TARAKAN – Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan mengeluarkan surat edaran menghentikan sementara seluruh Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri.
Hal ini dilakukan menyusul adanya peningkatan kasus penyebaran Covid-19 di sejumlah satuan pendidikan. Wali Kota Tarakan Khairul menjelaskan, ada klaster PTM di sejumlah sekolah. Sehingga pihaknya terpaksa mengambil kebijakan menghentikan sementara PTM selama 2 minggu, dihitung 24 Februari – 14 Maret mendatang.
“Saya dihubungi Kepala Disdik menyampaikan perkembangan Covid di klaster PTM dan ada rekomendasi dari Dinas Kesehatan. Untuk menghentikan sementara PTM. Saya minta data dari Dinkes dan kita ambil kebijakan dua minggu, sambil melakukan evaluasi dulu,” terang Khairul, Rabu (23/2).
Apabila kasus mereda, maka sekolah bisa dibuka kembali. Evaluasi setiap dua minggu, tapi tetap Belajar Dari Rumah (BDR). Sementara terkait Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kata dia, untuk penghentian sementara kegiatan PTM tergantung kebijakan Disdikbud Kaltara.
Mesti dari Dinkes juga sudah mengeluarkan surat rekomendasi, untuk penutupan PTM selama dua minggu bagi SMAN 1, SMKN 2, SMAN 3, SMAN 2 dan SMKN 1. “Kami hanya mengatur dari PAUD sampai SMP, sesuai Undang-Undang 23. SMA sudah menjadi kewenangan Provinsi,” ungkapnya.
Sementata itu Plt Kepala Disdik Tarakan Eni Suryani menambahkan, sebelum keputusan BDR seluruhnya ini dilakukan. Sudah ada 13 sekolah yang memiliki klaster PTM. Ditambah, banyak anak-anak yang bergejala, sehingga dipastikan masih terjadi penyebaran Covid-19 di sekolah.
“Saya lapor ke pak Wali. Arahannya dihentikan sementara. Sebenarnya mengganggu persiapan ujian, tapi tahun lalu kita bisa BDR. Daripada anak-anak ini terpapar, penyebarannya ini cepat, jadi saya rekomendasikan BDR. Puskesmas sudah mulai kewalahan. Jumlahnya bertambah terus,” urainya.
Mesti terkonfirmasi positif Covid-19, belum ada siswanya yang memiliki gejala berat. Rata-rata bahkan tanpa gejala maupun gejala ringan. Pihaknya belum menerima ada klaster PTM di PAUD.
“Mungkin karena sudah divaksin, jadi gejalanya ringan. Tapi, saya minta orangtua siswanya yang terus menegaskan dan menjaga anak-anaknya. Untuk tetap di rumah dan BDR. Kesadaran orangtua masing-masing, kalau di sekolah bisa kami sampaikan dan prokes ketat. Tapi kalau di rumah, pengawasan orangtua,” bebernya. (kn-2)


