TANJUNG SELOR – Angka stunting di Kabupaten Bulungan berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tercatat 22,9 persen.
Angka tersebut terendah kedua dibandingkan KTT yang hanya 22,8 persen. Ketiga kabupaten dan kota lainnya, Kabupaten Nunukan (30 persen), Kota Tarakan (25,9 persen) dan Malinau 24,2 persen. Dikatakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan Imam Sujono, Pemkab Bulungan telah melakukan sejumlah upaya pencegahan stunting.
Pencegahan dibagi berbagai klaster. Mencakup klaster pendidikan, kesehatan, pertanian dan sosial. Sebelumnya, pencegahan sebagian besar berada di Dinkes. Akan tetapi, perkembangan yang ada saat ini sudah dibagi sesuai tupoksi masing-masing.
“Dalam pencegahan, kita melakukan rembuk stunting di tingkat kabupaten, hingga kecamatan dan desa,” jelasnya, Jumat (3/6). Kecamatan yang jadi perhatian di Kabupaten Bulungan yakni Sekatak.
Kecamatan Sekatak memiliki persoalan yang kompleks. Bahkan sudah terjadi pernikahan dini. “Memang beberapa kecamatan lain juga ada. Tetapi Kecamatan Sekatak itu masih tinggi untuk pernikahan dini. Kita harus memantau dan memberikan pemahaman,” ungkapnya.
Diakuinya, persoalan pernikahan dini di Sekatak merupakan adat istiadat. Sehingga sulit untuk disosialisasikan, karena telah turun temurun. Dinkes bekerjasama dengan Kemenag Bulungan, untuk memberikan pemahaman terkait pernikahan dini.
Terdapat anak umur 12 tahun dan 14 tahun yang sudah menikah. Menurut dia, itu merupakan perencanaan keluarga yang keliru. Ke depan, akan dilakukan pendampingan dari pemerintah. Dengan harapan bisa mencegah stunting yang diakibatkan adanya pernikahan dini. Khususnya dari segi kesehatan, Dinkes melakukan pendampingan pranikah-pranikah bagi calon pengantin. (kn-2)


