Wednesday, 22 April, 2026

Sesalkan Pemberitahuan Ranjau Baru Sekarang

TARAKAN – Petani rumput laut meminta waktu untuk tidak lagi menanam patok di area ranjau di sekitar Pantai Amal. Petani rumput laut sangat menyayangkan, pemberitahuan adanya ranjau baru sekarang.

Sekretaris Asosiasi Pengusaha Rumput Laut Kota Tarakan Sirajjudin mengaku, kesulitan jika diminta untuk tidak menebar bibit rumput laut di lokasi yang terdapat ranjau. Hal ini diketahui, setelah pertemuan dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Kaltara serta Lantamal XIII Tarakan.

“Ditampilkan juga peta yang ada ranjaunya, besaran (wilayahnya) sama kayak Tarakan. Sulit juga karena isu (ranjau) ini baru berkembang. Sementara histori soal ranjau ini kata mereka sudah lama, kenapa tidak dari dulu,” keluhnya, Kamis (28/7).

Jika pembudidaya rumput laut dilarang menebar bibit di area tersebut. Pihaknya juga meminta diberikan kejelasan, soal waktu pembersihan ranjau. Ia mengakui, sampai saat ini bersama petani rumput laut masih tetap beraktivitas di wilayah itu.

“Ada statement petani juga saat rapat itu ‘orang mengutamakan perut’ dibanding yang begitu. Itukan istilahnya, area kami tidak tahu titik tertentunya di mana. Lagipula selama ini cuma disebut area, dan petani tidak semuanya tahu,” ungkapnya.

Dalam pertemuan beberapa waktu lalu, pihak Lantamal XIII Tarakan telah mengimbau agar tidak dulu membuat atau menebar bibit rumput di wilayah tersebut. Namun masih terkendala anggaran, untuk pihak ketiga terkait pembersihan ranjau. “Ya katanya mau ada penyelaman dulu pihak ketiga. Tapi pertanyaannya sampai kapan,” tuturnya.

Sementara itu, Penyusun Program Sarana Prasarana Seksi Operasi Kantor Navigasi Tarakan Tombus mengatakan, dalam Peta Laut Indonesia Nomor 259 yang dikeluarkan Dinas Hidro Oseanografi TNI AL ada daerah ranjau yang belum disterilkan dan tidak diizinkan ada kegiatan aktivitas apapun.

Jika dilihat dari historinya, arus pelayaran Tarakan-Bunyu belum ada legalitas. Selama ini penggunaan alur memutar atau hanya digunakan lewat di atasnya. Namun, seiring dengan berkembangnya kegiatan masyarakat salah satunya rumput laut. Berarti ada berbagai kepentingan di perairan yang sering dilewati speedboat Tarakan-Bunyu.

Sebelum bisa dibuka jalur pelayaran Tarakan-Bunyu, harus dilakukan sterilisasi lokasi yang masih terdapat ranjau bawah laut. “Kami masih menunggu perkembangan. Kalau masalah ranjau selesai, baru bisa dilanjutkan pembahasannya. Ini terkait legalitasnya. Turunannya nanti dibuatkan SK (Surat Keputusan). Jika sudah ada legalitasnya berarti semua aturan tak ada yang tumpang tindih,” tuturnya.

Ia menegaskan, ranjau yang ada merupakan sisa peninggalan perang dunia kedua dan tertuang dalam Peta Laut Indonesia. Semua pelayaran yang melewati perairan Tarakan menggunakan Peta Laut Indonesia Nomor 259 tersebut, sebagai panduan memasuki perairan.

Mulai dari alur masuk pelabuhan dan perlintasan untuk daerah masuk ke kabupaten kota yang ada di Kaltara. Namun masih ada masyarakat yang menggunakan wilayah perairan daerah ranjau, untuk melakukan aktivitas rumput laut.

“Memang agak luas daerah ranjau ini. Ada daerah yang dibersihkan, karena ada pipa yang ditanam. Tapi, sepanjang 11 mil dari bibir Pantai Amal yang masih terdapat ranjau sesuai Peta. Masyarakat otodidak saja menanam bagan, dikhawatirkan pada saat menanam tiang rumput laut itu yang malah mengenai ranjau, kan berbahaya,” bebernya.

Sementara ini pengguna alur pelayaran Tarakan-Bunyu menggunakan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 141 Tahun 2020 tentang alur masuk Pelabuhan Tarakan. Koridornya, mulai dari luar lautan Merah Putih Melajur Tegak (MPMT), menandakan ada pelabuhan daratan Tarakan. Kemudian dibuatkan tanda untuk arahan para nakhoda yang memasuki alur pelayaran Tarakan.

Jalur Tarakan-Bunyu, sesuai alur yang sudah ditetapkan untuk menjaga keselamatan dan keamanan pelayaran. Dalam pengguna perairan harus menggunakan yang sudah dibuat. “Kami sudah arahkan pengguna speedboat menggunakan jalur memutar. Tapi memang nakhoda beralasan terlalu jauh,” ujarnya.

Alur selama ini yang digunakan, masih alur alternatif langsung tembak lurus. Ternyata setelah ditelusuri ada kepentingan, salah satunya melewati daerah ranjau. Sementara jika menggunakan alur alternative, bisa memangkas waktu perjalanan. Dihitung dari efektifitas lebih menghemat waktu daripada memutar.

“Kalau kami pantau pemakaian alur speedboat kecil, di pulau kecil di Kaltara seperti Bunyu selama ini ada dua alternatif. Dari Tanjung Pasir menuju ke Bunyu lewat luar. Kadang lewat Juata Laut, Tanjung Tibi baru ke Bunyu. Artinya belum ada penetapannya untuk alur itu,” tutupnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru