Sunday, 12 April, 2026

Sesalkan Kejadian Ada Santri Meninggal di Embung Tarakan

TARAKAN – Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Kaltara sesalkan kejadian tenggelamnya seorang santri Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tarakan di Embung Bengawan, Minggu lalu (6/3).

Ketua PW Muhammadiyah Kaltara Syamsi Sarman mengatakan, mewakili keluarga besar Muhammadiyah menyesalkan kejadian ini dan turut berbelasungkawa.

“Semoga almarhum husnul khotimah dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Kami merasa sangat kehilangan. Kepada keluarga dan kita semua semoga mendapat kesabaran dan bisa memetik hikmah dibalik musibah ini. Hari ini (kemarin, Red) seluruh ustadz dan santri di pesantren melaksanaan salat ghaib dan berdoa untuk almarhum,” katanya, Senin (7/3).

Ia mengakui, akan menyerahkan sepenuhnya kejadian itu untuk dilakukan penyelidikan oleh Polsek Tarakan Utara. Bahkan ia sudah bertemu langsung dengan Kapolsek Tarakan Utara. Jika ada unsur kelalaian atau kesalahan prosedur, pihaknya siap menindak tegas petugas pesantren. “Tapi, kalau misalnya hanya dalam bentuk di luar kontrol. Karena mereka tahu kalau itu dilarang mandi di embung,” tuturnya.

Namun, keterangan dari pihak pendamping sudah menanyakan kepada warga sekitar dan biasanya ada anak-anak yang berenang di embung tersebut. Akhirnya dari pendamping mengizinkan hanya santri yang bisa berenang, bermain di embung. Sedangkan yang tidak bisa berenang berada di pinggir saja.

Namun kemudian korban NA (12) mengalami musibah tenggelam. Ia enggan berspekulasi lebih jauh. Namun, keterangan dari pembina pesantren sudah mengarahkan santri yang bisa berenang saja. Bahkan ada sekitar 90 anak yang berenang dengan didampingi pembimbing.

“Ini kan kegiatan kepanduan, seperti pramuka. Pembina atau ketua rombongan satu orang. Ada 20 kakak pendamping yang mengawasi dari 90 anak yang dibawa,” sebutnya.

Pada waktu kejadian, kata Syamsi, ada warga dan Babinsa maupun Babinkamtibmas di lokasi kejadian. Pertolongan pertama sudah dilakukan, dibantu warga sekitar. Namun, ternyata nyawa korban tidak bisa tertolong. Saat dibawa ke Puskesmas Juata juga sudah dinyatakan meninggal dunia. Sehingga korban langsung dibawa ke pesantren dengan memanggil pihak keluarga.

Korban sebenarnya merupakan warga Kabupaten Bulungan. Hanya ada beberapa keluarga korban di Tarakan. Setelah serah terima, korban dibawa ke Bulungan dengan didampingi pendamping. Petugas MBS baru pulang setelah pemakaman selesai dilakukan.

“Kami pastikan akan kooperatif selama penyelidikan dilakukan. Terutama jika ada pihak yang merasa keberatan, kami siap bertanggung jawab. Kalau harus diproses, kami siap,” tegasnya.

Kapolres Tarakan AKBP Taufik Nurmandia melalui Kapolsek Tarakan Utara AKP Kistaya mengaku, masih melakukan penyelidikan terkait tenggelamnya santri Pesantren MBS. Pemeriksaan dilakukan mulai dari saksi mata yang ada di lokasi kejadian, pembimbing korban maupun teman-teman korban yang juga ikut berenang. “Semua masih dalam penyelidikan,” singkatnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru