Eko Susanto telaten membuat wayang kulit secara manual. Wayang produksi Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro itu ternyata sudah dibeli kolektor dari Eropa.
DIAKUI atau tidak, nilai estetika pada setiap karakter wayang kulit begitu tinggi. Pahatan yang begitu detail ditambah corak warna yang beragam nan memesona menambah kesan luks benda seni asli nusantara tersebut.
Bahkan, sejak 2003 silam, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni UNESCO, telah mengakui pertunjukan wayang kulit sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan di bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (masterpiece of oral dan intangible heritage of humanity).
Nah, berbicara tentang wayang kulit, warga Banyuwangi boleh berbangga. Sebab, salah seorang warga kabupaten the Sunrise of Java, yakni Eko Susanto, 44, warga Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro mampu menjadi perajin alias produsen wayang kulit yang kualitasnya diakui di kancah nasional, bahkan internasional.
Tidak hanya merambah pasar nasional, seperti Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa kota besar tanah air, wayang kulit hasil karya Eko telah tembus pasar benua biru, Eropa. Termasuk dibeli oleh kolektor asal Prancis dan Jerman. “Wayang kulit yang kami bikin kebanyakan dibeli dalang. Namun, tidak jarang kami menerima pesanan dari kolektor,” ujarnya.
Diperoleh keterangan, keterampilan membuat wayang kulit diperoleh pria asal Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar itu secara turun-temurun. Dia mulai belajar memahat kulit sapi menjadi wayang dari orang tuanya sejak masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SME)–kini disebut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)— yakni sekitar tahun 1994.
Saat menikah dan tinggal di Sukowidi, dia pun membuka usaha di rumahnya yang berlokasi di tepi Jalan Yos Sudarso tersebut.
Untuk membuat satu karakter wayang kulit, Eko membutuhkan waktu selama empat sampai 15 hari. Tergantung ukuran dan tingkat kerumitan sunggingan alias pahatan wayang tersebut. “Yang membutuhkan waktu paling lama adalah gunungan. Bagi sebagian orang, gunungan itu disakralkan. Bahkan, di keluarga kami ada tradisi sebelum membuat gunungan harus puasa terlebih dahulu,” kata dia.
Soal bahan, Eko menyatakan sebagian besar wayang karyanya menggunakan bahan baku kulit sapi. Namun, jika ada pemesan yang menghendaki wayang kulit yang berbahan kulit kerbau, dia pun bakal menyanggupi. “Bahan bakunya, baik kulit sapi maupun kulit kerbau relatif mudah didapat. Sebab, kami punya relasi di banyak kota,” tuturnya.
Masih menurut Eko, setiap unit wayang kulit hasil karyanya dibanderol dengan harga bervariasi. Wayang kulit terkecil dia jual seharga Rp 500 ribu. Namun, ada pula wayang kulit yang dia jual sampai seharga Rp 8,5 juta. Contohnya, karakter Anoman Mundri atau Anoman Raksasa.
Sementara itu, Eko menuturkan, bagi dirinya membuat wayang bukan sekadar bertujuan menghasilkan uang. Sebab, dia juga ingin terus berkarya sekaligus menunjukkan kecintaannya pada budaya asli tanah air tersebut. (bw/sgt/rbs/als/jpg)


