TANJUNG SELOR – Sebagai upaya memenuhi kebutuhan minyak goreng (Migor) untuk masyarakat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan bersama seluruh perusahaan perkebunan menggelar bazar migor curah bersubsidi.
Dengan mengambil lokasi di Pasar Induk Tanjung Selor, sebanyak 16 ribu liter migor subsidi dijual seharga Rp 13,5 ribu per liter. Dalam pembelian migor tersebut, masyarakat dibatasi hanya 20 liter per kepala keluarga (KK).
Adanya bazar murah migor curah bersubsidi ini dipantau juga oleh Bupati Bulungan Syarwani. Dikatakan Syarwani, rencananya saat momentum hari jadi Kabupaten Bulungan, kembali melaksanakan hal serupa. Namun dengan konsep, akan dibagi ke beberapa kecamatan.
“Saya berkomitmen, mudah-mudahan harga Rp 13,5 ribu per liter ini tetap diberlakukan untuk kecamtan lainnya di Bulungan,” ujarnya, Minggu (14/8).
Syarwani mengakui, penurunan harga migor curah ini tidak mengeluarkan anggaran melalui APBD Bulungan. Mengenai biaya transportasi untuk pengangkutan, merupakan hasil sinergitas dengan perusahaan perkebunan di Bulungan.
“Kita melibatkan 7 perusahaan kelapa sawit, konsepnya periodik dan menargetkan beberapa kali dengan melibatkan semua perusahaan perkebunan yang ada,” ungkap mantan Ketua DPRD Bulungan ini.
Menurut Syarwani, untuk ketersediaan migor di lapangan dipastikan masih stabil dan normal. Tetapi, dari harga masih flukuatif. Di tempat yang sama, Kapolres Bulungan AKBP Ronaldo Maradona T. P.P Siregar mengatakan dengan adanya bazar migor subsidi ini sebagai upaya pemerintah daerah mengatasi persoalan kebutuhan masyarakat.
“Kami telah diskusikan kepada Bupati dan mengusulkan untuk pengamanan penyaluran yang rencananya memanfaatkan mobil patroli. Untuk penyaluran ke kecamatan dan desa-desa yang lain,” ujarnya.
Pasalnya, masih banyak warga Bulungan yang ingin menikmati migor dengan harga subsidi. Seperti di kecamatan yang aksesnya jauh, yakni Kecamatan Peso, Sekatak, Tanjung Palas Utara, Bunyu dan Peso Hilir.
Sementara itu, salah seorang warga Nurika menyambut baik adanya bazar murah migor subsidi. Hal ini harus konsisten dilakukan oleh pemerintah. Mengingat, harga di pasaran migor non subsidi masih cukup tinggi.
“Saya belinya lumayan banyak, karena kebetulan di rumah dalam waktu dekat ada acara. Saya pun beli buat kebutuhan dapur,” ucapnya.
Harga migor non subsidi saat ini, masih berkisar Rp 18 ribu- Rp 24 ribu per liter. “Minyak goreng yang saya beli hari ini, bisalah bertahan dalam sebulan ke depan,” tutupnya. (kn-2)


