Hampir semua keluarga besar Bohdana Anisova masih tinggal di Ukraina, di tengah peperangan melawan Rusia yang masih terus berlangsung. Begitu tampil di Proliga, penggawa Gresik Petrokimia itu mendapati bahwa semua info yang pernah dia dengar tentang Indonesia dan liga volinya benar adanya.
RIZKY AHMAD FAUZI, Kabupaten Bandung
TATAPANNYA selalu fokus di tiap pertandingan. Senyumnya juga senantiasa mengembang dan dengan hangat memeluk rekan-rekan setimnya di Gresik Petrokimia tiap kali poin berhasil didapat.
Di atas lapangan, profesionalisme Bohdana Anisova memang tak bisa ditawar. Itu pula yang membuat karier pemain 30 tahun asal Ukraina tersebut bergelimang prestasi. Dia tercatat pernah merebut gelar di Ukraina, Belarus, Rusia, sampai ke Mesir.
Tapi, jauh di dalam hati dan pikirannya, nasib keluarga besarnya yang tengah berada di situasi perang nun di kampung halaman terus membayangi. Ukraina, seperti diketahui, diinvasi Rusia sejak 24 Februari tahun lalu. Peperangan dua negara yang dulu sama-sama berada di bawah payung Uni Soviet itu masih terus berlangsung sampai sekarang.
Kecuali sang adik tiri, Maria, semua keluarga pemain berposisi outside hitter tersebut masih tinggal di Ukraina, di kota yang tak dia sebutkan persisnya demi alasan keamanan. “Ibuku Elina, ayahku Andrey, sepupuku seorang (anggota) militer yang aku tidak bisa menyebutkan namanya dan nenekku serta ibu baptisku, semua ada di Ukraina,” ungkap Dana, sapaan akrabnya, kepada Jawa Pos di sela perhelatan Proliga Seri I di GOR Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Rabu (4/1) dua pekan lalu.
Lazimnya perang, situasinya demikian fluktuatif. Dana pun kesulitan memastikan keamanan keluarganya tiap hari. “Rusia menginvasi wilayah kami dan membunuh orang-orang, menghancurkan kota, dan masih berlanjut. Roket terbang ke Ukraina setiap hari. Tapi, di kota tempat orang tua saya berada, syukurlah jarang terjadi penembakan, meski itu juga bukan jaminan,” ungkapnya.
Dana memulai karier profesionalnya di klub Ukraina VK Severodontchanka pada 2012. Terhitung sejak saat itu pula karier membawanya bertualang ke sepuluh negara di Eropa, Asia, dan Afrika.
Ketika Rusia memulai serangan pada 24 Februari 2022, Dana masih berada di Ukraina. Namun, setelahnya dia harus pergi ke luar negeri. Bukan untuk bermaksud meninggalkan keluarga atau mencari aman sendiri. Tapi demi misi lain. “Saya pergi untuk bermain (voli) karena saya perlu membantu keluarga saya secara finansial,” ujarnya.
Perempuan kelahiran 16 Maret 1992 itu memang menjadi tulang punggung keluarga saat ini. Sebab, di tengah situasi perang, tak banyak yang bisa dilakukan keluarganya selain berlindung dan berdoa.
Dana pergi ke Turki untuk membela Bolu BLD W. Namun, kariernya di sana tak berjalan mulus. Di tengah jalan, klub tersebut mulai mengalami masalah keuangan. Dampaknya, pembayaran untuk pemain yang pernah berkiprah di Filipina bersama klub Santa Lucia Lady Realtors itu tersendat.
Karena itu, Dana memutuskan untuk mengakhiri kontrak dengan kesepakatan bersama. “Kami dengan cepat menyelesaikan semua masalah,” ucapnya.
Setelah itu barulah Dana mendapat tawaran dari Gresik Petrokimia dan menyetujui untuk membela tim asal Kota Pudak tersebut di Proliga musim 2023. Sebelum mendarat di sini, Dana mengaku tahu sedikit tentang bola voli Indonesia.
Informasinya datang dari beberapa rekan bermainnya yang pernah berkarier di sini. “Mereka berbicara sangat baik tentang Indonesia, kejuaraan, dan orang-orang di sini. Jadi, begitu mendapat tawaran, saya segera setuju untuk segera datang ke sini,” ujarnya.
Dana juga tahu sedikit tentang tim Gresik Petrokimia. Sebelum kejuaraan, manajemen tim disebutnya sudah memberi tahu kepadanya apa yang dilakukan perusahaan. Dia juga tahu bahwa tim yang akan dia bela menduduki posisi runner-up musim lalu.
Dan, informasi yang pernah dia dapat tentang Indonesia ternyata benar. Di sini dia merasa banyak penggemar yang setia mendukung dan membuat jalannya pertandingan begitu menarik. Sejauh ini performa Dana bersama Gresik Petrokimia juga lumayan, mencatat dua kali menang dan dua kali kalah.
Karena itu, Dana berani mencanangkan target tertinggi. “Saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk mencapai hasil tertinggi,” tegas mantan pemain klub Turki Al Ahly SC tersebut.
Target yang tidak mudah untuk dikejar tentu saja. Apalagi, Dana dituntut memisahkan benar konsentrasi untuk klub dan keluarga, sesuatu yang diakuinya sangat sulit.
Berat, tapi tuntutan profesionalisme harus tetap dia jaga. Begitu menginjak lapangan untuk latihan atau pertandingan, Dana berkonsentrasi penuh untuk tim dan lawan yang dihadapi. “Masuk ke lapangan, meninggalkan semua masalah di belakang dan selama dua sampai tiga jam saya sepenuhnya dengan bola voli,” katanya.
Untungnya, seluruh penggawa tim begitu baik dan menyambutnya dengan tangan terbuka. “Mereka juga bekerja sangat keras di setiap latihan dan mereka siap untuk belajar hal baru serta terbuka untuk saran,” paparnya.
Ketika nantinya Proliga berakhir, Dana tahu harus ke mana: pulang, menengok keluarga di Ukraina. “Ukraina rumah saya, saya akan selalu kembali ke sana. I love Ukraine,” ucapnya. (*/c9/ttg/jpg)


