NUNUKAN – Tanaman porang menjadi primadona baru pertanian, dengan hasil yang menjanjikan di sejumlah daerah di Nusantara.
Harga tanaman jenis talas ini menghasilkan umbi yang multiguna, mulai dari tepung sampai bahan kosmetik. Pangsa pasarnya cukup mudah, bahkan sejumlah perusahaan besar di Jawa bersedia mengajukan kerja sama penyediaan bibit sampai menjadi pembeli dari hasil budi daya porang.
Salah seorang pengusaha Nunukan yang sedang menekuni budi daya porang yakni Dani Iskandar. Ia mencoba menciptakan bibit porang untuk Nunukan dan berupaya menarik minat para petani.
“Silakan bagi yang memiliki lahan, kami siapkan bibitnya. Prospek porang di Nunukan sangat menjanjikan dan tak perlu bingung kemana menjual hasilnya,” ujarnya, Senin (14/3).
Dani mengatakan, porang memiliki banyak keunggulan dan risiko kerugian yang tergolong kecil. Pembudi daya porang hanya layaknya pekebun biasa, yang merawat tanaman dengan dua kali panen setahun.
Harga porang selalu naik di atas Rp 5.000 per kg. Saat ini, harga perkilonya berkisar Rp 10 ribu. Dalam setiap tanaman porang, muncul sejumlah tunas porang disela daun, yang disebut katak mirip kentang mini.
Katak bisa dipanen untuk bibit dan harga perkilonya bisa mencapai Rp 200 ribu. “Saya mencoba menciptakan bibit untuk Nunukan. Kita memiliki prospek bagus untuk porang. Dari sisi bisnis, ini menjanjikan dan kecil kemungkinan merugi,” tuturnya.
Jika dalam satu pohon terdapat umbi seberat 1 kg. Maka dalam satu pohon sudah bisa menghasilkan Rp 10 ribu. Sementara, dalam satu pot tanaman porang, biasanya selalu muncul sampai 6 tunas. “Kami sudah ada kerja sama dengan PT Invetro Inovasi Teknology Surabaya. Mereka sediakan bibit, mendampingi budi daya dan menampung hasil porang. Tak perlu khawatir akan merugi atau tidak bisa menjual hasilnya,” pesan Dani.
Porang menjadi komoditi yang sangat menarik para pengusaha. Kabupaten Nunukan sudah mendapat kunjungan dari PT Newstar Konjac Semarang. Sama halnya dengan PT Invetro, perusahaan asal Semarang ini menawarkan kerja sama. “Kalau pasar sudah terjamin, tunggu apalagi? Saya sudah mulai menanam bersama sejumlah kelompok tani. Apalagi Malaysia sebentar lagi membuka jalur perbatasan. Menjual porang ke Malaysia menjadi alternatif,” tutur Dani. (kn-2)


