NUNUKAN – Kemunculan anak-anak buaya di sejumlah sungai di Kecamatan Nunukan Selatan, khususnya di Desa Mamolok, Tanjung Harapan dan Sei Lancang, membuat masyarakat resah.
Mayoritas warga pesisir memanfaatkan sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Baik itu untuk mencuci tali pengikat rumput laut, lalu lintas perahu dan sejumlah keperluan lain.
“Setiap air sungai kering bisa dilihat adanya anak buaya bermunculan dan berjemur. Tolong ini disikapi serius, karena mengancam keselamatan warga,” ucap salah seorang warga Kamaruddin, Minggu (6/3).
Menurut Kamaruddin, setiap harinya anak buaya terlihat dan seakan kian banyak. Jika anak buaya demikian banyak dengan ukurang setengah meter, tentu induknya juga berada di sekitar sungai. Sungai yang sejatinya menopang ekonomi warga pesisir di Mamolok dan sekitarnya, telah menjadi habitat buaya.
“Kejadian orang dimangsa atau diserang buaya bukan jarang. Sejak 2020, ada pencuci tali pabettang (pengikat rumput laut) meninggal. Belum lagi ada anak-anak yang juga meninggal diseret buaya masuk ke dalam sungai,” ungkapnya.
Jika dicermati, habitat buaya semakin banyak dan menjadi ancaman serius bagi warga. Diharapkan pemerintah daerah memberikan solusi atau berkoordinasi dengan lembaga yang kompeten. Untuk penanganan predator ganas air tersebut.
“Pernah Kades sampaikan fenomena buaya, saat ada kunjungan Pemprov Kaltara. Tapi tidak ada tindaklanjut sampai saat ini,” sesalnya.
Masyarakat pesisir berharap ada langkah tegas dan terarah. Seperti pembuatan penangkaran buaya. Para petugas pelindung satwa dilibatkan untuk menangkap buaya, lalu ditempatkan dalam satu kolam.
“Kalau ada penangkaran, setidaknya potensi bahaya jauh berkurang. Saya melihat hampir semua sungai di Nunukan dihuni buaya. Jangan menunggu ada korban baru sibuk dan setelah itu kembali lagi tidak ada tindakan lebih lanjut,” kata Kamaruddin. (kn-2)


