TARAKAN – Persiapan pendirian Fakultas Kedokteran di Universitas Borneo Tarakan (UBT) saat ini sedang diupayakan. Dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdikbudristek) menyurati agar segera dibuatkan proposal.
“Proposal sudah kita buat dan mengajak Direktur Rumah Sakit bersama Gubernur (Kaltara). Untuk melakukan pertemuan dengan kepala daerah maupun UPT terkait kesehatan di Kaltara. Membicarakan program (rencana Fakultas Kedokteran) ini,” terang Rektor UBT Adri Patton, Jumat (18/2).
Selanjutnya, pihaknya akan mengundang Universitas Gajah Mada dan Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi beserta tim untuk membahas kembali. Kesiapannya saat ini tinggal menunggu kemauan politik dari negara maupun itikad baik dari pemerintah. Dalam hal ini Mendikbudristek.
Dari pertemuan terakhir dengan Mendikbudristek sudah tidak ada masalah. Diyakininya dari pertemuan tersebut sudah menjadi titik terang Fakultas Kedokteran bisa dibuka di UBT.
“Apalagi dari sarana maupun prasarana, walaupun gedung Fakultas Kedokteran belum dibangun. Tapi kita punya gedung luar biasa banyak, yang bisa dipakai untuk kegiatan perkuliahan. Laboratorium ada yang terpadu dan sekarang sudah bisa digunakan, jadi tidak ada masalah,” jelasnya.
Kebutuhan tinggi untuk Fakultas Kedokteran bisa ada di Kaltara, kata dia, menjadi pertimbangan segera terealisasi. Terlebih lagi kebutuhan dokter di Kaltara maupun di daerah lain cukup tinggi. “Targetnya dalam waktu secepatnya. Segera tahun ini kalau bisa,” tandasnya.
Dukungan pemerintah, disampaikan Wali Kota Tarakan Khairul sejak awal. Bahkan termasuk yang menginisiasi bersama Rektor UBT. Ia melihat kondisi kebutuhan tenaga medis, khususnya dokter di Kaltara masih sangat dibutuhkan. Khairul mengatakan ada beberapa Puskesmas yang pelayanan 24 jam ditutup dulu, lantaran kekurangan dokter.
Banyak dokter yang pindah dan berhenti, namun saat dilakukan perekrutan malah tidak ada yang mendaftar. “Kebutuhannya memang luar biasa. Itu baru Tarakan, bagaimana lagi di kabupaten lain di Kaltara yang punya wilayah terpencil. Pasti akan lebih kesulitan,” ungkapnya.
Rata-rata kendala yang dialami dokter yang baru lulus tidak mendaftarkan diri di rumah sakit di Kaltara. Karena lokasinya yang jauh, sulit mendapat tempat tinggal hingga tidak mengetahui medan.
Kekhawatiran ini yang membuat pemerintah daerah lebih memilih untuk mendidik anak-anak di Kaltara menjadi dokter. Meski, ia pastikan tidak membatasi orang luar untuk masuk ke Tarakan.
Sumber daya manusia di Kaltara , menurutnya melimpah untuk bisa didorong menjadi dokter. Ditambah kampus UBT sudah memadai, berarti pemenuhan dokter di Kaltara bisa terpenuhi setelah Fakultas Kedokteran ini berdiri.
“Tinggal masalah administrasi yang harus dikebut untuk mempercepat prosesnya. Tapi, pasti mayoritas nanti yang masuk dari wilayah Kaltara yang masuk di Fakultas Kedokteran UBT. Mudahan 6-7 tahun ke depan, masalah pemenuhan tenaga kesehatan seperti dokter umum tidak menjadi masalah lagi,” pungkasnya. (kn-2)


