang dimaksud masyarakat dan pemerintah. Dikarenakan hanya melihat sekilas dari lokasi konstruksi pembangunan bendungan PLTA di Desa Muara Pangean, Kecamatan Peso.

Jika diperlihatkan fisiknya di lapangan, maka kondisi pembangunan jalan baru terlihat. “Anggapan progres pembangunan yang lamban, itu jika dilihat dari izin yang dipegang sejak 2012 silam. Lantaran syarat perizinan yang ada harus dituntaskan satu per satu. Kalau hitung dari izin memang lama, tapi kalau dilihat perizinan cukup banyak, kurang lebih 40 izin,” jelasnya, beberapa waktu lalu.

Kata dia, izin itu bertahap harus berurutan sesuai aturan yang ada. Tidak bisa langsung seluruhnya dilakukan kepengurusan. Dengan telah rampungnya gudang bahan peledak, pihaknya meyakini target penyelesaian bendungan PLTA dapat selesai di 2025 mendatang.

Saat ini, proses perizinan masih berkaitan pengerjaan konstruksi. Pihaknya masih menunggu perizinan yang diterbitkan Mabes Polri. “Sudah ada kunjungan dari Mabes Polri ke kantor KHE di Jakarta. Terkait persyaratan penerbitan izin pembangunan gudang Handak (Bahan Peledak),” ujarnya.

Diakuinya, untuk persyaratan sudah tidak ada masalah. Dokumen biodata Direktur dan Komisaris PT KHE pun sudah diserahkan.

Dalam pembangunan PLTA Sungai Kayan tersebut, harus memperhatikan pengendalian air bagi masyarakat yang berada di desa terdampak. Desa terdampak, bukan hanya ada dua desa yang akan direlokasi, yakni Long Lejuh dan Long Pelban di Kecamatan Peso. Melainkan ada juga desa lainnya, yakni Long Peso, Long Biak, hingga ke Kecamatan Tanjung Selor.

Bupati Bulungan Syarwani mengatakan, perlu ada pengendalian pada air ketika PLTA terbangun. Sebab nantinya akan ada bendungan yang bisa berdampak pada air. Dengan adanya pengendalian air, diharapkan bisa mengurangi dampak adanya bencana banjir.

“Jadi pengendalian airnya akan bisa dikendalikan. Sehingga nanti apakah akan berdampak hingga Tanjung Selor, yang memang diharapkan tidak begitu rawan bencana  banjir,” ungkapnya, Selasa (30/8) lalu.

Dengan adanya pengendalian itu, maka wilayah hilir Sungai Kayan tidak akan kebanjiran. Di sisi lain, dapat menghasilkan enegi listrik yang bisa bermanfaat. Untuk transportasi, tentu ada solusi alternatif bagi masyarakat yang ada di tiga kecamatan di Bulungan. Seperti Kecamatan Peso, Tanjung Palas Barat dan Tanjung Selor. Akses ketiga kecamatan itu perlu diperhatikan. Untuk percepatan dan dukungan infrastruktur, menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan. Karena jika dengan menggunakan alur Sungai Kayan, tentunya terbatas.

Apalagi kondisi kapal atau perahu yang bisa melintas sampai ke lokasi kegiatan, hanya menggunakan long boat atau speedboat berukuran kecil. “Jadi memang itu tidak terlepas dari dukungan semua pihak. Harus diperhatikan, bagaimana transportasinya,” harap Syarwani. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru