Thursday, 25 June, 2026

Upaya Surabaya Realisasikan Angkutan Aglomerasi Berbasis Rel, Butuh Peran Daerah Penyangga

Pemerintah Kota Surabaya merencanakan angkutan berbasis rel yang bakal melayani rute aglomerasi Surabaya Raya. Sembari menunggu, untuk mengatasi kemacetan saat ini di kota yang hari ini berulang tahun ke-730 itu, moda bus yang paling cocok.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

TAHUKAH Anda kalau angka kerugian yang ditimbulkan akibat kemacetan di Surabaya bahkan sedikit lebih besar dibandingkan APBD Kota Pahlawan tersebut di tahun ini? Begitulah menurut hitung-hitungan yang pernah dilakukan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Kemenhub melansir tahun lalu, kemacetan di kota terbesar kedua di Indonesia itu bisa menimbulkan kerugian hingga Rp 1 triliun per bulan atau Rp 12 triliun per tahun. Sedangkan APBD Surabaya di tahun ini mencapai Rp 11,2 triliun.

Hingga kini moda angkutan berbasis jalan yang baru melayani warga ibu kota Jawa Timur yang berulang tahun tiap 31 Mei tersebut. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya pun terus berbenah. Rencananya, bakal ada angkutan berbasis rel yang melayani rute aglomerasi Surabaya Raya.

Wali Kota Eri Cahyadi mengakui beban berat yang masih menggantung di masa pemerintahannya adalah masalah transportasi massal. Problematika itu menurutnya tidak sesederhana yang banyak orang kira.

“Surabaya itu kalau pagi, arah masuk ke Surabaya macet. Kalau sore, apalagi Jumat, giliran keluar Surabaya yang macet. Kejadian seperti ini bukan perkara Surabaya saja faktornya,’’ katanya.

Menurut Eri, penyelesaian masalah tersebut butuh peran daerah penyangga. Daerah yang dimaksud adalah Surabaya Raya, yakni Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Eri menyebut ketiga kepala daerah sudah rembukan dan tatap muka. Agar ada solusi jangka panjang yang bisa diterapkan.

“Kami bertiga (kepala daerah Surabaya Raya, Red) selalu bersinergi dan berpikir bersama untuk menciptakan transportasi massal, yakni berupa kereta. Tahun ini semoga saja feasibility study (FS) itu rampung sehingga tahun depan sudah bisa masuk ke pusat,” ucap ketua IKA ITS Jatim tersebut.

Moda transportasi berbasis rel itu, kata Eri, akan menghubungkan tiga daerah bertetangga tersebut. Koneksi antarwilayah penyangga ini akan mampu menyediakan alternatif untuk mobilitas masyarakat dari luar menuju Surabaya. Tentunya dengan biaya yang lebih murah daripada menggunakan kendaraan pribadi.

Bukan hanya kereta, Eri menyebut kebijakan pembatasan kendaraan masuk dalam kota juga jadi salah satu solusi yang dia pikirkan. Sistemnya seperti penerapan pelat ganjil genap. Namun, sistem itu hanya bisa direalisasikan jika kedua daerah yang menyokong Surabaya juga mengamini kebijakan yang sama.

“Mungkin nanti Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur bisa memastikan bahwa ada sistem ganjil genap di Surabaya. Karena untuk hal ini bukan kewenangan pemkot. Kalau saya memaksakan di Surabaya saja, terus bagaimana dengan yang dari Gresik atau Sidoarjo,’’ ucapnya.

Surabaya, lanjut Eri, memang akan terus menjadi daya tarik perekonomian di Jawa Timur dan Indonesia Timur. Tawaran infrastruktur yang matang serta ketersediaan raw material hingga barang jadi akan mendorong mobilitas manusia dan kendaraan semakin tinggi.

“Mau tidak mau Surabaya ini jujukannya orang se-Jawa Timur. Maka pasti akan macet. Nah, sistem ganjil genap ini harus dipikirkan karena tidak semua kendaraan pelat L,’’ katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Surabaya Febrina Kusumawati mengatakan, studi yang disiapkan merupakan rangkaian dari sustainable urban mobility plan (SUMP). Cakupan perencanaan itu bukan hanya Surabaya. Melainkan Wilayah aglomerasi Gerbangkertosusila (GKS) plus.

“Leading-nya ada Pemprov Jatim. Jadi, penyelesaian masalah transportasi memang selalu terkendala antardaerah. Dengan perencanaan ini, nantinya akan saling terintegrasi. Ada opsi angkutan berbasis rel dan jalan dalam perencanaan tersebut,’’ ungkapnya.

Febri mengatakan, masing-masing daerah akan dilihat bagaimana kesiapannya. Sehingga apa yang dimiliki akan dikoneksikan. Misalnya di Surabaya ada Suroboyo Bus sebagai trunk alias angkutan penumpang kapasitas besar yang bisa dikoneksikan dengan moda lain yang ada di Sidoarjo.

“Namun, yang pasti, realisasi perencanaan ini masih butuh waktu. Karena itu, kami melihat saat ini yang paling cocok bagi Surabaya adalah moda transportasi by bus dulu,’’ ucapnya.

Febri menyebut total ada 11 rencana koridor jalur yang diisi trunk. Dari jumlah itu, sudah 5 koridor yang beroperasi. Sedangkan feeder atau angkutan pengumpan sudah terealisasi 5 koridor.

“Untuk mengatasi kemacetan di Surabaya, selain model transportasi by bus adalah dengan transportation demand management (TDM). Pilihannya adalah dengan mengutak-atik aturan parkir di tepi jalan,’’ pungkasnya. (*/c17/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru