Wednesday, 29 April, 2026

Ini yang Terjadi pada Pengusaha Tahu Tempe, Jika Harga Kedelai Tak Turun

TARAKAN – Harga kedelai terus mengalami kenaikan. Akibatnya, tidak hanya sejumlah pedagang usaha tahu dan tempe yang terpaksa mengurangi ukuran. Bahkan diantaranya ada yang terancam gulung tikar.

Salah seorang pemilik industri pembuatan tahu dan tempe di Tarakan, Sofyan mengakui, sudah merasakan dampak kenaikan harga kedelai ini sejak enam bulan terakhir. Pengusaha tahu yang sudah 40 tahun menjalani bisnisnya ini mengaku, tidak bisa menaikkan harga tahu atau tempe. Meski sekarung kedelai mengalami kenaikan hingga Rp 200 ribu. Dari harga Rp 350 ribu per karung menjadi Rp 575 ribu.

“Sekarung itu (berat) 50 kg. Misalnya habis 2 karung, sehari berarti tambah modal Rp 400 ribu. Kami sehari bisa habiskan sekitar 3 karung. Harga tahu tidak ada kenaikan sampai sekarang. Kami kurangi saja ukurannya sedikitlah. Kami tunggu harga kedelai ini bisa turun lagi atau tidak,” ungkapnya, Rabu (23/2).

Dengan harga kedelai yang melambung tinggi, sebenarnya masih bisa bertahan. Namun bisa saja nantinya, jika tidak ada kebijakan pemerintah untuk menekan harga kedelai. Bisa mengurangi ukuran tahu maupun tempe.

“Harga tetap, tapi tahu dikecilin. Waktu Rp 350 ribu, kita tidak ada kerugian modal. Ini sudah terpotong modal Rp 200 per karung. Dari dinas sudah datang juga bertanya, tapi belum ada solusi,” keluhnya.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Tarakan Sugeng menjelaskan, kenaikan yang signifikan ini terjadi pada harga distributor dari pusat. Ia menegaskan sudah melakukan pemantauan ke pasaran dan distributor.

“Mungkin produksinya kurang, karena kita ambil dari Surabaya. Mungkin juga gagal panen, kan cuaca ekstrem. Kalau saya lihat secara teknis hasil panennya ini, lahannya harus kering dan air juga ada,” jelasnya.

Sugeng memastikan stok pangan komoditas kedelai dalam keadaan aman. Mesti beberapa pengusaha tahu tidak melaporkan ke pihaknya. Namun sebagian pengusaha hanya memperkecil ukuran tahu dan tempe.

“Informasi dari pelaku usaha tidak mengeluh rugi, tapi hasil produksinya dikurangi. Tak kayak di Jawa, berhenti jualan dan gulung tikar. Di sini (Tarakan), pelaku usaha masih bertahan, infonya besar kecilnya tetap aja, harga tidak dinaikan,” bebernya.

Pihaknya berharap Pemerintah Pusat dapat mengambil kebijakan menangani harga kedelai. Agar bisa kembali seperti harga semula. Pengusaha diharapkan menaikan harga tidak terlalu tinggi. Agar pelaku usaha tetap bisa bertahan dan ambil untung, serta masyarakat dapat menikmati hasil olahan kedelai.

Kenaikan harga kedelai belum berdampak signifikan untuk produksi tempe dan tahu di Kabupaten Nunukan. Para pengusaha hanya mengakali ukuran tempe dan tahu lebih kecil dari biasanya. Menakar modal dan keuntungan.

Salah seorang produsen tempe dan tahu di Nunukan, UD Jaya Abadi yang dimiliki Fathurrohman, masih melakukan produksi normal seperti biasa.

“Kenaikan harga kedelai sudah terjadi sekitar sebulan. Setiap hari kenaikan dari Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Tapi selama barangnya ada, kita masih bisa produksi normal, paling main di volume aja,” ujar Fathurrohman, Rabu (23/2).

Dalam sehari, pabrik tahu tempe miliknya masih memproduksi 10 karung atau sekitar 500 kg. Mereka berbelanja kedelai sebulan sekali di Surabaya. Dengan sekali belanja sebanyak 1 kontainer atau seberat 23 ton.

Barang tersebut akan diangkut menggunakan kapal laut dan biasanya tiba di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, setelah seminggu pemesanan.

“Saat ini saya belanja satu kontainer harganya Rp 11 juta, kalau biasanya Rp 9 juta. Makanya kita kurangi ketebalan dan jumlah bahan bakunya,” tegasnya.

Ada 10 karyawan di UD Jaya Abadi yang dipekerjakan pria asal Jombang Jawa Timur ini. Mereka semua diberikan gaji cukup lumayan, mulai Rp 2,5 juta-Rp 3 juta.

“Kalau di Nunukan, kenaikan harga kedelai itu tidak memiliki pengaruh signifikan. Mindset masyarakat Nunukan selagi barangnya ada, berapapun harganya tetap dibeli,” ungkapnya.

Kendati demikian, Fathurrohman juga menyampaikan simpatinya bagi para pembuat tahu tempe di Jawa. Kenaikan harga yang terus terjadi mengancam bisnis mereka. Sehingga butuh adanya keseriusan pemerintah dalam mengontrol harga.

“Kita semua ini pengusaha kecil, tentu harapannya harga bisa normal lagi. Tahu tempe yang digemari seluruh kalangan ini menjadi lebih maju, lebih digemari,” ujarnya.

Fathurrohman pertama kali terjun di pembuatan tahu tempe pada 1992. Ia memulai kerja dengan menjadi buruh orang lain, sampai akhirnya tahun 2000 memutuskan mandiri dan membangun pabriknya sendiri.

Tempe buatannya juga sudah memiliki pangsa pasar tersendiri. Kadang dikirim ke wilayah pelosok Seimanggaris, dataran tinggi Krayan. Bahkan, tidak jarang dibawa beberapa WNA untuk oleh-oleh di Malaysia.

“Bisnis tahu tempe bisa eksis meski di masa pandemi. Kalau harga ikan atau daging naik, omset kita ikut naik. Prospeknya bagus saja. Buktinya saya bisa terus menggaji sepuluh karyawan saya,” tutupnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru