Wednesday, 22 April, 2026

Satu Dekade Orkes Kota Pahlawan (OKP): Rangkaian Melati Lagu Wajib saat Konser di Griya Werda

Terhitung satu dekade Orkes Kota Pahlawan (OKP) menghibur warga Surabaya. Grup orkestra itu rutin menggelar pertunjukan. Lagu-lagu yang dibawakan disesuaikan dengan usia pendengar.

SEPTIAN NUR HADI, Surabaya

TEPUK tangan pengunjung Ciputra Hall menggema setelah menyaksikan penampilan memikat dari Orkes Kota Pahlawan (OKP). Dalam pertunjukan musik orkestra dua sesi itu, penonton disuguhi lagu-lagu hit mancanegara dan dalam negeri.

Tampilan itu diawali grup OKP Junior. Eunike Wiraseputra memimpin grup tersebut. Dalam sesi pertama, enam instrumen lagu dimainkan. Di antaranya, Highland Cathedral dari Skotlandia, Arabian Night dari Timur Tengah, Ju Hua Tai dari Tiongkok, Danny Boy dari Irlandia, dan Kalinka dari Rusia.

Surjanto Aditia menjadi konduktor di sesi kedua. Dalam satu jam sebanyak sepuluh lagu dimainkan. Diawali lagu berjudul Navarra dari Spanyol dan ditutup dengan beberapa lagu ciptaan almarhum Chrisye. Bagi Eurike Intan, menonton musik orkestra dari OKP tak membuatnya bosan.

Sebab, OKP selalu menyuguhkan aransemen musik yang enak didengar. “Nonton orkestra itu selalu membuat senang. Hati terasa tenang dan rasa stres pun jadi hilang,” kata perempuan 45 tahun itu.

Koordinator OKP Jessica Jordanius mengatakan, grup musik yang dia pimpin terbentuk pada Maret 2013. Itu berawal dari banyaknya warga Surabaya yang bisa memainkan alat musik seperti biola, piano, dan cello. Namun, mereka berjalan sendiri-sendiri, tidak tergabung dalam grup orkestra.

“Untuk memberikan wadah kreativitas, akhirnya ada ide untuk membentuk grup orkestra berbasis komunitas,” ucapnya.

OKP terbagi menjadi dua grup. Pertama, pemusik senior yang berisi para pelatih atau guru sekolah musik. Selanjutnya, grup junior yang beranggota anak-anak. Total anggota OKP mencapai 83 orang.

Perinciannya, 53 orang tergabung dalam grup orkes junior, sedangkan sisanya merupakan tim senior. Guna memberikan pengalaman kepada anggotanya, OKP mengadakan pergelaran orkestra.

Pertunjukan dihelat setiap semester. Mereka menggelar konser tunggal, bermain di pusat perbelanjaan, hingga tampil di panti asuhan dan panti jompo atau griya werda.

Saat konser di griya werda, lagu yang dibawakan sudah dipilih terlebih dahulu. Itu disesuaikan dengan usia para penghuninya. Tentu saja lagu-lagu yang tengah populer zaman dulu.

Misalnya, lagu berjudul Rangkaian Melati, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, atau lagu – lagu Barat yang populer periode 1920–1940-an. “Permainan musim tempo dulu membuat mereka bernostalgia. Berasa kembali ke zaman dulu,” ucap Jessica.

Hingga kini pertunjukan orkestra di griya werda rutin digelar setiap tahun. (*/c6/aph/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru