Wednesday, 22 April, 2026

Wakili Indonesia dari Utusan Sekolah, Kakak Beradik Atlet Panahan Berkuda Berprestasi Internasional

Arsa jatuh cinta dengan panahan berkuda karena sangat menantang adrenalin, sedangkan Arum ingin membuktikan siapa pun bisa melakukannya tanpa memandang gender.

LAILATUL FITRIANI, Surabaya

ARSA Wening membiarkan kudanya berlari kencang tanpa memegang kendali. Matanya hanya terfokus pada target. Begitu yakin, dia lepaskan anak panah dari busurnya.

Senin (7/8) lalu dan hari-hari lainnya selama training camp, itulah yang dia lakukan. Remaja yang bulan ini genap berusia 17 tahun itu tengah fokus mempersiapkan diri kembali mewakili Indonesia dalam kompetisi panahan berkuda internasional di Rusia pada Jumat (18/8).

“Semoga saya bisa kembali mengibarkan bendera Merah Putih di Rusia,” ujarnya kepada Jawa Pos yang menghubunginya dari Surabaya.

Selama ini, Arsa berlatih hanya saat libur semester atau saat akan mengikuti kompetisi seperti sekarang. Maklum, dia masih pelajar. Meski kerap mewakili Indonesia di kompetisi internasional, Arsa yang bersama keluarga tinggal di Depok itu tetap mengutamakan pendidikan.

“Jadi, waktunya lebih banyak tinggal di asrama dan tidak bisa setiap pekan latihan. Setelah kompetisi kembali masuk asrama,” tutur pelajar kelas XI Maghfirah Islamic Leadership Boarding School (MilBos), Kabupaten Bogor, itu.

Begitu pun sang adik, Arum Nazlus Shabah, yang turut mengikuti jejaknya sebagai atlet panahan berkuda junior. Hanya saat libur panjang sekolah dan jelang kompetisi dia bisa bertemu dengan Santi, kuda cokelatnya.

“Kuda itu lucu dan cerdas,” timpal Arum tentang alasan menyukai kuda.

Dalam keluarga kakak beradik itu, panahan berkuda bukan sekadar olahraga. Melainkan juga media untuk mengasah fokus dan disiplin. Begitulah didikan ayah-ibunya. Sejak kecil, mereka sudah diajari memanah dan berkuda.

“Kami lebih dulu belajar panahan ground tradisional. Saya dari kelas IV SD, Arum dari kelas II SD,” kata Arsa.

Busur dan teknik panahan tradisional berbeda dengan busur modern yang biasa digunakan atlet Olimpiade. Tak butuh waktu lama bagi Arsa untuk mempelajarinya. Di bangku kelas V SD, untuk kali pertama dia mengikuti turnamen panahan tradisional di Kahramanmaras, Turki.

Setahun kemudian, dia menjadi anggota termuda organisasi panahan tradisional dunia, World Traditional Archery Organization (WTAO), di Korea Selatan. Meski baru berusia 11 tahun, Arsa mendapat apresiasi dari para master panahan tradisional. Itu disebabkan kemampuannya menguasai teknik dengan baik.

“Umur 13 tahun baru belajar berkuda. Setelah menguasai riding berkuda, baru mulai belajar panahan berkuda selama empat tahun,” ucap Arsa.

Tentu, tidak mudah menggabungkan dua kemampuan sekaligus. Bagi Arsa, panahan berkuda adalah olahraga anti-arus utama yang sangat memacu adrenalin. Tapi, justru itulah yang membuatnya jatuh cinta.

“Menantang, ya. Harus menguasai kuda dengan kecepatan tinggi tanpa memegang kendali, sementara tangan dan pikiran fokus memanah,” ungkap peraih Trofi Alfaris (Piala Kesatria) dari Qatar Horseback Archery 2023 itu.

Berkat tekad dan dedikasinya, atlet panahan berkuda asal Depok itu sudah langganan menjuarai kompetisi panahan berkuda. Salah satunya sukses menjadi juara I International Horseback Archery Circular Track di Turki pada 2021. Terbaru, menjadi juara umum Horseback Archery Grand Prix 2023 di Banyumas dan juara II Qabak IMAG 2023 di Polandia.

“Kompetisi di Eropa selalu berkesan. Di sana persaingannya sangat ketat dan mereka punya disiplin horseback archery yang baik,” kata Arsa.

Melihat capaian saudaranya, Arum pun tak mau kalah. Begitu mahir memanah, bungsu empat bersaudara itu mulai intens belajar berkuda.

”Saya lulus SD awal Covid-19 melanda. Karena nggak mau sekolah online, saya pilih belajar panahan berkuda selama istirahat sekolah satu tahun,” ujar gadis 15 tahun yang duduk di kelas VIII di sekolah yang sama dengan sang kakak itu.

Olahraga itu menjadi cara dia mencintai kuda. Lewat panahan berkuda pula Arum ingin membuktikan bahwa siapa pun bisa melakukannya tanpa memandang gender. Apalagi, belum banyak atlet panahan berkuda perempuan di Indonesia.

“Di kompetisi internasional itu putra-putri dicampur. Jadi, sama-sama membuktikan kemahiran masing-masing,” imbuhnya.

Prestasinya pun tak kalah mentereng. Dia menjadi juara umum International Horseback Archery Siege System 2021 dan juara umum Horseback Archery Istanbul Cup 2021.

“Itu kompetisi paling membekas. Saat itu ada empat kategori dan saya meraih peringkat I untuk keempat kategori, bertepatan dengan hari kemerdekaan juga. Tiga bulan kemudian saya bisa kembali mempertahankan posisi di Istanbul Cup,” kenang peraih penghargaan Life Style Awards 2022 bidang sport dari MNC Group itu.

Arsa dan Arum menjadi generasi awal untuk level anak-anak yang memperkenalkan dan memopulerkan horseback archery (HBA) di Indonesia. Di Indonesia belum ada tempat khusus belajar HBA dengan standar internasional yang berlaku umum.

“Pada 2019 itu saya dikirim belajar ke Turki, Arum menyusul pada 2021. Kami juga sempat belajar di AMM Archery Polandia berguru ke Anna Sokolska, juara dunia horseback archery,” lanjut Arsa.

Per akhir Juli lalu, Arsa dan Arum berhenti dari Perkumpulan Panahan Berkuda Indonesia (KPBI) yang mereka ikuti sejak 2017. Keduanya memilih untuk independen mengembangkan panahan berkuda bersama sekolah tempat mereka belajar.

“Kami tetap mewakili Indonesia dari utusan sekolah. Target kami menempatkan Indonesia sebagai pemegang poin tertinggi di dunia pada kategori tower 90 atau Hungarian track. Saat ini baru berada di posisi 20 besar,” katanya. (*/c19/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru